Minggu, 24 Oktober 21

Kursi Gubernur DKI Jadi Batu Loncatan ke Presiden

Kursi Gubernur DKI Jadi Batu Loncatan ke Presiden
* Presiden Jokowi bersama Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok dan Wakil Presiden Jusuf Kalla.

Keberhasilan Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) terpilih menjadi Presiden RI pada Pilpres 2014, membuat kursi Gubernur DKI paling prestisius dibandingkan gubernur-gubernur lainnya. Yusril Ihza Mahendra berambisi ingin menjadi Gubernur DKI, lalu akan ikut bertarung di Pilpres 2019. Sementara itu Basuki Tjahaja Purnama santer disebut-sebut bakal digaet Jokowi sebagai cawapres, apabila terpilih kembali menjadi Gubernur DKI.

Kursi DKI-1 menjadi rebutan sejumlah tokoh, karena bisa dijadikan batu loncatan untuk maju menjadi calon presiden (capres) atau calon wakil presiden (cawapres). Mereka terinspirasi oleh Jokowi yang saat menjabat Gubernur DKI ikut berlaga di Pilpres 2014 dan berhasil meraih kemenangan.

Sejumlah tokoh disebut-sebut bakal meramaikan bursa calon wakil gubernur (cawagub) pada Pilkada DKI yang akan digelar pada Februari 2017. Antara lain Gubernur DKI petahana Ahok, Ketua Umum Partai Bulan Bintang (PBB) Yusril Ihza Mahendra, Wali Kota Bandung Ridwan Kamil, Ketua Partai Persatuan Pembangunan (PPP) DKI Abraham Lunggana atau Lulung, Sekretaris Jenderal (Sekjen) Gerindra Ahmad Muzani, politisi Gerindra Sandiaga Uno, Ketua Kwartir Nasional Pramuka Adhyaksa Dault, dan musisi Ahmad Dhani. (Baca: Ormas Tommy Soeharto Nilai Ahok Tak Terbendung di Pilkada DKI)

Himpunan Masyarakat Peduli Indonesia (HMPI) memprediksi Pilkada DKI bakal menjadi pertarungan seru antara Yusril, Ridwan Kamil, dan Ahok. Yusril ingin menjadi Gubernur DKI, lalu berencana mengikuti Pilpres 2019. Mantan Menteri Hukum dan HAM ini belum memutuskan apakah akan maju melalui jalur partai atau jalur independen. Dia gencar melobi beberapa partai, dan berencana mengumpulkan sejuta KTP mulai Maret 2016. Ditargetkan sejuta KTP tercapai dealam empat bulan. (Baca: Ahok Tantang Majukan April, Dapat Sejuta KTP)

Sementara itu Ridwan Kamil diminati Gerinda dan PKS. Namun, sejauh ini Kamil belum menyatakan sikap apakah akan ikut bertarung atau tidak di Pilkada DKI 2017. Ia akan menentukan sikapnya pada Senin (29/2).

Berbeda dengan Kamil, Ahok sejak 2015 mengungkapkan keinginannya maju lewat jalur independen dengan dukungan dari relawan Teman Ahok yang mengumpulkan sejuta KTP. Pada Januari 2016 Nasdem mendeklarasikan dukungannya tanpa syarat kepada Ahok, yakni Ahok dipersilakan maju melalui jalur independen. (Baca: Ahok Ungkapkan Bergabung dengan PDI-P)

Selain itu PDI-P juga berminat mengusungnya. Tetapi, kata Ahok, PDI-P tak mau mendukung Teman Ahok karena mampu mengusung calon sendiri. Atau dengan kata lain PDI-P menginginkan Ahok maju lewat jalur partai. (Baca: Ini Tanggapan Teman Ahok tentang Wacana PDI-P Usung Ahok)

Ahok hingga kini belum memutuskan apakah akan maju lewat jalur independen atau jalur partai. (Baca: Didukung PDI-P, Ahok Siap Diduetkan dengan Djarot Lagi)

Menurut Sekjen HMPI Tri Joko Susilo, tak masalah Ahok apakah akan maju lewat jalur independen atau jalur partai. “Lewat jalur partai atau jalur independen Ahok itu tak terbendung. Sulit mengalahkan dia,” kata Tri melalui WhatsApp kepada Obsessionnews.com, Minggu (28/2). (Baca: Jakarta Butuh Sosok Pemberani Seperti Ahok)

Sekjen organisasi kemasyarakatan (ormas) besutan Tommy Soeharto itu menambahkan, jika Ahok kembali terpilih menjadi gubernur dia bakal dilirik oleh Jokowi untuk cawapres pada Pilpres 2019. Ahok adalah pasangan Jokowi pada Pilkada 2012. Setelah Jokowi menjadi Presiden RI, Ahok naik kelas menjadi Gubernur DKI. Ahok dilantik oleh Presiden Jokowi di Istana Negara pada 19 November 2014. (Baca: Duet Ahok-Samad Bikin Ngeri Koruptor)

Dalam pengamatan Tri, partai-partai yang keras menolak Ahok berusaha menjegal Ahok agar tidak mendapat tiket Pilkada DKI. Partai-partai itu berupaya mencari sejumlah kelemahan Ahok. (Baca: Dukungan Untuk Ahmad (Ahok-Samad) Terus Mengalir dari Netizen)

Terlepas dari upaya penjegalan terhadap Ahok itu, Tri menilai Ahok hampir pasti menang. “Karena masyarakat pada umumnya melihat ‘kagak ade lagi yang sekeras Ahok’ dalam menata Jakarta,” tuturnya. (arh)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.