Minggu, 19 Januari 20

Kondom Vegan, Aman Untuk Hubungan Seks

Kondom Vegan, Aman Untuk Hubungan Seks
* Kondom bisa membuat seks lebih aman, tapi apakah bahan-bahannya merusak lingkungan? (BBC)

Bisakah kehidupan seks menjadi lebih berkelanjutan? Duo entrepreneur asal Jerman ini berkata, bisa. Mereka membuat produk kondom vegan dan mengembangkannya menjadi bisnis dengan omset jutaan euro untuk membuktikannya.

Pada 2015, Philip Siefer dan Waldemar Zeiler membuat proyek urundaya untuk mendanai bisnis baru mereka.

“Kami terus mendapatkan pertanyaan sama dari orang-orang yang ingin mendonasikan uang,” kata Siefer. “Apakah kondom buatan kalian vegan? Saat itu kami bahkan tidak menyadari bahwa kondom mengandung protein hewani untuk membuat lateksnya lebih lembut.”

Duo wirausahawan asal Berlin ini lantas mencoba mencari kesempatan dari pasar kondom global yang saat ini sebesar USD $8 miliar (Rp112 miliar) dengan mendekati konsumen yang sadar lingkungan.

Di luar dugaan, kelompok konsumen ini lebih besar dari perkiraan mereka semula. Hanya dalam waktu empat tahun, merek dagang kondom mereka yang vegan, higienis, dan berkelanjutan telah mendapatkan laba sekitar €5 juta (sekitar Rp78 miliar) per tahun.

Perusahaan mereka, Einhorn, dalam bahasa Jerman berarti unicorn. Nama ini bukan mengacu pada hewan khayalan bertanduk itu, namun diambil dari istilah yang biasa dipakai oleh perusahaan startup yang memiliki valuasi di atas USD $1 miliar, seperti Airbnb dan Deliveroo.

Meskipun saat ini perusahaan Siefer dan Zeiler belum masuk ke jajaran itu, membangun bisnis dengan tema ‘berkelanjutan’ sebagai jualan terbukti sukses.

Bukan hanya karena gaya hidup ini sekarang populer di kalangan konsumen, namun lantaran membuat produk yang berkelanjutan membuka banyak pintu kepada komunitas bisnis yang sebelumnya sulit dimasuki sembarang bisnis.

Einhorn mengganti kasein – jenis protein di dalam susu mamalia yang dipakai untuk melembutkan lateks pada kondom – dengan pelumas berbahan dasar alami dari tumbuhan. (BBC)

 

Tak mengandung produk hewani
Kondom adalah alat kontrasepsi favorit kedua di Jerman setelah pil. Tapi Siefer baru menyadari bahwa branding produk ini sudah begitu kuno saat sedang berjalan-jalan dengan pacarnya. Dia merasa bahwa konsumen hari ini akan tertarik pada kondom yang lebih ramah lingkungan, dan setelah sempat melupakan konsep itu, Zeiler menyambut ide terebut dan menyebutnya cocok untuk e-commerce.

Mereka ingin membuat bisnis yang adil dan berkelanjutan, bukan hanya untuk planet tempat kita tinggal, namun juga bagi para pekerjanya.

Setelah menghabiskan satu dekade bergelut di dunia startup, Siefer dan Zeiler mencari cara untuk keluar dari mimpi kapitalis.

“Jika Anda menanyakan pada saya sewaktu kecil bila besar nanti mau jadi apa, saya akan berkata ‘ingin menjadi jutawan’,” kata Siefer. “Tapi setelah 10 tahun menjadi wirausahawan, saya menyaksikan banyak teman menjadi jutawan, namun mereka tidak bahagia.”

Sebagai permulaan, mereka meluncurkan proyek urundaya yang berhasil mendapatkan €100.000 (atau sekitar Rp1 miliar). Di titik itulah veganisme menjadi bagian dari perencanaan produk Einhorn.

“Kami ingin membuat produk yang mudah dijual dan dikirim secara daring, dan tidak membuat kami sibuk dengan urusan pengembalian barang, yang bisa menyedot biaya besar bagi para penjual daring,” kata Siefer. “Kondom adalah produk yang tepat. Saat itu kami belum memutuskan produk ini akan menjadi vegan atau tidak.”

Hari-hari dimana kondom terbuat dari usus domba memang sudah usai, namun sebagian besar kondom yang dijual di pasaran masih mengandung protein hewani, yakni kasein.

Bahan dasar utama kondom, tentu saja, adalah lateks – ekstrak getah pohon karet yang kebanyakan dipanen di negara-negara tropis di wilayah Asia. Protein kasein, yang banyak terdapat di susu mamalia, dipakai untuk melembutkan lateks.

