Kamis, 22 Agustus 19

KPK Tangkap Istri Bupati Karawang, Bukan Tim Prabowo?

KPK Tangkap Istri Bupati Karawang, Bukan Tim Prabowo?

Jakarta – Ternyata, satu dari lima orang yang ditangkap dalam sebuah operasi tangkap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pada Kamis (17/7) siang, diduga adalah Hj. Nurlatifah, istri Bupati Karawang, Ade Swara. Bukan Tim Prabowo-Hatta sebagaimana diisukan di media sosial. Eks Caleg DPRD Kabupaten Karawang ini ditangkap di rumahnya, Karawang, karena diduga melakukan transaksi suap menyuap.

“Jadi yang benar ada lima orang yang ditangkap itu, kini kita sudah amankan di gedung KPK,” ujar Juru Bicara KPK, Johan Budi SP saat menggelar jumpa pers di kantornya, Jakarta, Jumat (18/7/2014) dini hari.

Johan belum mau menjelaskaan identitas kelima pelaku, karena pihaknya masih melakukan pengejaran terhadap beberapa orang yang belum berhasil ditangkap. Termasuk Bupati Karawang yang disebut berhasil lolos dari kejaran penyidik. “Ini belum bisa dijelaskan dulu karena masih ada hal-hal yang belum bisa dibuka, sambil kita menunggu perkembangan,” katanya

Peristiwa OTT ini sudah dilakukan sejak pukul 13.00 WIB. Sasaran pertama di rumah Ade Swara. Di tempat itu KPK menangkap 2 orang termasuk salah satu keluarga Bupati. Baru menjelang malam, OTT dilanjutkan di sebuah mall di Karawang kali ini tiga orang yang diduga dari pihak swasta diamankan. “Jadi semuanya masih berstatus terperiksa, kita akan melakukan pemeriksaan,” tutur Johan.

Bersama kelima pelaku, KPK juga mengamankan barang bukti berupa uang berjumlah miliaran rupiah pecahaan dollar AS. Uang tersebut diduga untuk pengurusan ijin lahan di salah satu lokasi di Karawang.

Sebelumnya pada Kamis (17/7) malam, beredar kabar yang dimuat sejumlah situs online bahwa KPK menangkap tangan beberapa orang dalam kasus suap menyuap terkait Pilpres,  salah satunya pejabat, sehingga membuat heboh jagad dunia maya. Ternyata, diduga yang ditangkap adalah hanya istri Bupati Karawang terkait kasus suap.

Pasalnya, kebetulan inisial Ade Swara adalah “AW” diplintir jadi Arya Sinulingga, Pemimpin Redaksi RCTI yang merupakan tangan kanan bos MNC Group Hary Tanoesoedibjo sebagai tim sukses Capres-Cawapres Prabowo Subianto-Hatta Rajasa (Prabowo-Hatta).

Johan Budi sendiri sudah membantah lima orang yang diamankan pada operasi tangkap tangan (OTT) oleh KPK di Karawang pada Kamis (17/7) malam, terkait pemilu presiden (Pilpres) 2014. “Saya klarifikasi bahwa OTT tidak terkait Pilpres,” kata Jurubicara KPK di kantornya, Kamis malam.

Heboh
Yang bikin heboh, beredarnya kabar di media online tersebut lantas disebarkan berbagai pihak di media sosial dikaitkan dengan isu bahwa Pemimpin Redaksi RCTI, Arya Sinullingga ditangkap KPK pada Kamis (17/7) sore. Bahkan, berita yang telah bertebaran di dunia maya itu dikait-kaitkan dengan Calon Presiden Prabowo Subianto.

Arya pun menyesalkan adanya pemberitaan yang simpang siur tersebut. Apalagi kabar tidak benar itu juga disebarkan oleh sejumlah pemilik akun di media sosial. “Sehubungan soal isu tangkap tangan di media online dan media sosial serta dikaitkan dengan pilpres, itu tidak benar,” tegas Arya saat jumpa pers, Kamis (17/7) malam.

“Sepertinya ada usaha dari pihak yang ingin mendiskreditkan Prabowo. Ada yang ingin mengganggu nama baik saya dan Prabowo,” kata Arya yang dekat dengan bos MNC, Hary Tanoesoedibjo ini.

