Sabtu, 29 Januari 22

Korea Kembangkan Produk Unggulan Daerah di Indonesia

Korea Kembangkan Produk Unggulan Daerah di Indonesia

Jakarta, Obsessionnews – Kementerian Koperasi Usaha Kecil Menengah bekerjasama dengan Korea Trade Investment Promotion Agency (KOTRA) akan membuat pilot project pengembangan produk unggulan daerah. Kerjasama ini sebagai tindaklanjut dari MOU pada tanggal 10 Oktober 2013 yang bertujuan untuk mengembangkan kerjasama dan mendukung One Village One Product.

Deputi Bidang Pengkajian Sumberdaya KUKM Kementerian Koperasi dan UKM, Meliadi Sembiring mengatakan pada Pilot Project ini, KOTRA akan memfasilitasi perusahaan perusahaan Korea yang ada di Indonesia dengan menggunakan dana CSR-nya untuk mendukung pengembangan produk unggulan daerah dengan pendekatan OVOP melalui Koperasi.

“Salah satu perusahaan tersebut adalah PT Samsung Electronics yang tertarik dengan pengembangan produk Tenun ikat dan Kerajinan Ketak di Provinsi Nusa Tenggara Barat,” ujar Meliadi melalui siaran persnya, Jumat (10/7/2015).

Tenun Ikat diproduksi oleh Koperasi Wanita Stagen diKabupaten Lombok Tengah yang diketuai oleh Ibu Lale Alon Sari. Kopwan Stagen ini memproduksi tenun songket ikat tradisional Lombok tengah/sasak dengan menggunakan peralatan tradisional.

Meliadi menjelaskan dengan pendampingan dari Dinas Koperasi dan UKM Provinsi dan Kabupaten maka saat ini pengrajin telah menghasilkan berbagai macam motif dan modifikasi produk menjadi tas, kombinasi dengan kain serta difasilitasi untuk mengikuti pameran, setelah mendapatkan fasilitasi OVOP terjadi peningkatan signifikan pada usaha koperasi.

Namun demikian, dengan penggunaan peralatan tradisional, mengakibatkan produksi kain yang dihasilkan tidak terlalu lebar, sementara permintaan pasar menginginkan hasil kain yang lebih lebar, untuk itu kata dia koperasi memerlukan peralatan Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM) yang dapat memproduksi kain tenun yang lebih lebar dan alat pemintal benang.

Kopwan Stagen telah berhasil memberdayakan perempuan di sekitar agar dapat meningkatkan taraf hidupnya dengan menenun. Setiap pengrajin mampu untuk menghasilkan 4 lembar kain perbulan, namun Koperasi baru dapat membeli 2 helai saja karena keterbatasan modal dan pemasaran.

“2 helai yang lain dijual langsung oleh pengrajin dengan harga yang lebih murah daripada ke koperasi,” katanya.

Sedangkan kerajinan Ketak di produksi oleh Koperasi Wanita Harapan Bersatu di Kabupaten Lombok Barat yang diketuai oleh Ibu Nikmah. Kerajinan Ketak sudah merupakan kerajinan turun menurun yang diproduksi oleh masyarakat dengan bahan baku ketak yang berasal dari Flores dan Kalimantan.

Distribusi pemasaran ketak oleh koperasi masih panjang, sehingga penghasilan yang diperoleh koperasi dan anggota masih sangat rendah. Diharapkan ke depannya Koperasi dapat memangkas jalur distribusi tersebut dan menjual langsung ke konsumen sehingga akan meningkatkan pendapatan koperasi.​

Menurut Meliadi, untuk lebih meningkatkan kualitas produk, koperasi memerlukan tungku pengasapan, mesin pemecah bambu, mesin bubut kayu, mesin jahit serta pelatihan design dengan ciri khas Lombok. Sebab, Koperasi sudah berperan dengan baik untuk pengadaan bahan baku dan memasarkan hasil dari anggota yang seluruhnya adalah wanita. (Has)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.