Jumat, 24 September 21

KPK : ‘Antaran’ Beda Dengan Gratifikasi

KPK : ‘Antaran’ Beda Dengan Gratifikasi

Jakarta, Obsessionnews – Jika bulan Ramadhan ini ada tetangga berkirim kurma kepada pejabat negara, itu bukan gratifikasi. Namun jika mengirim parsel Lebaran senilai Rp 24 juta, harus ada ‘sense’ dari si Pejabat.

Dalam penandatanganan pengendalian gratifikasi di kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Rabu (24/6), Pelaksana tugas Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Taufiequrachman Ruki, menuturkan, soal antar-antaran merupakan tradisi yang biasa dilakukan orang Indonesia dan tak perlu dianggap sebagai gratifikasi.

Tapi, menurut pengalamannya, sebuah pemberian juga bisa diindikasikan sebagai gratifikasi atau sogokan.

“Dengan mata kepala sendiri, saya lihat parsel Lebaran senilai Rp 24 juta, isinya sebuah lampu hias dari kristal Swarovski. Nah kapan gratifikasi atau tidak, itu harus ada sense dari pejabat,” kata Ruki.

Ruki menjelaskan, aksi korupsi terjadi bukan karena ada orang jahat. Namun, kesalahan sistem juga bisa memicu tindak pidana tersebut. Misalnya saja sistem penggajian yang tidak beres.

Sebagai contoh, celah korupsi di Direktorat Jenderal Pajak yang bisa terjadi mulai dari penentuan nilai pajak hingga penyelesaian sengketa pajak. Di banyak institusi pemerintah lain juga demikian. Perilaku korup, terjadi mulai dari pengadaan barang sampai perencanaan anggaran.

“Dari hulu ke hilir ada feel of corruption di sini,” kata Ruki.

Soal sistem penggajian yang tidak beres, menurut Ruki dapat dengan mudah dibenahi. Namun lebih penting, pejabat negara perlu menghindar dari sifat serakah.(Mahbub Junaidi)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.