Kamis, 8 Desember 22

Wow! Kumpulan Ludruk Jakarta Didukung Segudang Pelawak

LUDRUK, kesenian khas asal Jawa Timur (Jatim) yang menyuguhkan tayangan edukatif bercirikan komedi. Ludruk lebih banyak menceritakan kehidupan masyarakat, kisah perjuangan dan bahkan kritik sosial yang diselingi lawakan dan diiringi dengan gamelan sebagai musik serta didahului dengan tari remo.

Sebagai seni budaya yang dimiliki Indonesia, ludruk harus dilestarikan agar tidak punah. Karena itu, dengan penuh semangat dan tekad yang kuat sejumlah seniman, pelawak dan penyanyi membangkitkan kembali kesenian ludruk dengan nama Kumpulan Ludruk Jakarta (KLJ). Dalam cerita “Durasim Pendekar Ludruk” yang akan dipentaskan di Anjungan Jatim TMII (Taman Mini Indonesia Indah) pada Minggu 6 Agustus 2017 pukul 14.30 WIB, segudang pekerja seni ikut mendukungnya.

Cak Lupus, yang akan tampil memerankan sebagai Cak Durasim.

Mereka adalah para pelawak: Cak Bathin Mulyono, Cak Bagong, Polo, Tarzan Srimulat, Doyok, Kadir, Gogon, Nurbuat, Isa Nglantur, Memed Mini, Tessy, Lupus, Ragil RM, Toni Gempil, Pangat, Ganis, Bambang, Slamet, dan lainnya. Turut pula penyanyi Si ‘Raja Minggat’ Sonny Joss dan artis sinetron/penyanyi Lusie Baya, dan lainnya. Selain itu, ikut memperkuat pula sejumlajh seniman wanita, diantaranya Ninik Chandra, Herra Rosa, Sus Ellyn, Sharmilla, Nonik Kirana, Santi, Eva dan Dewi Katayana.

Lakon “Durasim Pendekar Ludruk” ini disutradarai Cak Tatok “Koplak” Pranadi yang juga tim kreatif Cak Lontong. Aktif dalam kepengurusan KLJ sebagai Ketua adalah Cak Andreas Eno Tirtakusuma, Advokad yang juga dosen Pasca Sarjana sebuah universitas swasta di Jakarta. Berbagai profesi ikut aktif pula dalam kegiatan KLJ ini, diantaranya Cak Herry Takariono dari Pengadilan Negeri Jakarta Selatan serta Cak Sukiswanto dari Polsek Bekasi Kota.

Pada Selasa (25/7/2017) malam, di Pendopo Anjungan Jatim TMII, sejumlah komedian, artis dan anggota KLJ melakukan latihan pentas “Durasim Pendekar Ludruk”. Sebagai Sutradara, Tatok memiliki target agar kesenian Ludruk bisa tetap langgeng dan dikenal masyarakat di seluruh Indonesia. “Semoga Ludruk bisa go nasional,” paparnya kepada obsessionnews.com.

Pelawak wanita Srimulat Ninik Chandra bahkan berharap Ludruk KLJ ini bisa go internasional. Apalagi, dia sudah pernah diundang untuk pentas seni di Beijing, beberapa negara Eropa dan lainnya. Bahkan penyanyi si ‘Raja Minggat’ Sonny Joss sudah empat kali diundang bermain di Suriname. “Saya diundang langsung oleh Perdana Menteri Suriname dan dibelikan tiket pesawatnya. Di negara sana itu, orang-orang biasa bicara dengan bahasa Jawa atau Belanda. Mereka malah gak bisa bahasa Indonesia,” ujarnya.

Cak Andreas Eno Tirtakusuma

Sementara Cak Andreas Eno Tirtakusuma mengaku rela mengorbankan waktunya sebagai Ketua KLJ untuk aktif dalam kegiatan kesenian ludruk ini, meski dirinya sibuk sebagai advokad dan dosen pascasarjana. “Kita kan tidak hanya mengamalkan ilmu di perguruan tinggi, tapi juga pengabdian masyarakat. Saya senang dengan kesenian ludruk,” jelasnya.

Nampaknya, bakat bermain ludruk sudah dipunyai sejak kecil oleh pelawak Doyok Srimulat. “Saya itu sejak kecil sudah senang nonton ludruk. Uang dari kakek saya untuk bayar sekolah 5 bulan dulu gak saya bayarkan gara-gara saya pakai nonton ludruk,” kisah Doyok sembari terkekeh.

“Ludruk itu memang melekat pada diri saya. Begitu lulus SMA dulu, saya langsung merantau ke Jakarta, bonek. Saya main ludruk dan Srimulat. Saya berharap kesenian ludruk ada terus dan terjadi regenerasi. Generasi muda harus dikenalkan ludruk, agar kesenian Jawa Timuran ini tidak punah,” ucap Doyok yang duduk berdampingan dengan Kadir.

