Minggu, 27 September 20

Krisis Corona: Dunia Kembali ke Depresi 1930

Krisis Corona: Dunia Kembali ke Depresi 1930
* Hendrajit. (Foto: dok. pribadi)

Oleh: Hendrajit, Pengkaji Geopolitik, dan Direktur Eksekutif Global Future Institute

KEDALAMAN krisis ekonomi semakin terlihat jelas, jauh sebelum virus corona gempuran ekonomi dirasakan pada sektor perdagangan. Tahun 2018 merupakan tahun dinobatkannya defisit neraca perdagangan terbesar sepanjang sejarah.

Kala itu neraca dagang jebol US$8,5 miliar, terjadi penurunan tajam dari sisi ekspor. Belum selesai dengan defisit perdagangan, indikator lain menunjukkan adanya pertumbuhan ekonomi yang loyo, hanya flat di kisaran 5%, jauh di bawah janji rata-rata si empunya Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN), yakni 7%. Inflasi rendah, tapi diapresiasi sebagai sebuah keberhasilan.

Padahal semua tahu, inflasi yang rendah merupakan pertanda buruk kalau asalnya dari pelemahan sisi permintaan. Analisis ini mendapat banyak bantahan dari sudut ekonom pro-istana.

Tahun 2018 semua fokus pada hiruk-pikuk persiapan kampanye Pilpres 2019, sulit menyadarkan para politisi bahwa ada guncangan besar yang akan terjadi pada tahun 2020. Kepala yang saling beradu di meja debat dipenuhi kebebalan nyata. Bahkan persoalan resesi ekonomi tak mendapatkan tempat di meja debat.

Ada dan tidak adanya virus corona, resesi pasti terjadi tahun 2020. Pertanyaan debat Presiden selalu membosankan dan tidak menyentuh akar masalah. Kalau tak terpaksa buat komentar di media menanggapi debat membosankan itu, saya akan segera matikan TV karena hanya buang-buang waktu.

Halaman selanjutnya

Pages: 1 2 3 4 5 6 7

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.