Selasa, 28 September 21

Krisis Energi, Indonesia Harus Gunakan Nuklir?

Krisis Energi, Indonesia Harus Gunakan Nuklir?

Jakarta, Obsessionnews – Bukan isapan jempol kalau Indonesia sudah memasuki fase krisis energi. Makanya perlu segera dicari sumber alternatif lain pengganti energi fosil. Nuklir pun mulai dilirik. Tapi apa sudah tepat ?

Menurut data yang dimiliki pengamat energi Yusrin Usman, persediaan energi fosil yang ada di negeri ini hanya tersisa 3,5 milyar sampai 4 milyar barel saja. Dengan asumsi lifting 800 ribu barel perhari, stok cuma tinggal 12 tahun lagi dan diperkirakan habis pada 2027 mendatang.

Melihat kondisi tersebut, pemerintah mulai melirik penggunaan energi nuklir terutama bagi pembangkit listrik. Kepala Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) Djarot Sulistio Wisnubroto menilai, Indonesia sudah siap membangun pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) guna mencapai swasembada di bidang setrum sebesar 35 ribu megawatt.

Hingga saat ini, diperkirakan terdapat 436 reaktor nuklir di seluruh dunia. Sebanyak 45 reaktor telah masuk tahap pembangunan, 131 sedang direncanakan, dan 282 masih dalam tahap pengajuan. Sementara Amerika Serikat, masih berada di posisi puncak dalam hal kepemilikan reaktor nuklir yang mencapai 104 unit.

Sekedar catatan, 15% kebutuhan listrik dunia disuplay dari PLTN. Sebagian besar terdapat di benua Amerika, Eropa, serta Jepang, Korea dan Cina.

Cina, India, Pakistan, Malaysia dan Vietnam pun telah menyatakan kesiapannya bersaing menghadapi Jepang dalam hal persiapan PLTN berskala besar.

Belajar Dari Jepang
Pembangunan PLTN jelas ada resikonya. Pada Maret 2011 lalu, PLTN Fukushima gagal beroperasi lantaran tsunami serta gempa bumi ditambah kegagalan sistem pendingin. Pemerintah Sakura pun mengumumkan pernyataan darurat bahaya nuklir.

Pernyataan resmi yang dikeluarkan pemerintah Jepang tersebut, merupakan statement pertama soal bahaya nuklir yang dikeluarkan. Sebab, 140 ribu penduduk yang tinggal 20 kilometer dari pembangkit Fukushima terpaksa mengungsi.

Dua bulan kemudian, masih di tahun 2011, Perdana Menteri Jepang Naoto Kan memerintahkan agar PLTN Hamaoka ditutup akibat muncul perkiraan gempa bumi berkekuatan 8.0 skala richter bakal terjadi di kawasan tersebut dalam kurun waktu 30 tahun mendatang. Naoto ingin, bencana nuklir Fukushima tak terjadi lagi.

Chubu Electric sebagai operator PLTN Hamaoka pun menuruti keinginan Naoto. Pada 9 Mei 2011, pembangkit itu resmi ditutup. Pasca penutupan, pemerintah mengeluarkan kebijakan energi yang isinya antara lain mengurangi ketergantungan terhadap nuklir.

Memang, pelan-pelan tragedi Fukushima dituntaskan. Namun tetap saja ada persoalan yang muncul. Pada Juni di tahun yang sama, lebih dari 80% warga Jepang menyatakan sikap anti nuklir bahkan menolak info soal radiasi dari pemerintah. Jajak pendapat yang digelar pasca Fukushima menyebutkan, 54% rakyat mendukung penutupan atau pengurangan jumlah PLTN.

“Selamat tinggal nuklir,” begitu kira-kira teriakkan massa pendemo anti nuklir sambil membagikan selebaran yang isinya himbauan agar pemerintah Jepang meninggalkan energi atom.

Di Jepang sendiri, terdapat 53 unit reaktor dengan persentasi suplay sebanyak 30% kebutuhan listrik dipasok dari PLTN. Memang, sempat ada perkiraan hingga tahun 2030 jumlah tersebut bakal bertambah 16 reaktor lagi. Tapi pasca Fukushima, jumlah kepemilikan reaktor nuklir berkurang drastis. Kini, tinggal 11 PLTN yang masih beroperasi di sana usai diprotes habis-habisan warganya.

Jepang, kini mulai melirik sumber lain untuk memenuhi kebutuhan setrumnya. Sebuah proposal energi baru yang isinya tentang menurunnya kepercayaan publik terhadap keamanan energi nuklir akibat bencana Fukushima, sudah disetujui anggota kabinet pada Oktober 2011. Dipastikan, negara mengurangi ketergantungannya pada atom.

Indonesia Lirik Nuklir Gantikan Fosil
Pada beberapa kesempatan, Kepala Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) Djarot Sulistio Wisnubroto selalu mengatakan kalau yang berbahaya itu adalah senjata nuklir, bukan PLTN. Dan Indonesia, sudah sangat siap membangun serta mengeksploarsi nuklir demi menghasilkan listrik.

Ada beberapa resiko kalau pembangunan PLTN terus tertunda. Pertama, ahli-ahli nuklir Indonesia bakal hijrah ke luar negeri kalau di negaranya sendiri kemampuannya tidak terakomodasi. Selain itu, pasokan bahan baku PLTN dari luar negeri juga bakal terhambat akibat daftar tunggu yang makin panjang.

Beberapa daerah, seperti Bangka Belitung, Banten, Kalimantan Barat dan Kalimantan Timur, disebut-sebut sudah mengajukan kesiapannya sebagai lokasi PLTN. Tapi tetap, kalau pun jadi membangun, daerah yang dipilih harus tidak rawan gempa atau termasuk kawasan gunung merapi.

Program pemanfaatan tenaga nuklir terutama di bidang pembangkit listrik, memerlukan waktu delapan hingga 10 tahun. Jika Indonesia memulai tahun ini, paling tidak 2025 baru bisa menikmati hasilnya.

Dikabarkan, teknologi PLTN saat ini sudah jauh lebih maju ketimbang masa lalu. Aspek keselamatan, ekonomis dan minimalisir limbah sangat diperhatikan dengan hadirnya konsep PLTN generasi IV.

Deputi Infrastruktur Kementerian Koordinator Kemaritiman Ridwan Jamaludin, pernah mengatakan kalau Malaysia tertarik membangun PLTN di kawasan Kalimantan Timur. Namun, ini jelas menguntungkan negeri jiran tersebut karena pembangkit berada di Indonesia.

“Bagi Malaysia menguntungkan. Kalau ada radiasi masuk ke wilayah kita dulu,” kata Ridwan di kantor Kemenko Maritim, pada Selasa (12/5) lalu.

Ridwan menilai, sebaiknya Pemerintah Indonesia yang membangun PLTN. Hasil dari produksi, baru dibagi ke Malaysia. Dengan begitu, resiko bisa ditanggung bersama. Sebab bukan apa-apa, kalau Jiran yang membangun, bakal merugikan Indonesia sendiri. Selain kita kudu membeli pasokan listrik, dampak jika terjadi kerusakan Indonesia-lah yang bakal paling merasakan.

Seperti diketahui, Dewan Energi Nasional sudah memaparkan kalau beberapa negara ASEAN antara lain Vietnam, Malaysia, Singapura dan Filipina bakal membangun PLTN. Namun, menimbang untung ruginya, apa Indonesia juga kudu ikut-ikutan punya PLTN ? (MBJ)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.