Cak Isak Nglantur yang sehari-harinya aktif sebagai pelawak, MC dan artis sinetron, berharap pemerintah melalui pemerhati ludruk hendaknya peduli terhadap kesenian ludruk. “Harus ada kepedulian pemerintah seperti di Korea itu, K-Pop di Korea itu dibiayai pemerintah sehingga mendunia. Mestinya kesenian ludruk juga harus dilestarikan,” ujar Cak Isak yang pernah tampil di “Republik Mimpi” bersama pakar komunikasi UI Dr Effendi Gazali di Metro TV.

Cak Isa Nglantur

Lakon ‘Durasim Pendekar Ludruk’ ini mengisahkan Cak Durasim sebagai pahlawan pribumi melawan tentara Jepang menjajah Indonesia dengan bengis dan keji menyiksa rakyat, bahkan membunuhnya secara kejam bagi yang melawan. Namun, Durasim melakukan perlawanan melalui kesenian di Surabaya. Dia membentuk perkumpulan kesenian ludruk, Melalui lakon dan cerita yang dimainkan Durasim mulai membakar dan mengobarkan semangat rakyat untuk melakukan perlawanan terhadap Jepang.

Ternyata, ada seorang pengkhianat yang melaporkan kepada tentara Jepang bahwa Durasim secara diam-diam telah membakar semangat rakyat untuk melakukan perlawanan terhadap tentara Jepang. Akibatnya, Durasim pun ditetapkan sebagai DPO (Daftar Pencarian orang) dan dicari dengan menempuh segala cara untuk menangkap Durasim. Meski cerita bersejarah ini dimainkan serius namun dalam berbagai adegannya disisipkan selingan humor sebagai kekhasan ludruk.

Ninik Candra Srimulat bersama para pemain ludruk KLJ.

Pelawak Polo sebagai komandan latihan secara tegas meminta faktor disiplin harus diutamakan dalam latihan ludruk. “Kalau tidak disiplin, maka hasilnya akan berantakan. Semuanya harus profesional, jangan ada yang merasa paling pintar. Jalankan peran masing-masing, jangan ada yang iri sehingga jadi duri dalam daging,” tutur Cak Polo.

Faktor disiplin dalam latihan juga ditekankan oleh Cak Tarzan saat memberikan pengarahan di depan latihan KLJ ini. “Pentas cerita ini harus ditentukan berapa segmen. Nama-nama yang akan bermain di setiap segmen harus siap jika giliran waktunya. Saat ngomong di panggung juga harus tunggu giliran, agar tidak tumpuk,” pesan pelawak senior Srimulat.

Si “Raja Minggat” Sonny Joss dan Cak Herry Takariono

Cak Bathin mengungkapkan, generasi muda sekarang belum banyak menyukai kesenian tradisional yang merupakan kesenian lama Indonesia, maka pihaknya mengadakan diklat Ludruk di Anjungan Jatim TMII untuk melestarikan seni ludruk yang dikolaborasikan dengan seni-seni modern dengan cerita-cerita rakyat terkini.

Cak Bathin mendorong Diklat dibagi dengan 3 kategori yakni Pengrawit (Pemusik Tradisional), Penari Remo dan Pemeran Ludruk dapat melahirkan generasi baru pecinta kesenian tradisional Jatim khususnya Ludruk. “Kita perlu lestarikan ludruk, harus ada regenerasi para pemain ludruk,” tekad pemeran mata-mata Jepang (pengkhianat) dalam lakon ‘Durasim Pendekar Ludruk’ ini.

Cak Ragil RM, pelawak API angkatan ke 1.

Cak Ragil yang biasa menjadi pelawak dan MC di berbagai tempat, juga berharap kesenian ludruk tetap survive karena sebagai identitas Jatim. “Kalau Jateng punya ketoprak, Jatim punya ludruk,” kata Cak Ragil yang pernah tampil menjadi bintang di Komedi Terang Bulan RCTI, Spontan SCTV, Komedi Gaul TPI, Bajaj Bajuri Trans TV, Pasta Gigi TVRI, Canda Tanya TRANS 7, Republik BBM INDOSIAR, Morning Show Global TV, Empat Mata TRANS 7, Ngerujak JAK TV, Bubaran Kantor SINDO TV, Komedi Perda (Koper) TVRI, Canda Metropolitan MNC TV, Sinetron Kutunggu Cintamu di Pasar Minggu RCTI, dan lain-lain.

Selain itu, Cak Ragil juga menjadi bintang iklan obat batuk MEXTRIL, ACCU GS ASTRA 2 Versi, MADU TJ, Layanan Masyarakat PEMDA DKI dan yang lainnya baik menjadi Player maupun Gues Star. (Red)

 

Pelawak senior Cak Nurbuat, yang selalu tampil tari remo di awal pembukaan ludruk.

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.