Minggu, 5 Desember 21

Kolong Truck Jadi Perindukan

Kolong Truck Jadi Perindukan
* Sejumlah sopir truck melepas lelah dengan tidur di bawah kolong truk dengan beralaskan aspal di area parkir Terminal Roro, Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, Kamis (7/5/2015). (Obsessionnews.com/Ari Armadianto)

Surabaya, Obsessionnews –  Puluhan kendaraan truck antrean di sekitar di Terminal Roro di Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, Kamis (7/5/2015) siang. Penumpukan kendaraan terjadi sejak pagi itu, hendak menyeberang ke luar Pulau Jawa seperti Banjarmasin, Batu licin, Balikpapan, Sampit, Maumere, Makassar, dan Ende dan sebaliknya.

Menunggu kapal datang, tak heran jika di sisi jalan terlihat para supir truck sedang istirahat. Ada yang tidur, makan, dan berbincang-bincang. Bahkan, kopi hangat dan rokok tidak henti-hentinya menemani mereka.  Kebanyakan dari mereka adalah orang yang dikejar waktu.

Matahari semakin tinggi kian menyelimuti suasana sebagian sopir truk.  Terlihat dari raut wajah mereka yang kesal, rasa kantuk pun akhirnya tak terbendung hingga mereka nekat tidur di bawah kolong trucknya di tengah-tengah antrean.

Mereka tidak saling kenal, tapi dengan adanya kondisi tersebut, setidaknya pertemanan terjalin. Anto (46), sopir truck, mengaku telah antre 8 jam. Ia mengatakan, ini adalah bukan kali pertama tidur di bawah kolong truck.  Sungguh memilukan. Raut wajahnya yang pilu menggambarkan dia pasrah. “Sudah lama saya di di sini (Terminal Penumpang Roro)”, kata bapak dua orang anak ini.

SOPIR TRUCK TIDUR (2) - TERMINAL RORO TG PERAK - KAMIS 7-5-2015

Tidak jauh dari aspal sebagai perindukan Anto, di sebelah kiri jalan tak hanya antrean saja yang terlihat. Tepat di pintu masuk Terminal Penumpang Roro, duduklah beberapa penjaja makanan ringan. Mereka sibuk melayani para supir-supir truck dan para pengantri lainnya. Tergambar di sini, ternyata selalu ada berkah di balik musibah.

Ya, tak sampai setengah jam, minuman dan gorengan yang dijajakan ludes tanpa tersisa, kemudian para pedagang ini kembali mengambil stock barang, kemudian ludes lagi. “Ya, lumayan buat ngais-ngais rejeki lah, daripada orang-orang yang ngatri kelaparan juga, kasian,” tutur Inem, penjual makanan.

Lain cerita dengan pak Ferry, dia harus tetap terjaga mengawasi barang bawaan perabotan rumah tangga. Saat ditanya, mereka hanya menjawab “Kalau saya tinggal tidur, khawatir hilang”, jelasnya.

Menurut mereka, hari ini adalah hari yang kelabu. Meski antrean dan menunggu kapal menjadi hal yang biasa buat mereka, namun hati, wajah, dan perasaan para sopir truck tidak bisa berbohong. (GA Semeru)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.