Sabtu, 20 April 19

Kontroversi Rizal Ramli dan Tantangannya kepada Para Pejabat

Kontroversi Rizal Ramli dan Tantangannya kepada Para Pejabat
* Mantan Menteri Koordinator Kemaritiman Rizal Ramli. (Foto: Twitter @RamliRizal).

Jakarta, Obsessionnews.com – Nama Rizal Ramli selalu santer terdengar di telinga masyarakat,  karena sikapnya yang selalu berbuah kontroversi. Gayanya yang apa adanya dan blak-blakan membuat Rizal semakin mendapat perhatian dari masyarakat. Ia tak pernah segan melontarkan kritik kepada pemerintah sekalipun dia bagian dari pemerintah.

Saat menjadi Menteri Koordinator Kemaritiman di era Presiden Joko Widodo (Jokowi), Rizal Ramli bahkan pernah mengkritik tiga kebijakan di kementerian yang dianggap tidak pro rakyat. Kini nama Rizal kembali ramai setelah kisruh dengan Partai NasDem. Dia melontarkan kritik keras kepada Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh. Rizal menuding Surya ada di balik kebijakan pemerintah yang terlalu bebas melakukan kebijakan impor yang dilakukan Kementerian Perdagangan, sehingga rupiah melemah, dan petani rugi.

 

Baca juga: Kilas Balik Kisruh NasDem vs Rizal Ramli

 

Tidak hanya mengkritik, Rizal juga berani menantang sejumlah pejabat untuk melakukan debat terbuka. Ia ingin membuktikan bahwa kritikannya itu bisa dipertanggungjawabkan.

Berikut tantangan Rizal Ramli kepada para pejabat

Pertama, dimulai kepada Wakil Presiden Jusuf Kalla. Waktu menjabat sebagai Menko Kemaritiman, Rizal tidak setuju dengan program pembangunan pembangkit listrik 35.000 MW. Dia menyebut kebijakan pemerintah untuk melaksanakan proyek pembangunan pembangkit listrik 35.000 megawatt tidak masuk akal.

Rizal bahkan tidak mempedulikan teguran dan kritik yang disampaikan oleh Jusuf Kalla terkait pernyataannya. Rizal justru menantang Kalla untuk berdebat secara terbuka. Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan Luhut Binsar Pandjaitan waktu itu menyesalkan sikap Rizal yang terus tak satu suara dengan pemerintah. Luhut mengaku akan menegur Rizal terkait sikapnya ini.

“Nanti saya akan bicara sama dia (Rizal), dan setelah itu saya beritahu kalian. Ya, ndak perlu gitu-gituan (mengkritik). Itu (proyek listrik) kan sudah kita teliti,” kata Luhut waktu itu.

 

Baca juga: Rizal Ramli: Terima Kasih Lawyer yang Sudah Bantu Saya

 

Kedua, Rizal menantang Menteri BUMN Rini Soemarno untuk melakukan debat terbuka. Hal ini dilakukan setelah Rizal melontarkan kritik kepada kinerja BUMN, terutama menyangkut salah satu perusahaan millik BUMN, yakni PT. Garuda Indonesia. Rizal mengungkapkan krisis yang tengah dialami PT Garuda Indonesia Airways akibat mismanajemen dan ketidakmampuan serta ketidakprofesionalan Rini Soemarmo.

“Sebenarnya setiap korporasi kalau mengalami kerugian itu wajar, tapi perusahaan harus memiliki strategi untuk membalikkan situasi atau turn around strategi. Kasus Garuda adalah contoh dari mismanajemen dan ketidakmampuan, ketidakprofesionalan Menteri BUMN Rini Soemarmo,” kata Rizal di Jakarta, Senin (25/6/2018).

Menurut Rizal, sedikitnya ada lima masalah utama yang membelit Garuda Indonesia saat ini. Pertama, pengangkatan direksi tidak berlandaskan kompetensi, jumlah direksi terlalu banyak, kedua, manajemen tidak berani mengambil keputusan untuk pembatalan dan rescheduling pembelian pesawat-pesawat yang tidak diperlukan.

Baca juga: Besok, NasDem Layangkan Surat Somasi ke Rizal Ramli

 

Ketiga, flight dan rute manajemen payah. Yang dilakukan manajemen kata Rizal, hanya pemotongan biaya via cross cutting, cross the board. Padahal sangat berbahaya jika yang dipotong anggaran disektor training. “Bisnis penerbangan intinya adalah safety nya. Juga seharusnya direktur operasi tidak dilebur menjadi direktur produksi,” ujarnya.

Keempat, permainan atau patgulipat di Garuda terjadi juga dalam hal pembelian logistik. Sistem pengadaan pun tidak kompetitif, sehingga harga yang dibeli konsumen kemahalan. Kelima kata Rizal, rute manajemen juga payah. Seharusnya direktur operasi harus dipilih lebih canggih. Strategi marketing Garuda amburadul. Ia mencontohkan, yang seharusnya premium airline malah dicampur dengan strategi low cost carrier, seperti Citylink.

Ketiga menantang Menteri Keuangan Sri Mulyani. Rizal kesal dengan kebijakan Ani sapaan Sr Mulyani yang sudah terlalu longgar melakukan utang terhadap luar negeri. Begitu juga dengan terus melemahnya rupiah atas dolar. Menurut Rizal utang Indonesia sudah berada di lampu kuning. Dan kondisinya tidak bisa dibandingkan dengan beberapa negara, seperti Amerika Serikat dan Jepang.

Menurutnya, perbandingan tersebut seharusnya tidak dibuat, sebab karakter Indonesia dengan kedua negara tersebut sangat berbeda dan tidak layak untuk saling diperbandingkan satu sama lain. “Come on, Amerika itu satu-satunya negara yang bisa cetak uang dolar dijual di luar negeri, di beli di luar negeri. Kita enggak punya power seperti itu,” kata Rizal.

“Indonesia utang per GDP (Gross Domestik Bruto) lebih rendah dari Jepang. Lihat dong di statistik Jepang, 80 persen utangnya itu sumbernya domestik, dari rakyat dan dari perusahaan dalam negeri, sehingga kalau ada gejolak internasional tidak terlalu terganggu,” imbuhnya.

Namun Rizal yakin, Ani tidak akan berani menerima tantang debat terbuka dengan dirinya. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati sendiri pernah menyatakan bahwa dia tidak takut berdebat dengan orang yang punya pemikiran sempit dan tidak percaya diri terhadap potensi Indonesia di masa depan.

“Saya lihat akal mereka ini yang dipikirkan hanya kepribadian sempit, katak dalam tempurung, selalu ketakutan, hidupnya hanya curiga, tidak bisa lihat orang yang berbeda, tidak mampu bergaul dengan orang yang berbeda dengan kita, mereka itu adalah masa depan yang mengkhawatirkan. Saya tidak takut kepada tantangan berdebat,” kata Sri Mulyani, Senin (7/5/2018). (Albar)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.