Rabu, 27 Oktober 21

Kritik atas Paket Kebijakan Pemerintah untuk Kuatkan Kurs

Kritik atas Paket Kebijakan Pemerintah untuk Kuatkan Kurs

Jakarta, Obsessionnews – Pemerintah Indonesia, melalui, menteri-menteri bidang ekonominya, beberapa hari lalu telah mengeluarkan paket kebijakan untuk memperkuat kurs rupiah terhadap dollar AS. Peneliti Lingkar Studi Perjuangan (LSP) Gede Sandra memiliki sejumlah kritik terhadap paket kebijakan tersebut,

“Kebijakan pertama. Insentif tax allowance untuk perusahaan yang menginvestasikan dividen di Indonesia memang tepat demi memperkuat kurs, tapi sifatnya jangka panjang. Sedangkan pemberlakuan insentif PPN industri galangan kapal juga baik, tapi dampaknya kecil,” kata Gede Sandra kepada Obsessionnews.com, Jumat (20/3/2015).

Kebijakan kedua, jelas Gede, bea masuk anti dumping sementara dan bea masuk tindak pengamanan sementara terhadap produk impor yang unfair trade memang membantu penguatan kurs, tapi yang lebih penting adalah bagaimana penyelundupan barang China dapat dicegah.

“Kebijakan ketiga. Pembebasan visa kunjungan singkat kepada wisatawan juga sangat membantu penguatan kurs, tapi tentu harus dibarengi pengetatan pengawasan terhadap potensi meningkatnya penyelundupan narkoba,” tandas Alumnus ITB.

Kebijakan keempat, lanjutnya, penggunaan biofuel juga baik untuk penguatan kurs, hanya sifatnya jangka panjang dan sangat tergantung kebijakan pricing pemerintah agar menarik- apalagi di tengah dinamika rendahnya harga minyak mentah dewasa ini.

Sedangkan kebijakan kelima, adalah kewajiban penggunaan LC (letter of credit) untuk produk SDA (sumber daya alam) juga bagus untuk penguatan kurs, karena memang kebanyakan transaksi perdagangan SDA kita menggunakan perbankan asing,”

“Kebijakan keenam. Restrukturisasi asuransi domestik adalah masalah yang tidak terlalu berhubungan dengan penguatan kurs, meskipun memang kebijakan yang baik,” tandasnya.

Kesimpulannya, menurut Gede, paket kebijakan ekonomi pemerintah untuk penguatan kurs ini bukanlah langkah yang bersifat terobosan. Sifat dari paket kebijakan ini adalah parsial, sektoral, dan terlalu jangka panjang. Sementara untuk saat ini lebih diperlukan langkah-langkah yang lebih bersifat jangka pendek.

“Apalagi besar kemungkinan Bank Sentral Amerika (The FED) akan menaikkan suku bunga acuannya dalam waktu dekat, beberapa bulan lagi. Jika karena langkah yang tidak tepat ini akhirnya bulan depan kurs semakin melemah ke Rp14ribu, dapat dipastikan sektor swasta Indonesia akan menjerit- karena kredit mereka yang kebanyakan dalam dollar,” tegas master ekonomi dari UI ini. (Ars)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.