Sabtu, 15 Agustus 20

KPK Selalu Kehilangan Nyali Tangani Kasus di Kepolisian

KPK Selalu Kehilangan Nyali Tangani Kasus di Kepolisian
* Kapolri Jenderal Tito Karnavian. (Foto: OkeZone)

Jakarta, Obsessionnews.com – Desakan kepada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk mengungkap kasus dugaan suap penggelapan tujuh kontainer daging terus bergulir. Sebab tak tanggung-tanggung kasus ini diduga melibatkan orang nomor satu di institusi kepolisian, yakni Kapolri Jenderal Tito Karnavian. Tito diduga menerima suap dari pengusaha bernama Basuki Hariman.

Menanggapi hal itu, Ketua Umum Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah Dahnil Anzar Simanjutak menilai, KPK sejak awal selalu lemah atau tak punya nyali jika harus berhadapan dengan para petinggi Polri. Khususnya dalam mengungkap skandal kasus-kasus korupsi. Ia sendiri tak yakin, Pimpinan KPK saat berani mengungkap kasus yang diduga melibatkan Tito.

“Pimpinan @KPK_RI saat ini selalu kehilangan nyali ketika menangani setiap kasus hukum yg diduga melibatkan kepolisian @LaodeMSyarif , Mas @sosmedbw Pak BM dll punya obligasi moral untuk mengingatkan pimpinan KPK saat ini,” ujar Dahnil Anzar dalam akun twitternya @dahnilanzar, Rabu (10/10/2018).

Para pimpinan KPK kata Dahnil, akan dicatat dalam sejarah apakah mereka bisa mengungkap kasus ini agar masyarakat mengetahui fakta yang sebenarnya atau diam membisu. Bagaimana pun menurut Dahnil, kebenaran harus ditegakkan.

“Pimpinan KPK termasuk bang @LaodeMSyarif akan dicatat dlm sejarah apakah berani atau tdk menelusuri lebih lanjut kasus skandal buku laporan keuangan basuki sprt yg diulas oleh @inaleaks dan @tempodotco .Hidup hny sekali kemudian mati.Kebenaran hrs tetap ditegakkan meski sulit,” ujarnya.

Dahnil tak yakin kasus ini bakal diungkap KPK, jika tidak ada hasil investasi yang dilakukan oleh teman-teman jurnalis. Para jurnalis mengungkap adanya buku merah sebagai barang bukti dugaan ketertibatan kasus Tito dalam kasus suap impor daging sapi. Namun barang bukti itu sudah dirusak oleh dua penyidik KPK dari unsur kepolisian Roland dan Harun.

“Skandal Buku merah tidak akan pernah diungkap Pimpinan @KPK_RI @LaodeMSyarif bila jurnalis2 hebat yg independent yg bergabung di @inaleaks membongkar semua. Saya menaruh hormat kpd mereka. Ditengah kepengecutan menjadi jamak hadir saat ini,” jelasnya.

“Indikasi semua pimpinan @KPK_RI mengetahui dugaan pidana perusakan bareng bukti buku laporan keuangan perusahaan Basuki, adl indikasi kuat membiarkan kejahatan, bagaimana publik bisa percaya dg mrk yg berdiam dg praktik kejahatan didepan mata @LaodeMSyarif,” tukasnya.

Sebelumnya, sejumlah media nasional yang berkolaborasi dalam IndonesiaLeaks merilis hasil investigasi mengenai kasus korupsi yang diduga melibatkan para petinggi penegak hukum di negeri ini. Mereka mencium adanya indikasi kongkalikong untuk menutupi rekam jejak kasus tersebut.

Salah satu yang disorot adalah munculnya nama Kapolri Jenderal Tito Karnavian. Dalam dokumen investigasi yang dirilis IndonesiaLeaks, Tito diduga paling banyak mendapat duit dari Bos CV Sumber Laut Perkasa, Basuki Hariman, baik secara langsung maupun melalui orang lain.

Daftar penerimaan itu tercatat dalam buku bank bersampul merah atas nama Serang Noor IR yang memuat indikasi aliran dana yang diduga untuk para pejabat negara, Bea Cukai, pejabat Polri, termasuk Tito Karnavian, baik ketika Tito masih menjabat sebagai kapolda Metro Jaya, Kepala BNPT pada Maret-Juli 2016 maupun ketika sudah dilantik sebagai kapolri.

Kemudian, muncul skenario penghilangan atau perusakan barang bukti oleh dua perwira menengah Polri yang menjadi penyidik di KPK (Ronald dan Harun). Buku catatan pengeluaran perusahaan pada 2015-2016 dengan jumlah Rp4,33 miliar dan US$206,1 ribu itu sudah tidak utuh lagi. Sekitar 19 lembar catatan terkait aliran uang suap sengaja dirusak dan dihilangkan.

Muncul dugaan bahwa motif utama perusakan dan penghilangan buku catatan keuangan CV Sumber Laut Perkasa, untuk mengaburkan atau menghapus nama besar petinggi penegak hukum yang mendapatkan transaksi ilegal dari perusahaan milik Basuki Hariman. (Albar)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.