Rabu, 3 Juni 20

Korupsi dan Mahabharata

Korupsi dan Mahabharata

Korupsi dan Mahabharata

Hari Senin (9/12), seluruh dunia memperingati hari HAM dan Anti Korupsi sedunia. Presiden Joko Widodo (Jokowi) memperingati hari tersebut di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Dan sungguh berita yang sangat menggembirakan ketika Presiden mengatakan bahwa dia menolak grasi sekitar 64 terpidana mati kasus narkoba. Mereka yang ditolak grasinya ini adalah para gembong narkoba yang telah merusak dan membunuh jutaan generasi muda bangsa. Tentang tindakan Jokowi yang menolak permohonan grasi tersebut juga dibenarkan Jaksa Agung M prasetyo.

Pertanyaan dan persoalanya bagaimana dengan para pentolan koruptor yang sekarang mendekam di penjara, dan mereka yang belum kejaring Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), apakah mereka juga akan ditolak grasinya bilamana meminta atau malah diberi kebebasan bersyarat? Dan mereka yang belum dijerat pasal korupsi, apakah akan dibiarkan bebas di luar ataukah akan segera dikandangkan? Moment semacam ini kita patut pertanyakan kepada Presiden dan kita semua karena berkaitan dengan hari anti korupsi yang diperingati Senin ini. Mengapa?

Sesungguhnya bahaya dan akibat korupsi tidak kalah dasyatnya dibanding bahaya yang disebabkan narkoba, maupun bahaya teroris sekalipun. Jutaan orang bisa mati kelaparan dan kehilangan tempat tinggal maupun pekerjaan akibat korupsi. Jutaan orang bisa jatuh miskin juga karena korupsi. Misalnya, siapa tahu  di balik kesengsaraan masyarakat Sidoarjo, Jawa Timur (Jatim) akibat ditenggelamkan lumpur Lapindo ada terselip bau korupsi di dalamnya. Dan masih banyak contoh lain yang membuat kita miris.

Begitu ganasnya bahaya korupsi, maka tidak heran jika dunia pun sangat apresiatif terhadapnya. Dalam kisah Mahabharata—–yang tengah ditayangkan salah satu stasiun swasta—–jika kita telaah dengan seksama, betapa hebat dan ngerinya hukuman bagi para koruptor. Lihat saja bagaimana para koruptor itu harus mati dibantai satu persatu dan dengan kematian yang sungguh sangat mengerikan. Itu memang yang melakukan Arjuna, Bima atau keluarga Pandawa yang lain. Namun di balik itu, hakekatnya yang melakukan itu adalam alam. Pandawa hanya alat tetapi yang menggerakan adalah kekuatan Yang Maha Adil.

Mestikah untuk memberantas korupsi  diIndonesia mesti menunggu tangan Yang Maha Kuasa turun tangan? Pertanyaanya adalah untuk apa Dia Yang Maha Tinggi menciptakan kalifah di muka bumi ini, kalau tidak digunakan sebagai alat pengadil ? Memang KPK sudah ada, Kejaksaaan dan Polri juga bisa mencengkeram para koruptor, tetapi tangan mereka sepertinya terbatas. Gerakan mereka sepertinya kurang lincah dan kurang cekatan. Lihat saja, banyak para pejabat pejabat, oknum-oknum dewan dan partai yang sudah jadi tersangka korupsi tetapi belum ditahan juga. Bahkan ada yang pernah disebut berulang-ulang dalam sidang namun tetap bebas berkeliaran di luar seolah-olah tidak terjadi apa-apa.

Dalam kisah Mahabharata memang tidak dikisahkan bahwa para koruptor di penjara dahulu baru di eksekusi. Itu terjadi lantaran para koruptor dalam kisah tersebut adalah para pejabat, para penguasa yang memegang kekuasaan luar biasa. Mereka baru dapat diadili setelah rakyat bergerak, turun ke jalan dalam wujud para Pandawa. Pertanyaannya adalah apakah kita mesti mencontoh yang terjadi di kisah Mahabharata? Tentunya tidak, karena kisah Mahabharata hanyalah sekedar mitos yang tujuannya adalah agar manusia dapat berbuat lebih baik. Karena semua perbuatan buruk kita pasti akan  ada balasannya.

Harapan kita adalah agar pemerintahan Jokowi lebih agresif lagi dalam mengani persoalan korupsi. Pemerintah hendaknya lebih telaten dan seksama melihat korupsi yang sudah dan sedang ditangani KPK, Kejakasaan maupun Polri. Juga pemerintah hendaknya mau mengevaluasi bagaimana pemberantasan korupsi yang sudah dilakukan pemerintahan sebelumnya, apakah sudah tuntas atau masih mengganjal. Dan yang penting jangan ragu, jangan takut dan tidak usah gamang. Kalau di laut kita sudah berani bertindak tegas dengan menenggelamkan kapal asing yang merampok ikan kita. Mengapa di darat kita berani? (Arief Turatno wartawan senior)

 

Related posts