Rabu, 8 Desember 21

Korupsi Alkes, Dirut Perusahaan dan Pegawai RSUD Dituntut 4 Tahun

Korupsi Alkes, Dirut Perusahaan dan Pegawai RSUD Dituntut 4 Tahun

Semarang, Obsessionnews – Direktur Utama PT Bina Inti Sejahtera (BIS) anak perusahaan Eks Grup Permai milik Nazarudin, mantan Bendahara Partai Demokrat, Devi Reza Raya dituntut empat tahun penjara lantaran diduga melakukan korupsi pengadaan alat kedokteran, kesehatan dan Keluarga Berencana di RSUD Kraton, Kota Pekalongan. Ia dijerat bersama-sama mantan Kepala Bidang Penunjang RSUD Kraton tahun 2012, Sumargono.

Dari hasil audit BPKP Jateng, keduanya dinilai memperkaya PT BIS dan manajemen Eks Grup Permai dengan merugikan negara sebesar Rp 4,5 miliar. Mereka dituntut pidana penjara 4 tahun dan denda Rp 50 juta subsidiar 3 bulan kurungan.

“Serta membayar uang pengganti kerugian negara sekitar Rp 4,5 miliar subsidair 1 tahun 9 bulan penjara,” kata Ahmad Hadi Prayitno, penasehat hukum terdakwa Devi di Pengadilan Tipikor Semarang, Senin (30/5/2016)).

JPU juga menuntut Sumargono dengan tuntutan sama. Menurut JPU, kedua terdaksa secara sah dan meyakinkan terbukti korupsi berjamaah sebagaimana diatur dalam Pasal 3 jo Pasal 118 Undang-undang Nomor 31 tahun 1999 sebagaimana diubah dan ditambah Undang-undang Nomor 20 tahun 2001 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi jo Pasal 55 ayat 1 kesatu KUHP.

“Menjatuhkan pidana penjara terhadap terdakwa Sumargono SKM MA selama 3 tahun dikurangi selama dalam tahanan sementara dengan perintah agar tetap ditahan. Membayar denda Rp 50 juta subsidair 3 bulan,” kata JPU Sri Heryono saat sidang tuntutan Senin (23/5/2016) lalu.

Meski begitu, sidang beragendakan pembelaan kedua terdakwa pada hari ini batal diselenggarakan. Sebab, kedua terdakwa menyatakan belum siap menjalani sidang. Sehingga, sidang pembelaan ditunda hingga tanggal 6 Juni mendatang.

Selaku PPKom proyek, Sumargono menetapkan HPS sebesar Rp 24,9 miliar untuk tiga kegiatan pengadaan alat untuk ruang instalasi bedah sentral, instalasi care unit dan ruang perawatan tanpa melalui prosedur.

HPS sesuai rincian anggaran biaya dalam Kerangka Acuan Kerja yang ditandatangani Muhammad Teguh Imanto, Direktur RSUD Kraton selaku KPA. HPS disusun tidak dengan survei harga pasar

Atas HPS itu, panitia pengadaan menjadikannya dasar lelang. Lelang diikuti enam perusahaan, salah satunya PT Bina Inti Sejahtera dengan penawaran Rp 24,2 miliar. Faktanya peserta lelang diketahui tidak memenuhi persyaratan adminitrasi. Panitia lelang seharusnya membatalkannya. Namun nyatanya, PPKom tetap menetapkan PT BIS sebagai pemenang dan pelaksana.

Deva Reza sebelumnya mengakui, PT BIS adalah anak perusahaan milik M Nazarudin. Diakuinya, selaku Direktur PT BIS, ia ditunjuk dan tak mengetahui teknis pengadaan.

“Permai yang dipimpin Aan Ikhyaudin alias Aldo. Lewat seorang anak buahnya, Sulistyo Nugroho alias Yoyok. Aldo adalah mantan ajudan Nazarudin. Di eks Grup Permai. Yoyok juga anak buah Nazarudin. Dia di manajemen yang bertugas mencari proyek,” kata dia

Nazarudin, kata dia, memiliki lebih dari 50 perusahaan yang dikendalikan Aldo dibantu Yoyok. “Ada 50 lebih perusahaan Grup Permai dia yang pegang. Saya tahu mereka anak buah Nazarudin,” tandasnya. (Yusuf IH)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.