Rabu, 25 Mei 22

Krisis Daging Babi, Inflasi China Melonjak

Krisis Daging Babi, Inflasi China Melonjak
* Ilustrasi inflasi China. (Foto: Strategy Desk)

Krisis daging babi yang terjadi di China menimbulkan permasalahan baru. Sebuah data yang dirilis pada Kamis (9/12/2021/, menunjukkan kenaikan harga komoditas pangan itu dalam beberapa waktu terakhir membuat China mencatatkan rekor tertinggi inflasi konsumen pada bulan November 2021.

Indeks harga konsumen (CPI), ukuran utama inflasi ritel, tercatat sebesar 2,3% secara tahunan menurut Biro Statistik Nasional China atau NBS. Angka ini merupakan yang tertinggi sejak Agustus 2020.

Naiknya harga pangan merupakan faktor kunci, dengan harga daging babi terpukul oleh pertumbuhan permintaan konsumsi musiman dan pasokan babi gemuk jangka pendek”, ujar ahli statistik senior NBS kata Dong Liyuan kepada AFP, dikutip Jumat (10/12).

“Pada skala bulanan, harga daging babi naik 12,2%,” tambah Dong.

Kebutuhan daging babi di China sendiri meningkat seiring dengan musim dingin. Ekonom senior China Capital Economics Julian Evans-Pritchard menulis bahwa konsumen cenderung menimbun banyak stok daging babinya dalam musim ini.

“Ada tanda-tanda bahwa pasokan daging babi juga tidak lagi membaik,” ucapnya.

CPI China memang didorong daging babi beberapa tahun terakhir. Sebelumnya daging babi langka dan harga melejit gila-gilaan di 2019 saat penyakit demam babi Afrika memaksa peternak membunuh jutaan babi China dan memangkas stok.

Tak hanya daging babi, kenaikan juga didorong oleh melonjaknya harga sayur mayur. Pada bulan November, harga sayuran tercatat naik tinggi hingga 30,6% bila dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

Ada faktor penting dibalik kenaikan ini. Seorang pedagang daging di Beijing mengaku permintaan sedang naik tajam untuk cuaca dingin yang sedang berlangsung namun pasokan tidak dapat memenuhi hal itu.

Hal yang sama juga disuarakan oleh salah seorang konsumen. Konsumen bermarga Yan mengatakan bahwa dengan musim dingin yang akan datang, banyak keluarga akan membuat bakso babi dan menyimpan daging babi cincang untuk pangsit.

“Ini meningkatkan permintaan,” katanya.

Sebelumnya kenaikan inflasi China dikhawatirkan membawa negara itu ke ancaman “stagflasi”. Pasalnya meski inflasi tinggi, pertumbuhan China melambat.

Mengutip AFP, dalam sebuah pertemuan virtual dengan Perdana Menteri China Li Keqiang Senin (6/12), Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva mengatakan bahwa perlambatan ini terjadi dari segi konsumsi. Bahkan, IMF menurunkan perkiraannya untuk pertumbuhan China ke level 5,6% pada tahun depan. (CNBC/Red)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.