Jumat, 22 Oktober 21

KPK Isyaratkan Bakal Ada Tersangka Baru, Kasus Gatot

KPK Isyaratkan Bakal Ada Tersangka Baru, Kasus Gatot

Jakarta, Obsessionnews – Pimpinan sementara Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK)‎, Indriyanto Seno Adji mengisaratkan, kasus suap terhadap Hakim Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Medan, tidak berhenti pada Gubernur Sumatera Utara Gatot Pujo Nugroho dan istrinya, Evi Susanti, kemungkinan akan ada tersangka lain.

KPK kata dia, masih menyelidiki sumber uang korupsi yang d‎ipakai Gatot dan istrinya untuk menyuap hakim PTUN Medan. Karena itu, hari KPK menjadwalkan kembali pemeriksaan terhadap keduanya sebagai tersangka.

“Kemungkinan ada pihak lain yang bertanggung jawab atas sumber uang suap itu, selain Gatot dan Evi,” ujar Indriyanto melalui pesan singkatnya, Senin (3/8/2015).

Menurutnya, KPK masih membutuhkan informasi yang akurat tentang kasus korupsi di PTUN Medan. Hal ini diperlukan untuk mencari keterkaitan adanya kasus suap lain, dengan objek yang berbeda. “Pengembangan dibutuhkan untuk memperjelas tindak pidana korupsi suap dan objek yang lainnya,” terangnya.

Gatot dan istrinya ditetapkan sebagai tersangka Selasa (28/7/2015). Ia diduga sebagai pihak pemberi suap terhadap Hakim panitera PTUN Medan, terkait kasus penyalahgunaan dana Bantuan Sosial (Bansos) yang diperkarakan di PTUN Medan.

Sebelumnya, KPK lebih dulu menetapkan enam orang tersangka, mereka yakni ‎pengacara kondang Otto Cornelis Kaligis alias OC Kaligis dan anak buahnya yang bernama M. Yaghari Bhastara; Ketua PTUN Medan Tripeni Irianto Putro, dua hakim PTUN Medan bernama Amir Fauzi dan Dermawan Ginting, sekaligus seorang panitera PTUN Medan bernama Syamsir Yusfan.

Kasus suap di PTUN, awalnya saat Kejaksaan Tinggi Sumut membongkar kasus penyalahgunaan dana Bantuan Sosial yang menyeret mantan Kabiro Keuangan Sumut Fuad Lubis. Merasa tidak terima Lubis akhirnya mengungat ke PTUN dengan mengandeng Yagari dari kantor OC Kaligiis.

PTUN Medan akhirnya memenangkan Lubis yang mengugat kewenangan penyelidikan Kejati Sumut. Namun, rupanya putusan PTUN Medan, disertai uang pelicin, hingga akhirnya KPK melakukan penangkapan dan ditemukan barang bukti uang Rp lebih dari Rp 2 miliar dari ruang Tripeni. (Albar)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.