Minggu, 17 Oktober 21

Komunitas Jendela Peduli Pendidikan Anak

Komunitas Jendela Peduli Pendidikan Anak

Yogyakarta, obsessionnews.comBuku merupakan kumpulan kertas atau bahan lainnya yang dijilid menjadi satu pada salah satu ujungnya dan berisi tulisan atau gambar. Ini menjadikan sebuah ide dari kalangan komunitas yang ada di Yogyakarta untuk mengembangkan minat baca anak. Ya, Komunitas Jendela namanya. Komunitas ini sangat peduli terhadap perkembangan pendidikan anak-anak.

Komunitas Jendela berdiri pada 12 April 2011. Pasca erupsi Merapi sekelompok remaja dan orang dewasa membentuk sebuah komunitas yang bisa membantu trauma anak-anak korban erupsi Merapi saat itu. Sebelum terpikirkan untuk membuat sebuah komunitas yang sadar akan pentingnya sebuah buku ini, saat erupsi Merapi tahun 2010 lalu banyak sekali donasi buku dari berbagai daerah yang dikirimkan untuk korban erupsi saat itu, terutama anak-anak yang sempat berhenti untuk menimba ilmu. Kemudian tanpa menghilangkan rutinitas anak-anak tersebut untuk membaca buku apalagi bersekolah, terciptalah sebuah pemikiran di benak pencetus Komunitas Jendela, Taofan Firmanto Wijaya dan teman-teman. Selanjutnya diikuti koordinator angkatan berikutnya, seperti Marisa, Agus Setiawan, Vista Gasela, dan 20 teman lainnya. Mereka berpandangan anak-anak tidak cukup berhenti sejenak untuk belajar. Walau dalam keadaan yang bahaya tersebut, mereka pun harus tetap belajar.

“Awalnya waktu erupsi Merapi itu terjadi kami mengadakan shelter sementara. Banyak korban jiwa, terutama anak-anak yang kehilangan masa belajarnya. Untuk meringankan beban dan sedikit demi sedikit menghilangkan trauma pada anak-anak, kami lantas membuat perpustakaan kecil untuk ruang baca anak korban erupsi Merapi,” terang Agus Setiawan, koordiantor Jendela pada obsessionnews.com pekan lalu.

Mengapa Jendela? Agus Setiawan alias Wawan ini mengatakan bahwa buku adalah jendela dunia. Kemudian tersimpanlah kata jendela untuk nama komunitasnya, yakni Komunitas Jendela. Banyaknya donasi buku tadi yang datang ke shelternya, sangat disayangkan jika didiamkan begitu saja. Dengan adanya perpustakaan kecil, anak-anak bisa membuka wawasan dan ilmu di situ.

Komunitas Jendela memang berpusat di Yogyakarta. Namun hingga kini Komunitas Jendela sudah berkembang sampai ke Bandung dan Jakarta. Dan dalam waktu dekat akan terbentuk di Jember, Jawa Timur. Tentunya sama untuk visi dan misinya.

Pasang-surut jalannya komunitas ini tak membuat mereka patah semangat. Bahkan Komunitas Jendela ini berusaha bagaimana agar anak-anak tetap memiliki semangat belajar dan minat baca yang besar. Setiap hari Minggu, komunitas ini ikut berjualan di Sunmor (Sunday Morning, kawasan lembah UGM). Tentunya barang-barang yang masih layak bakal mereka jual dan hasil penjualan dibelikan perlengkapan sekolah atau menambah buku bagi anak-anak kurang mampu atau anak-anak yang ada di ruang lingkup mereka.

“Seperti baju bekas atau buku-buku bekas yang nantinya akan dibelikan buku baru untuk anak-anak. Ada juga yang memberikan buku bekas atau baju bekas untuk disumbangkan pada anak-anak melalui komunitas kami. Rutin setiap satu minggu sekali kami ada programnya untuk anak-anak. Terutama yang di Desa Turgo sana, kami pantau apakah sudah bisa mandiri atau belum,” kata Vista Gasela.

Sebagai divisi volunteer, Vista Gasela atau akrab dipanggil Sela mengatakan bahwa komunitas ini sekadar ingin berbagi, terutama dengan anak-anak, agar mereka lebih menyukai membaca buku. Tak hanya itu, ada juga permainan yang sebelumnya diceritakan dalam buku tersebut.

“Untuk buku-buku kami bagi menjadi beberapa bagian. Seperti ilmu pengetahuan, anak-anak, remaja, dan umum. Kami sortir dahulu buku-bukunya, mana yang untuk anak-anak, remaja maupun umum. Sejauh ini kami juga akan mengirimkan buku-buku dari donasi buku tadi hingga Papua,” tambah Sela. (Anissa Nurul Kurniasari)

Related posts