Selasa, 24 Mei 22

Kritik Antara Reshuffle, Wiranto, Sri Mulyani dan Ahok

Kritik Antara Reshuffle, Wiranto, Sri Mulyani dan Ahok
* Djoko Edhi S Abdurahman. (ist)

Jakarta, obsessionnews.com – Reshuffle kabinet kerja jilid II, telah dilakukan Presiden Joko Widodo di Istana‎ Negara, Jakarta, Rabu (27/7) lalu. Ada hal yang menarik dari nama-nama yang diangkat Presiden untuk menjadi menteri pembantunya.

Hal ini dianalisa dan dikupas oleh Djoko Edhi S Abdurahman, mantan anggota DPR RI periode 2004-2009, yang saat ini sangat intens mengeritisi pemeritahan di bawah Joko Widodo dan Jusuf Kala.

Dari catatan yang dikemukakannya. Djoko mencoba tidak terlalu melebar siapa dan mengapa dari seluruh nama para pembantu Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang diangkat, namun hanya sebatas kritik.

Menurut Djoko, naiknya Wiranto jadi Menkopolhukam memastikan Ahok menang pada Pilgub yang akan berlangsung di ibukota DKI Jakarta 2017 mendatang. Mengapa begitu? sebab, ini adalah test pertama hoaqiau mencoba menjadi penguasa politik Indonesia, setelah menjadi penguasa ekonomi Indonesia. Yaitu 80% lebih.

Jika Ahok mampu menerobos sistem politik menjadi penguasa, maka sah-lah secara faktual, hoaqiau menjadi bagian utama pemimpin politik nasional. Pertandingan pindah ke perebutan singgasana RI-1 tahun 2019. Hoaqiau mulai naik ke gelanggang politik sejak UUD 2002-UUD 1945 yang telah diamandemen, memberi peluang dimana: kata asli telah dihapuskan sehingga hak hoaqiau sama persis dengan pribumi.

Ternyata Ahok saat ini menyatakan maju menjadi Gubenrur DKI Jakarta dari jalur semua parpol. Sementara dari catatan Djoko, apabila semua mendukung Ahok, pilkada batal karena cuma ada satu paslon. Ini cara taktis parpol untuk menolak Cina menjadi penguasa politik. Ambil duitnya, dan dukung penuh.

Parpol memang tak punya cara lain, karena Ahok sangat kuat. Ahok didukung Presiden Jokowi, Nine Swords-9 naga, didukung hoaqiau (diaspora Cina), didukung jaringan bisnis Cina internasional-WOCE, dan jaringan bisnis regional-WCEC, didukung pemimpin militer dan polisi, juga didukung jaringan preman. Yang terpenting, adalah dukungan politik OBOR (on belt on road one china) dari penguasa Beijing. Plusnya, didukung PB GP Ansor.

Kenapa reshufle ini menyasar ke Ahok. Menurut catatan Djoko, Indonesia adalah negara terbanyak menampung hoaqiau (china overseas, diaspora cina). Yaitu 7,9 juta tahun 2009. Pernyataan resmi ABRI Januari 1998, hoaqiau yang tergabung di 166 perusahaan Taipan, menguasai 82% kekayaan negara dan 64% PDB. Hanya ada belasan dari situ yang pribumi.

Djoko juga ingin sedikit rewind masa orba-di bawah Pemerintahan Soeharto, hubungan diplomatik Indonesia dengan RRC terputus sejak 1965 karena keterlibatannya dalam G30S PKI. Sehingga hoaqiau tak dapat dimanfaatkan dalam politik praktis.

Perubahan iklim politik sejak reformasi telah memulihkan hubungan RI – RRC, dengan demikian Cina daratan terintegrasi langsung dengan hoaqiau. Praktis Hoaqiau menjadi ujung tombak Tiongkok dalam proxy maupun asimetris.

Dalam hal itu kepentingan penguasa Beijing untuk menjadikan Ahok sebagai penguasa politik Indonesia. Ditambah lagi Setya Novanto yang juga hoaqiau, juga telah mengumumkan Jokowi menjadi calon presiden di tahun 2019. Test casenya, adalah apabila Ahok berhasil menjadi gubernur DKI Jakarta. Maka siap untuk mendampingi jadi wapresnya.

Menurutnya, penguasa Beijing akan habis-habisan untuk menjadikan Ahok sebagai jalan masuk ke singgasana RI satu. Itu sejak keberhasilan Presiden China menggiring Presiden Jokowi mendirikan AIIB (Asia Infrastructure Investment Bank) 24 Oktober 2014, atau lima bulan sejak Jokowi berkuasa. Dari pemimpin AIIB, yakni Xi mengabulkan permintaan Jokowi untuk mendanai proyek infrastruktur yang dijanjikan Jokowi dalam kampanye pilpres. Yaitu sebasar Rp 520 triliun.