Einhorn sama sekali tak memakai kasein – namun menggantinya dengan pelumas alami dengan bahan dasar tumbuhan. Mereka juga mengaku mendapatkan bahan lateks dengan cara yang sebisa mungkin ramah lingkungan.

Einhorn bukanlah merek pertama yang membuat kondom berkelanjutan atau vegan. Sebuah merek dagang dari Amerika Utara, Glyde, sudah lebih dulu membuatnya pada 2013. Sejak itu, sejumlah produk kondom berkelanjutan lain muncul di rak-rak supermarket dan turut ambil bagian dari pasar kondom global, yang pada 2026 diperkirakan senilai USD $15 miliar.

Meski pasar ini masih relatif baru, Einhor berkata konsumen mereka kebanyakan berusia di antara 20 sampai 40 tahun, dan 60% pembelian dilakukan oleh perempuan.

“Masih banyak orang yang merasa malu membeli produk seperti kondom, dan akhirnya menyembunyikannya di bawah tumpukan produk-produk lain saat mereka berbelanja. Maka kami ingin menjangkau konsumen yang menyadari pentingnya produk-produk berkelanjutan, sekaligus menyingkirkan ketabuan ini dengan membuat desain yang menyenangkan,” ujar Siefer.

Produk ‘berkeadilan’
Ekspansi besar-besaran perkebunan monokultur karet selama 30 tahun terakhir telah menyebabkan deforestasi, juga berdampak burk pada habitat alami satwa liar. Untuk mengatasi hal ini, Einhorn tak lagi memakai produk karet dari perkebunan tradisonal dan memilih untuk bekerja bersama sekelompok petani kecil di Thailand.

Para petani ini sebisa mungkin menghindari pemakaian pestisida, dan menghilangkan gulma dengan perkakas bertani. Tujuannya adalah untuk menciptakan pertanian yang suatu hari nanti bisa benar-benar bebas dari bahan kimia. Uji coba lahan untuk menentukan spesies tanaman lokal yang akan mendukung keanekaragaman hayati juga sedang berlangsung.

Beberapa penelitian juga mengungkap masalah-masalah serius yang berkaitan dengan kondisi buruk pekerja di sejumlah perkebunan karet. Untuk itulah, Einhorn memiliki sebuah tim yang bertugas berada di lapangan selama setidaknya tiga bulan dalam setahun untuk menjamin “keberadilan” dalam proses produksi.

Para petani dibayar 15% di atas upah minimun dan diedukasi tentang hak-hak mereka sebagai buruh. Sementara itu, kemasan kondom yang juga berkelanjutan masih terus dirumuskan. Saat ini, Einhorn telah memakai kemasan berbahan kertas yang 100% bisa didaur ulang. Tahap selanjutnya adalah menciptakan pembungkus individual kondom tanpa aluminium.

Menurut peneliti, meski membuat produk dengan ceruk konsumen spesifik seperti kondom vegan adalah langkah yang bagus, namun dampak terhadap lingkungan masih sangat terbatas. (BBC)

 

Janji untuk planet
Einhorn berharap konsep berkelanjutan mereka bisa menular ke bisnis-bisnis lain. Salah satunya melalui Entrepreneur’s Pledge, yang mereka tandatangani saat bisnis mereka dibangun.

Janji ini terinspirasi oleh The Giving Pledge yang diluncurkan oleh Bill Gates dan Warren Buffer pada 2010 – bagi Einhorn, janji ini memandatkan mereka menginvestasikan 50% laba perusahaan pada proyek-proyek yang berkelanjutan.

Pada 2018, misalnya, Einhorn menginvestasikan 10% laba perusahaan untuk proyek pengimbangan CO2 dengan cara mendanai proyek yang berkomitmen mengurangi emisi gas rumah kaca seperti peremajaan hutan kembali.

Setidaknya 100 wirausahawan lain menandatangani janji ini, dan sejujurnya, bergabung dengan komunitas tersebut membawa keuntungan bagi bisnis Einhorn. Salah satunya, mereka berhasil menjalin kerjasama dengan toko grosir DM di Jerman.

‘Produk hijau’ memang sedang naik daun di Jerman. Menurut Badan Lingkungan Jerman, konsumen negara ini menghabiskan €60 miliar untuk produk ramah lingkungan pada 2016, dan tren ini diprediksi akan terus naik.

Namun Anna Sunbermann, peneliti lingkungan di Leuphana University Lüneburg, berkata bahwa meski produk seperti kondom vegan Einhorn bagus untuk pasar produk berkelanjutan, efek jangka panjang yang mereka sumbangkan untuk lingkungan masih sangat terbatas. (*/BBC News Indonesia)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.