Jumat, 7 Oktober 22

Kompolnas: Kasus Pengeroyokan di Bengkel Kafe Harus Tuntas

Kompolnas: Kasus Pengeroyokan  di Bengkel Kafe Harus Tuntas

Jakarta, Obsessionnews Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas), lewat salah seorang komisionernya, Edi Saputra Hasibuan, mendesak kepada penyidik Polda Metro Jaya menuntaskan kasus pengeroyokan di Bengkel Kafe, SCBD, Jakarta. Polisi jangan “mempetieskan” kasus tersebut.

Sebelumnya, dua perwira kepolisian yakni Kompol Teuku Arsya Khadafi dan Kompol Budi Hermanto dipukuli oknum petugas POMAL di Bengkel Cafe kawasan SCBD Jakarta Selatan, Sabtu (7/2) dinihari.

Kejadian berawal saat puluhan personil gabungan TNI dan Provost Polri merazia anggota di kafe tersebut.

Insiden penganiayaan terjadi ketika korban Kompol Arsya menanyakan pimpinan anggota gabungan yang merazia bahkan sempat memperlihatkan surat “sprint” tugas ketiga anggota itu.

Karena dianggap melawan, sejumlah anggota yang merazia menganiaya Kompol Arsya hingga mengalami luka serius.

Usai mendapatkan tindakan kekerasan, Arsya melaporkan ke Polda Metro Jaya terkait peristiwa pengeroyokan yang diduga dilakukan oknum Pomal itu.

“Semua taat hukum tidak ada Warga Negara Indonesia yang kebal hukum,” kata Edi Hasibuan saat dikonfirmasi di Jakarta, Rabu (11/3).

Edi juga meminta penyidik kepolisian menindaklanjuti dugaan penganiayaan oknum Pomal TNI terhadap dua perwira Polda Metro Jaya Tersebut, dan Kompolnas tidak setuju jika laporan penganiayaan terhadap anggota Polri dihentikan karena barang bukti sudah lengkap,” tegas Edi.

Jika proses hukum dugaan penganiayaan itu dihentikan, Edi mengatakan akan berdampak buruk terhadap setiap anggota Polri yang menjadi korban penganiayaan oknum TNI.

Sementara itu, Ketua Pengurus Setara Institute Hendardi menyatakan penyidik kepolisian tidak boleh diskriminasi menyikapi laporan pengelola Bengkel Kafe.

“Seperti yang kerap disuarakan polisi dalam ketegangan KPK-Polri bahwa setiap laporan masyarakat mesti ditindaklanjuti,” ungkap Hendardi.

Menurut Hendardi sekalipun dugaan pelakunya oknum TNI namun operasi gabungan itu juga melibatkan unsur Polri.

Saat operasi gabungan, Hendardi mengungkapkan diduga terjadi tindak penganiayaan terhadap anggota Polri termasuk kerugian yang dialami pengusaha tempat hiburan.

Sehingga tidak ada alasan penyidik kepolisian untuk menghentikan atau mempetieskan kasus tersebut, ungkap Hendardi.

Termasuk pihak kepolisian menjamin keamanan masyarakat karena Polri memiliki otoritas dalam melindungi keamanan warga.

Sementara itu dihubungi di tempat terpisah, Ketua Umum Persatuan Wartawan Republik Indonesia (PWRI), Suriyanto, mengatakan, sudah sepantasnya Polri mengusut dan menidaklanjuti kasus tersebut. Jangan didiamkan, karena menyangkut hak asasi seseorang, terlebih korbannya adalah perwira Polri yang terbilang masyarakat pilihan bangsa Indonesia, calon pimpinan masa depan di Kepolisian

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.