Rabu, 5 Oktober 22

Krisis Makin Buruk, Perdana Menteri Mundur!

Krisis Makin Buruk, Perdana Menteri Mundur!
* PM Mahinda Rajapaksa, mengundurkan diri. (AFP/CNN)

Perdana Menteri (PM) Sri Lanka Mahinda Rajapaksa mengundurkan diri di tengah krisis ekonomi yang semakin memburuk dan memicu kerusuhan besar di negara tersebut.

“Perdana menteri sudah mengirimkan surat pengunduran dirinya ke presiden,” ujar seorang pejabat Sri Lanka kepada Reuters.

Meski demikian, belum ada keterangan resmi, baik dari Mahinda maupun Presiden Gotabaya Rajapaksa.

Mahinda sendiri merupakan adik kandung Gotabaya. Sejumlah pihak, termasuk demonstran dan anggota parlemen dari partai berkuasa, sudah mendesak Mahinda untuk mundur sejak krisis mulai membara bulan lalu.

Mahinda sempat menolak dengan dalih ia mengantongi dukungan parlemen pada akhir April lalu. Saat itu, ia menegaskan tak akan mengundurkan diri meski desakan warga kian besar.

“Mayoritas anggota parlemen menginginkan saya. Mungkin ada beberapa yang ingin saya mundur. Orang harus sabar mengatasi krisis ini,” ujar Mahinda akhir April lalu.

Ia kemudian menegaskan, “Tak mungkin ada pemerintahan sementara tanpa saya sebagai perdana menteri.”

Namun, masyarakat dan sejumlah anggota parlemen terus menuntut Mahinda mengundurkan diri. Tuntutan itu semakin nyaring setelah salah satu demonstran, Chamida Lakshan, tewas akibat tembakan polisi.

Salah satu mantan pendukung setia Gotabaya yang juga anggota parlemen Sri Lanka, Nalaka Godahewa, mengatakan bahwa presiden harus memecat perdana menteri.

Menurut dia, pemerintah kehilangan kredibilitasnya usai polisi menembak salah satu pedemo itu.

“Kita harus memulihkan stabilitas politik agar berhasil melewati krisis ekonomi ini. Seluruh kabinet, termasuk perdana menteri, harus mengundurkan diri. [harus ada] Kabinet sementara yang bisa memenangkan kepercayaan semua pihak,” ucap dia.

Beberapa anggota senior partai penguasa lain, termasuk mantan Menteri Media dan Juru Bicara Kabinet, Dullas Alahapperuma, juga meminta PM mundur.

“Saya mendesak presiden untuk menunjuk kabinet kecil dengan konsensus sesungguhnya yang menghadirkan semua partai di parlemen [untuk menjalankan roda pemerintahan] maksimal selama satu tahun,” ujar Alahapperuma.

Perombakan kabinet ini dianggap penting di tengah krisis ekonomi akut yang mencekik Sri Lanka. Krisis itu kian buruk akibat pandemi Covid-19. (CNNIndonesia/Red)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.