Minggu, 20 Oktober 19

Komparasi Orde Baru

Komparasi Orde Baru

Oleh: Zeng Wei Jian,  Aktivis Komunitas Tionghoa Anti Korupsi (KOMTAK)

 

Dahulu, mudah bagi kita mengecam Pa Harto, TNI dan Orde Baru. Sebabnya, komparasi yang diinserted ke dalam otak kita adalah angan-angan. Pelakunya, ya liberal, komunis, CIA, agent Beijing dan sebagainya.

Orde Baru dibandingkan dengan surga dan utopi komunis, di mana masyarakat adil dan beradab, tanpa perang, gemah ripah loh jinawi, ngga ada orang miskin sekaligus ngga ada yang kaya. Pa Harto dibandingkan dengan seorang “benevolent monarch”, seorang penguasa bijak yang dikirim oleh Dewata. Ya pasti kalah Pa Harto dan Orde Baru. Sayangnya, itu semua utopi, angan-angan, hayali, isapan jempol. Mestinya, saat itu, Orde Baru dikomparasi dengan Orde Lama. Pa Harto dengan Bung Karno. Baru, based on fact.

Sekarang, banyak ex mahasiswa 98 mengalami “understanding shifting”. Dulu mereka terlibat gerakan reformasi. Anti Orde Baru. Jadi pion CIA, New Left, Progresif dan tokoh-tokoh nasional haus kekuasaan.

Dulu itu, bahan bacaan kita kurang. Usia muda. Darah masih panas. Buktinya, jerawatan. Pengalaman terbatas. Jarang mikir. Yang penting: Lawan…!! Gampang dihasut, ditipu, dibohongin. Plus, diimposed slogan: Anti Orba itu keren. Makin menjadi-jadi kita. To be progressive is cool. Makanya di antara kita ada yang demen pake T-Shirt Che Guevara. Ngga taunya, Che Guevara pernah membunuh anak usia 14 tahun di Penjara La Cabana.

In total, di penjara itu, Che Guevara diperkirakan mengeksekusi sekitar 500 orang tahanan tanpa pengadilan.

Orang tua mana yang ngga elus dada bila anaknya mengidolakan Che Guevara. Alih-alih seorang freedom fighter, ternyata Che Guevara adalah penyeru kebencian. Dia pernah bilang, “Hatred as an element of struggle; unbending hatred for the enemy, which pushes a human being beyond his natural limitations, making him into an effective, violent, selective, and cold-blooded killing machine. This is what our soldiers must become…”

Nah, seperti itu tuh dulunya aktifis 98. Sekarang, sebagian dari mereka mulai dewasa. Ada yang jadi anggota DPR, Gubernur, Walikota, Dirjen, Komisaris, buzzer atau dosen. Ada yang tetap jadi aktifis NGO. Sebagian lagi, balik arah. Jadi Pro Orde Baru. Mereka nyekar dan minta maaf ke makam Pa Harto.

Sekarang, bacaan mereka komplit. Hampir matang. Pengetahuan sudah luas. Tambah bijak. Sekarang, komparasi nyata bisa dilakukan. Komunis, Progresif, Sosialist, ngga bisa lagi memakai utopi. Masa Orde Baru bisa diperbandingkan dengan rezim-rezim sesudahnya.

Era Habibie, Timor Timur lepas. Perang rasial pecah di Ambon. Zaman Gus Dur, ada jargon “Gitu aza repot”. Seakan negara ngga mau puyenk. BUMN dijual dan swastanisasi terjadi saat Bu Mega berkuasa. Pas Pa SBY jadi presiden, taktik make-over, polesan, pencintraan mulai dilakukan. Zaman sekarang: No Comment deh. Takut dianggap makar.

Bagi saya, ada satu hal yang paling membedakan antara Era Pa Harto dan Masa Reformasi.

Dulu saat Pa Harto berkuasa, tidak ada satu pun taipan yang berani sama Pa Harto. Wibawa presiden dan seni bernegara (statecraft) masih ada. Pasca Pa Harto tumbang, negeri ini dikuasai konglomerat. Negara dikoptasi swasta. Dan itu, bagi saya, IRONIC.

Tidak ada yang sempurna. Orde Baru dan Pa Harto juga begitu. Tapi bila dibandingkan dengan rezim-rezim sebelum dan sesudahnya, overall Pa Harto dan Orde Baru masih lebih baik.

THE END

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.