Rabu, 12 Agustus 20

KMP Merasa Dilemahkan Oleh Demokrat

KMP Merasa Dilemahkan Oleh Demokrat

Jakarta – Adanya perpecahan di internal Partai Golkar dan Partai Persatuan Pembangunan (PPP) akan berdampak negatif terhadap kekuatan Koalisi Merah Putih (KMP) di DPR. Namun, sejatinya, bagi Pengamat  Politik dari Lingkar Madani Indonesia (LIMA) Ray Rangkuti menilai, bahwa yang melemahkan KMP sebenarnya adalah Partai Demokrat.

Dengan gayanya yang mengaku sebagai partai penyeimbang, Demokrat dianggap telah memakai perannya untuk bermain politik dua kaki. Disatu sisi Partai besutan Susilo Bambang Yudhoyono itu beberapa kali telah mendukung apa-apa yang yang menjadi kebijakan KMP. Tapi disi lain, Demokrat juga menunjukan dukungannya kepada Koalisi Indonesia Hebat (KIH) ntuk bersama-sama ‎memilih Pilkada secara langsung.

Untuk itu, menurut Ray Demokratlah yang sebenarnya memegang kendali dari kekuatan politik KMP di DPR. Pasalnya, jika Demokrat membelot, maka kekuatan KIH jauh lebih besar di DPR. Dengan demikian, secara otomatis KMP akan selalu setia menuruti kemauan Demokrat untuk sama-sama mendukung Pilkada langsung.

‎”Demokrat tidak akan pindah ke KIH. Kenapa? Karena selama dia bisa kendalikan KMP, dia akan di KMP. Dengan senjata saya pindah, saya pindah, itu akan menyandera KMP sendiri‎,” ujar Ray di Jakarta, Sabtu (13/12/2014).

Bagi Ray selain Partai Demokrat‎, partai-partai lain mudah dikendalikan untuk tetap bergabung bersama KMP. Misalnya saja, Golkar, saat mengadakan Musyawarah Nasional di Bali akhir November lalu, Ketua Umum Golkar Aburizal Bakrie telah memutuskan untuk menolak Pilkada langsung. Namun, kini sikap Golkar sudah berubah dan kembali mendukung Pilkada langsung.

Demikian juga partai lain seperti PPP versi Suryadharma Ali. Meski, partai ini tidak mendapatkan jatah kursi pimpinan di DPR. PPP tetap setia mendukung KMP. Sebagian dari mereka yang kecewa dengan sikap Suryadharma akhirnya memisahkan diri untuk mendukung KIH dan mengangkat Romahurmuziy sebagai Ketua Umum PPP versi Munas di Surabaya.

Kondisi ini berbeda dengan Demokrat, partai ini kata Ray, akan terus mencari perannya untuk mengendalikan KMP. Demokrat selalu mengatakan berada dalam posisi netral tidak memihak, tapi dibalik itu, Demokrat sebenarnya sudah banyak diuntungkan. ‎” Mau tidak mau Demokrat diuntungkan dengan posisi ini. Tinggal tekan saja KMP. Apa-apa minta, apa-apa minta,” katanya.

Di luar itu sebut Ray, Demokrat juga memerankan politik besan dengan Partai Amanat Nasional (PAN) yang juga menjadi salah satu partai pendukung KMP. Jika permintaan Demokrat tidak dipenuhi oleh KMP untuk mendukung Pilkada Langsung, atau permintaan lainya, maka Demokrat akan mengancam pindah ke KIH, disertai dengan dukungan dari PAN. (Abn)

 

Related posts