Sabtu, 4 Desember 21

Krisis Listrik dan Sinyal, Warga Pedalaman Kalbar Resah

Krisis Listrik dan Sinyal, Warga Pedalaman Kalbar Resah
* Adrianus Asia Sidot

Landak, Obsessionnews – Selain permasalahan infrastruktur dan sarana umum seperti perbaikan jalan, jembatan, bangunan sekolah dan kualitas pendidikan, serta pemerataan dan kualitas kesehatan yang menjadi kewajiban pemetintah daerah dalam mememnuhi hak masyarakat, ternyata kebutuhan Listrik dan Sinyal Seluler dianggap sangat penting bagi kehidupan masyarakat desa di beberapa daerah pedalaman yang ada di Kalimantan Barat (Kalbar).

Kebutuhan listrik sebagai penerangan dalam berbagai kebutuhan masyarakat untuk pemenuhan kehidupan, Sinyal telekomnikasi juga sangat penting karena diera modern ini warga desa sudah terbiasa mengunakan Hand Phone (HP) sebagai alat komunikasi yang praktis dan mudah karena nilainya yang murah dan kebutuhan itu lah yang mengharuskan mereka memakainya.

“Mengingat akses jaringan telekomunikasi untuk saat ini juga merupakan satu diantara kebutuhan mendasar, baik itu sebagai penerima informasi atau pun memberi informasi jika ada hal-hal penting,” kata Raimundus, Warga Desa di Kecamatan Air Besar Kabupaten Landak kepada obsessionnews.com,  Jumat (10/4/2015).

Menurutnya, permasalahan krisis listrik dan jaringan sinyal telekomunikasi sudah pernah ia sampaikan kepada Bupati Kabupaten Landak beberapa waktu lalu saat kunjungan ke desanya. Ia pun berharap agar pemerintah daerah membangun tower jaringan, agar bisa dinikmati masyarakat di desanya.

Selain sulitnya mencari sinyal telekomunikasi, krisis listrik pun sering dialami warga yang tingga di desa Parek Kecamatan Air Besar. Krisis listrik pun sudah lama berlangsung dan dialami masyarakat. “Gardu pembangkit listrik sudah ada dibangun pemerintah daerah, tetapi permasalahannya listirk sering mati bahkan dalam satu hari bisa 3 sampai 7 kali mati,” ungkapnya kepada obsessionnews.com, Jumat (10/4).

“Sinyal kadang-kadang didapat di daerah tinggi seperti perbukitan, kita biasanya melakukan komunikasi kepada kerabat keluarga harus berjalan menuju perbukitan, dan jaraknya lumayan jauh sekitar 3-5 Km, belum lagi cuaca buruk terjadi seperti hujan deras dan angin puting beliung,” ujar seorang guru desa tersebut.

Ahmadi, seorang petugas puskesmas di Kecamatan Singkup Kabupaten Ketapang merasakan hal serupa, saat dijumpai obsessionnews.com di Kota Pontianak. Ia mengatakan, sangat kesulitan dengan krisis listrik dan sinyal telekomunikai yang dianggapnya sangat penting. Seluruh Desa di Kecamatan Singkup Kabupaten Ketapang yang notabenenya mengantungkan hidup mereka pada perkebunan sawit sudah melakukan inisiasi secara swadaya masyarakat tentang pembangkit listrik baik itu tenaga diesel maupu pemamfaatan arus tenaga air.

“Listrik yang berasal dari tekanan air yang dilakukan secara swadaya oleh masyarkat setempat dimulai sejak tahun 2008, kalau tenaga diesel setiap warga patungan per bulan sebesar Rp50.000, dan masih terbatas hanya malam saja bisa menikmati listrik,” terangnya.

Menurut dia, perhatian pemerintah daerah dan pihak perusahaan sawit didaerahnya melalui corporate social responsibility (CSR) sangat diharapkan dapat membantu dibangunnya pembangkit listrik dan tower sinyal telekomunikasi yang memadai. “Karena telekomunikasi dan listrik adalah dua bagian terpenting dalam kehidupan masyarakat sekarang ini,” harapnya. (Saufi)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.