Sementara AIIB, kata Djoko, adalah bank kreditur ketiga yang diinisiasi Tiongkok setelah BRICKS (Afrika) dan Bromcho Del Sur (Amerka Latin) sebagai perlawanan terhadap lembaga keuangan Barat (IMF, ADB, World Bank). Bagi Tiongkok, hoaqiau Indonesia adalah bagian penting dalam politik OBOR di mana Tiongkok menganut azas Ius Sanguinis (warga negara berdasarkan keturunan), praktis diaspora Cina adalah warga negara RRC.

Sementara hubungan RI – RRC yang menghangat itu, telah menjadikan harapan bagi hoaqiau, dan kegiatan ekonomi juga politik ke RRC menaik pesat. Ini dipicu pula oleh peran Tiongkok yang menjadi pusat pertumbuhan ekonomi dunia 10 tahun terakhir. Tepatnya sejak Amerika dilanda krisis ekonomi sejak 2008. Ditambah lagi akhir tahun lalu, yuan berjasil masuk ke special drawing rights, menjadi Renmimbi, mata uang resmi dunia setelah USD dan Euro.

Jadi, sekali lagi Tiongkok menjadi pahlawan untuk menghadapi gempuran nilai tukar USD dan terbukti serangan nilai tukar ke pasar modal Shanghai 6, 7, 8 Agustus 2015, tak membuat Tiongkok collaps.

Kini dana besar Asia disimpan dalam renmimbi. Dengan itu, taper tantrum yang lebih dikenal sebagai senjata glolal Amerika tidak signifikan. Serangan nilai tukar ke Pasar Modal Shanghai itu, walaupun membuat Rp 36 ribu triliun menguap dalam 3 hari. Tapi sekalipun utang RRC 280% dari PDB nya. Itu hanya memperlambat ekonomi RRC dari 7,4% menjadi 6,7% realisasi tahun 2015.

Sehingga, lanjutnya,  serangan ke pasar modal Shanghai itu sebelum renmimbi. Sekarang RRC jauh lebih kuat, dan yang menangguk keuntungan besar adalah hoaqiau Indonesia. Bisnis ke Amerika dan Eropa nyaris tak berarti, Tiongkok menjadi penyumbang devisa terbesar dari ekspor indonesia ke sana.

Memang, fenomena hubungan RI – RRC itu secara politik telah meresahkan banyak pihak. Ahok naik daun, Setnov jadi penguasa Golkar, Taipan menguasai 80% ekonomi nasional, namun banyak hal yang misterius dalam hubungan itu.

Menurutnya, yang banyak beroleh perhatian adalah menyeberangnya politik Presiden Jokowi ke China yang dianggap oleh Barat sebagai pengkhianatan. Sebelumnya, Presiden SBY berkiblat ke Barat, begitu pula rezim Orba (orde baru).

Kondisi ini, ungkapnya, yang mula-mula resah adalah TNI AD. Mereka memunculkan issu PKI dan berteberan kaos palu arit di mana-mana. Ini menggempur hubungan RI – RRC. Tentu saja Barat tak tinggal diam, lapaknya diambil oleh RRC. Di situlah letak makna kehadiran Sri Mulyani menjadi Menkeu.

Hal yang cukup merumitkan kondisi Indonesia adalah kehadiran tenaga kerja RRC akibat kerjasama itu, menjadi masalah dan dimunculkan sebagai sentral issu komunisme.

Saat inu Jokowi butuh 3 ribu triliun untuk membiayai infrastruktur yang ia janjikan di Pilpres. Itu telah dijanjikan Xi-petinggi AIIB waktu presentasi di Beijing, dan awal disetujui Rp 520 trilun tadi.

Untuk komitmen tersebut, jelasnya, Jokowi menyerang keuangan barat di KAA Bandung 2014. Yang tidak diperhitungkan oleh Jokowi adalah kekuatan barat. Ia main hantam yang membuat IMF, ADB, dan World Bank gusar.

Padahal, mestinya Jokowi tahu. Pada Oktober 2014, Barat rame-rame masuk AIIB. Mula-mula Perancis, disusul Inggris, lalu seluruh Eropa membeli saham AIIB. Bahkan Christian Laggarde, direktur IMF menyatakan IMF masuk AIIB disusul ADB.

Yang tidak masuk cuma WB dan Amerika. Akibatnya, saham Xi menciut dan tak lagi mayoritas. Dengan itu, Xi tidak lagi signifikan untk menentukan kebijakan AIIB, termasuk membantu Jokowi. Laporan dari Menkeu Bambang dua pekan lalu, investasi itu cuma cair 10%.

Tentunya, ungkapnya gagal di China, Barat kadung ngambek, Jokowi kepepet. Tak ada jalan lain kecuali menerima Sri Mulyani sebagai orangnya IMF, ADB, dan World Bank. (Red)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.