Menurut Arya, seharusnya media tidak bersikap seperti itu. Terlebih menjelang puncak Pilpres pada 22 Juli mendatang. “Media seharusnya tidak seperti itu, tapi mendamaikan, bukan memperuncing. Saya kembali meluruskan, berita itu tidak benar,” bantahnya.

Ia pun menyesalkan adanya pengguna jejaring sosial Twitter yang menyebarkan kabar dirinya ditangkap KPK. “Saya sedang mempertimbangkan untuk mengambil langkah hukum,” tegas Arya.

Sebagaimana diketahui, pada Kamis (17/7)sore, beredar kabar melakukan operasi tangkap tangan (OTT) di wilayah Jawa Barat. “Ada OTT,” kata seorang sumber. Saat dikonfirmasi, Juru Bicara KPK Johan Budi SP menyatakan akan mencari informasi tentang kabar tersebut. “Saya coba cek,” ucap Johan.

Ternyata, berbagai kabar yang beredar tersebut nampaknya menyudutkan kubu Prabowo-Hatta. Sejumlah nama tokoh atau aktivis yang selama ini diketahui ikut dalam tim sukses Prabowo-Hatta disebut sebagai pihak yang ditangkap karena aksi suap menyuap terkait pilpres.

Yuddy Chrisnandi dari Partai Hanura yang merupakan salah satu partai pendukung pasangan Jokowi-JK, misalnya, dalam akun twitter menulis: “Adakah yang tahu, siapakah timses capres yang tertangkap tangan KPK sedang menyogok KPUD? Yang konon salah satunya tangan kanan bos media TV?

Disusul twit berikutnya: “Apresiasi setingginya kepada KPK yang telah menangkap tangan manusia yang menyogok KPUD dalam kaitan pilpres. Top. Tangkap semua oknum KPU yang korup.”

Membaca kedua twit itu tampaknya Yuddy Chrisnandy mengajak pembaca kicauannya menyimpulkan bahwa yang ditangkap adalah pihak yang berada di kubu Prabowo-Hatta.

Istilah bos media TV yang dimaksudnya juga patut diduga diarahkan kepada salah satu bos televisi yang mendukung Prabowo-Hatta, dalam hal ini grup MNC. Sebab apa? Karena sempat juga beredar isu yag menyebutkan salah seorang yang ditangkap KPK adalah AS.

Selama ini, tokoh berinsial AS yang merupakan tangan kanan bos media TV pendukung Prabowo-Hatta adalah Arya Sinulingga.

Sementara itu, seorang jurnalis yang memiliki hubungan dekat dengan Jenderal (Purn) Luhut Panjaitan yang merupakan salah seorang pendukung utama Jokowi menuliskan AS sebagai Arya Sinulingga di akun Facebook miliknya.

Setelah jelas bahwa yang dimaksud dengan AS adalah Bupati Karawang Ade Swara, sang jurnalis senior ini menghapus status FB miliknya, dan dengan ringan menuliskan status baru: “Sori ternyata Ade Swara, bukan Arya Sinulingga.”

Di bagian komentar atas statusnya itu, sang jurnalis menulis: “Mau banget Arya ketangkap. Bantuin dong. Dia jahat banget loh.”

Selain Arya Sinulingga, nama salah seorang petinggi Partai Demokrat juga sempat dikabarkan sebagai salah satu pihak yang ditangkap KPK dalam operasi Karawang. Tokoh lain yang juga sempat disebut sebagai salah satu pihak yang ditangkap adalah pentolan Aktivis ITB, Syahganda Nainggolan yang kini tim sukses Prabowo-Hatta.

Syahganda pun kaget ketika diberitahu wartawan bahwa namanya beredar sebagai pihak yang ditangkap KPK. “Apa-apaan ini. Kenapa nama saya dibawa-bawa. Edan ya yang menyebarkan fitnah ini,” ujar Syahganda geram.

Ia kemudian menyampaikan pesan agar KPK hati-hati dan waspada serta tidak mudah dimanfaatkan sebagai alat politik khususnya berkaitan dengan Pilpres. “Sebaiknya KPK fokus menyelesaikan pekerjaa rumahnya. Jangan sampai jadi alat politik. Fokus saja pada sejumlah isu besar yang ada di depan mata, termasuk skandal BLBI,” tutur Syahganda, mantan Aktivis ITB yang pernah dipenjara rezim orde baru ini. (Has)

 

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.