Jumat, 9 Desember 22

Koruptor, Keserakahan dan Baharuddin Lopa

Koruptor, Keserakahan dan Baharuddin Lopa
* Patrialis Akbar. (Foto: Merdeka.com).

Jakarta, Obsessionnews.com – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) membuat kejutan di penghujung akhir Januari 2017 dengan melakukan penangkapan terhadap Hakim Konstitusi, Patrialis Akbar. Menyandang nama besar dan berprofesi sebagai penegak hukum, penangkapan terhadap Patrialis mendapat apresiasi dari publik.

Seperti tak akan ada habisnya, koruptor di negeri ini terus merajalela, mereka merampok uang negara. Banyak dampak dari korupsi yang sangat merugikan negara, bahkan merugikan orang lain. Tapi, para koruptor terus saja merampok uang yang bukan haknya demi kepentingan diri sendiri ataupun demi kepentingan kelompoknya.

Korupsi di Indonesia memang bukan dongeng melainkan fakta yang ada di depan mata. Ia digemari banyak orang. Tidak terkecuali para pejabat negeri ini. Lihat saja, banyak bupati, gubernur, walikota, anggota TNI, anggota Polri, para politisi, para bankir, pengusaha, mantan pejabat yang dipenjara karena terlibat kasus korupsi.

Tabiat Serakah

Lalu mengapa mereka korupsi? Bukankah seharusnya mereka bekerja sebagai pembawa amanah. Diberikan kekuasaan berdasarkan kontrak sosial guna mengurusi urusan masyarakat. Bahkan berkaitan dengan tugasnya itu, pejabat diberikan berbagai kewenangan. Tidak lupa juga berbagai fasilitas.

Tapi kenapa sang pejabat masih melakukan korupsi? Apakah masih kurang semua fasilitas dan kemewahan yang diberikan? Lalu apa jadinya bila orang kepercayaan yang dimintakan mengurusi segala urusan masyarakat justru ikut mencuri hak dan menyusahkan masyarakat pemberi amanah? Misalnya, dengan melakukan perbuatan korupsi.

Tidakkah itu pengkhianatan moral skala besar yang sulit termaafkan? Karena korupsi mengambil hak-hak rakyat secara tidak wajar. Yang sebenarnya bisa untuk biaya pendidikan dan kesehatan. Ternyata komitmen memerangi korupsi hanya omong kosong.

Ahli hukum almarhum Baharuddin Lopa.

Bagi ahli hukum almarhum Baharuddin Lopa, salah satu yang mendorong terjadinya pelanggaran hukum oleh pejabat negara ini adalah tabiat mereka yang serakah. Rasa berkuasa itulah yang sering membuat seseorang memandang remeh orang lain dan berani bertindak apa saja. Lopa menegaskan keserakahan ini tumbuh subur karena lemahnya penegakan hukum, serta manajemen yang tidak rapi, sehingga kebocoran tidak bisa segera diketahui dan dikendalikan. (Has)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.