Rabu, 26 Januari 22

Konsolidasi Dua Kekuatan Saat Kembalinya Sang Imam Besar

Konsolidasi Dua Kekuatan Saat Kembalinya Sang Imam Besar

Oleh: Fahmi MS Kartari, Pemerhati Politik

 

Propaganda yang dilancarkan untuk menumbuhkan kebencian terhadap Habib Rizieq Shihab itu ternyata menghasilkan kegagalan yang membingungkan. Lihat saja, wacana tentang kembalinya Habib Rizieq ke tanah air sudah disikapi penuh rasa rindu dan bahkan persiapan serius untuk menyambutnya secara besar-besaran, padahal fitnah sudah demikian tajam menimpa Ulama yang diangkat sebagai Imam Besar Umat Islam Indonesia ini.

Siapa tokoh di masa sekarang ini yang kedatangannya akan disambut melebihi dirinya? Setingkat kepala negara saja belum tentu bisa sekalipun meminta pada rakyat untuk menyambutnya! Bahkan demonstrasi segelintir orang yang menolak kepulangan Habib Rizieq pun sudah menunjukkan bahwa Ulama yang popularitasnya mendunia ini lebih banyak dinantikan kepulangannya ketimbang penolakannya!

Habib Rizieq adalah kebutuhan dalam perjuangan ini, terbukti selama keberadaannya di Arab Saudi, Umat Islam hanya bisa bertahan dari segala macam serangan sambil melakukan beberapa kegiatan seperti aksi damai, tabligh akbar, membangun spirit 212 dan lainnya sebagai pesan bahwa tanpa satu komando terkuat saja mereka masih sulit untuk ditumpaskan, apalagi jika komando itu kembali menyatukan! Demikian arti dari kebutuhan itu.

Ada sebagian pihak yang menanti kedatangan Habib Rizieq untuk menentukan hasil di pilkada serentak yang mana Umat Islam sangat serius mempertahankan dan merebut wilayah-wilayah strategis dengan pemimpin yang dikehendaki. Harapan pada Habib Rizieq jelas akan seperti yang terjadi pada pilgub DKI Jakarta di mana Umat Islam secara strategis memenangkannya.

Memang demikian keberhasilan peran Habib Rizieq dalam pengerahan massa dan menghambat kekuatan lawannya dalam kekuasaan di daerah, tapi apakah harapan kali ini tetap sebatas itu? Keadaan Umat Islam memasuki tahun 2018 sudah sangat penuh ancaman, sebagian berdarah-darah dan mulai pada penghilangan nyawa bagi beberapa pemimpin dan elemen Umat Islam.

Peristiwa-peristiwa yang mengancam beberapa masjid dan pesantren terutama di waktu subuh, sudah merupakan pesan teror untuk memicu kondisi kekacauan keamanan dan konflik sosial yang lebih besar. Eksekusi serentak terhadap rasa aman itu mendekati kemungkinan perang terbuka, tidak lagi hanya menyasar pada eksekutornya tetapi sudah pada pemerintah yang dituding gagal dalam mengantisipasi dan menyelesaikannya.

Secara kondisi dan perhitungan ke depannya, kepulangan Habib Rizieq dalam kapasitas dan psikologis massa yang menantinya, selayaknya bukan lagi hanya pada skala yang sama dengan satu atau dua tahun yang lalu, tapi sudah layak pada tingkat berhadap-hadapan dengan kekuatan pemerintah yang selama ini sulit menyembunyikan sikap konfrontatifnya terhadap Habib Rizieq.

Pola fikir utama kubu pemerintah dalam mengkonsolidasikan kekuatannya untuk menghadapi massa pendukung Habib Rizieq adalah berupa pengamanan masa kekuasaan Presiden Joko Widodo di sisa periode ini, mengamankan periode selanjutnya lalu berfikir lebih kecil pada skala pilkada yang lebih dekat waktunya! Ada loncatan fokus yang dipaksakan pada skala yang lebih penting!

Jika Habib Rizieq menyentuh kembali tanah airnya, maka dapat dipastikan eskalasi politik dan keamanan berada pada titik didih yang maksimal sebab dua kekuatan yang terkonsolidasi akan tanpa ragu berhadap-hadapan dalam bentuk apapun, apalagi jika dipicu oleh peristiwa yang fatal! Sudah jelas sikap Umat Islam bahwa kriminalisasi terhadap Habib Rizieq harus ditolak! Tidak bisa ditawar oleh apapun apalagi dipaksakan!

Keberadaan Habib Rizieq di tengah massa Umat Islam di Indonesia, detik itu juga tentunya akan langsung memimpin dengan melakukan konsolidasi lanjutan yang besar. Ada banyak yang harus dibenahi lebih dari sekadar kekuatan massa yaitu permasalahan-permasalahan seputar potensi perpecahan internal Umat Islam (furu’iyah) yang masih mudah dieksploitasi.

Perbedaan dalam berbagai bentuknya selalu rentan dibenturkan dan pasca 212 pola pemecahbelahnya cukup konsisten dan efektif melalui isu-isu yang dirancang. Habib Rizieq perlu melakukan diplomasi internal Umat Islam dan bersama Ulama lainnya berupaya mencari solusi sebagai syarat kekuatan Umat Islam.

Masjid-masjid yang secara nyata sudah “diganggu” oleh pihak-pihak yang merancangnya, juga harus direbut kembali dan dikuasai secara konsisten oleh umat dan itu mutlak harus diserukan dengan pengaruh personal Habib Rizieq apalagi gerakan shalat berjama’ah seperti di waktu subuh sudah digencarkan kurang dari setahun ini.

Kedatangan Habib Rizieq nantinya sejak berpijak di bandara, harus diantisipasi secara tepat oleh kubu pendukungnya, jangan sedikitpun memulai kesalahan yang dapat dimanfaatkan secara serampangan karena banyak risiko yang akan terjadi ketika kekuatan-kekuatan tertentu akan mencoba mengacaukannya dan juga harus selalu diingat bahwa disaat yang bersamaan ada kubu kekuatan di negara ini yang mulai terbiasa tidak terkendali ketika tekanan yang belum seberapa itu secara sporadis mengarah padanya.

Dua pihak yang sedang membangun konsolidasinya, jika berhadap-hadapan dalam babak baru ini, akibatnya tidak akan lagi kecil! Bisa jadi tahun 2018 bukan sekadar tahun politik yang panas tapi membuka pertentangan sosial secara vertikal-horisontal yang kali ini akan banyak menimbulkan korban fisik dengan skala kekacauan yang lebih luas dan menentukan seperti apa masa depan Republik Indonesia.

(21 Februari 2018)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.