Kamis, 9 Desember 21

Kopi Papua Tak Kalah Nikmat dari Kopi Lainnya

Kopi Papua Tak Kalah Nikmat dari Kopi Lainnya

Papua, Obsessionnews.com – Selain kopi Gayo, Mandailing, Jawa, Toraja, Sumatera dan Sulawesi, Kopi Papua juga menjadi salah satu kopi khas dari Tanah Air. Sebab Papua juga merupakan daerah penghasil kopi yang sangat diminati, namun sayang para petani setempat tidak mengetahui harga kopinya dipasaran.

Setelah Indonesia berhasil mempromosikan kopi Indonesia di tingkat International melalui pameran Specialty Coffee Association of America (SCAA) Expo 2016, kini Kementerian Perdagangan meluncurkan program “Dengan Bangga Menyeduh Kopi Papua”di Papua, pada hari Sabtu (11/6/2016).

Peluncuran ini adalah sebuah tanda dimana Papua memiliki banyak aset yang tak terlihat, seperti adanya kopi Papua. Menteri Perdagangan Thomas Lembong pun mengaku Kopi Papua menyimpan kopi berkelas dunia, namun sayangnya saat ini petani masih kurang mengetahui harga jual kopi di pasaran.

Data Dinas Perkebunan Provinsi Papua mencatat terdapat 16 petani kopi di Papua diantaranya tersebar di Kabupaten Jayawijaya, Kabupaten Tolikara, Kabupaten Lanny Jaya, Kabupaten Pegunungan Bintang, dan Kabupaten Dogiyai.

Khusus pada Kabupaten Dogiyai, kawasan ini memiliki 10 kecamatan yang keseluruhannya menyimpan potensi kopi, namun belum maksimal produksinya. Mendag melihat di kabupaten ini memperlihatkan dari dekat tahapan produksi kopi dan fasilitas pengeringan, serta proses produksi kopi dari awal hingga akhir masih tradisional. Seperti mesin penumbuk yang digunakan pun masih sisa peninggalan Belanda dan belum ada peremajaan.

“Kegiatan pemberdayaan dan edukasi ini bermanfaat untuk meningkatkan kesejahteraan petani agar lebih optimal. Kita tahu bahwa konsumen rela membayar mahal untuk kopi yang nikmat, namun sayangnya petani kurang mengetahui harga jual kopi di pasaran,” lanjut Mendag Thomas Lembong.
Perkebunan kopi di Kabupaten Dogiyai ini merupakan peninggalan misionaris Belanda di tahun 1890-an. Pada era nya, sebagian besar masyarakat Dogiyai adalah petani kopi, namun seiring perubahan zaman, masyarakat mulai jarang menanam kopi dan beralih profesi menjadi buruh bangunan untuk mendapatkan uang lebih cepat.
Sementara itu, Kepala Pusat Penanganan Isu Strategis Kemendag Ni Made Ayu Marthini mengungkapkan pentingnya edukasi dan dukungan sarana dan prasarana bagi petani kopi.
“Para petani kopi di Indonesia juga harus mengetahui harga kopi di pasaran agar nilai jualnya tinggi sehingga petani dapat lebih sejahtera,” tuturnya.

Ia katakan seperti Harga coffee cherries yang jarang diketahui, padahal banyak petani yang dibayar dalam bentuk buah cherries untuk produk kopinya.

Selain itu Made menuturkan, petani juga seharusnya mengetahui bahwa rasio yang dihasilkan pemrosesan coffee cherries menjadi green beans adalah tujuh banding satu. Artinya, tujuh kg coffee cherries setelah diproses hanya bisa menghasilkan 1 kg coffee green beans.

Harga buah (coffee cherries) dan biji kopi yang dijual oleh para petani kopi saat ini terbilang masih rendah. Made mencontohkan, di Kabupaten Dogiyai, para petani tidak menjual kopi dalam bentuk cherries atau buah.

Kopi yang dijual yaitu dalam bentuk biji yang sudah disangrai atau bubuk dengan harga Rp30.000-35.000/kg. Sedangkan ada petani di Jawa Barat yang menjual coffee cherries hasil panennya seharga Rp7.000-8.000/kg, atau di bagian Jawa lainnya ada yang menjual coffee cherries hasil panennya Rp6.000-8.000/kg

Kurikulum Kopi Kabupaten Dogiyai juga memiliki 5 UKM kopi yang salah satunya dibina Pastor Gereja. Selain kebun peninggalan Belanda, di Kabupaten Dogiyai juga terdapat kebun kopi SMP Yayasan Pendidikan Persekolahan Katolik (YPPK) seluas 1 hektare.

Sekolah ini menyelipkan pendidikan mengenai kopi pada kurikulum ajarnya sehingga murid-murid diajarkan memetik dan mengolah kopi di sekolah. Made mengharapkan, kopi Papua bisa menembus pasar ekspor dalam tiga tahun ke depan dan dapat disajikan pada Pekan Olahraga Nasional (PON) di Papua tahun 2020.

“Sudah sepantasnya petani kopi memperoleh harga yang lebih tinggi untuk memberi nilai ekonomi yang baik bagi petani,” jelas Made. (Aprilia Rahapit)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.