Kamis, 28 Mei 20

Kita Bangsa Besar, Petarung dan Pejuang

Kita Bangsa Besar, Petarung dan Pejuang

Oleh : Chazali H. Situmorang, Pemerhati Kebijakan Publik

Sebagai bangsa besar,petarung, dan pejuang_, sebanyak 1.155 orang rakyat Indonesia terinfeksi oleh virus corona. Bertambah sekitar 100 per hari.

_Sebagai bangsa besar, petarung dan pejuang_, sudah 102 orang yang tewas karena virus corona, ya itu berarti 8,8% dari jumlah rakyat yang terinfeksi. Hasil pertarungan dan perjuangan rakyat, maka yang tewas juga besar. Bangsa besar, korban juga besar.

_Sebagai bangsa besar, petarung, dan pejuang_, hari-hari ini ribuan orang mudik dari Jakarta ke kampung halamannya masing-masing. Jawa Timur, Jawa Tengah. Ditemani ribuan mungkin ratusan ribu virus corona yang menempel dan bercengkrama di tubuh mereka yang mudik, dan siap menularkannya kepada keluarganya sekampung. Kita bangsa yang besar, petarung dan pejuang untuk membuat outbreak yang lebih besar lagi.

_Sebagai bangsa besar, petarung dan pejuang_, rela berjibaku di keramaian, berdagang, berjualan, Ojek, supir taksi, tanpa menghiraukan resiko menular dan ditulaskan virus corona. Physical distancing lebih banyak jargon-jargon dalam perjuangan besar mereka.

_Sebagai bangsa besar, petarung dan pejuang_, mereka berdesak-desakan, berhimpitan di KRL, terminal bus, untuk masuk kantor bekerja, karena atasan mereka menghendaki mereka tetap masuk kerja. Mereka siap mengambil resiko terinfeksi, karena itu suatu petarungan dan perjuangan sebagai bangsa besar.

_Sebagai bangsa besar, petarung, dan pejuang_, para tenaga medis menggunakan APD alakadarnya ( mantel hujan, plastik), untuk sekedar simbol ada alat perlindungan diri untuk menakut-nakuti virus corona yang tidak menyerbu mereka. Ada yang takut, ada yang tiidak. Ada yang tewas itu resiko bangsa pejuang. Kan dapat tunjangan kematian ratusan juta rupiah. Ada yang mengusulkan sebagai pahlawan. Kalau ada Makam Pahlawan Perjuangan Kemerdekaan, ada Makam Pahlawan Seroja untuk Timtim, bukan tidak mungkin ada Makam Pahlawan medis dan para medis korban Covid-19. Kenapa tidak, kalau korbannya cukup banyak.

_Sebagai bangsa besar, petarung, dan pejuang,_ Presiden tidak tinggal diam akan memberikan bantuan kepada mereka-mereka yang paling terdampak akibat perjuangan melawan covid-19, uang tunai untuk sembako, bebas angsuran kredit, padat karja berjarak, sebagai dukungan logistik selama bertarung dan berjuang, untuk tetap hidup dan sanggup bertahan dalam petarungan dan perjuangan panjang, dan berharap menjadi bangsa besar yang jadi pemenang.

_Sebagai bangsa besar,petarung dan pejuang_, tidak perlu memerlukan persiapan panjang untuk melawan covid-19, walaupun tetangga bangsa lain yang kecil, bukan petarung dan bukan pejuang sudah babak belur menghadapi covid-19. Kita dengan keyakinan tinggi, sebagai karakter bangsa besar, petarung dan pejuang mengganggap itu virus tidak berani ke Indonesia. Karena kehebatan kita di kekuatan doa, dan immunitas rakyat Indonesia tinggi. China, Korea Selatan, dan Jepang kita anggap bangsa yang tidak seunggul kita, sebagai bangsa besar, petarung dan pejuang.

_Sebagai bangsa besar, petarung dan pejuang_, sudah 27 propinsi terpapar, dari 34 propinsi, dalama waktu 2 minggu saja. Itu bukti kehebatan kita sebgai bangsa besar, petarung dan pejuang yang sanggup melebarkan ladang perjuangan melawan virus sekaligus membawa virus corona itu sebagai lawan perang rakyat Indonesia.

_Sebagai bangsa besar, petarung, dan pejuang_, tidak perlu mengambil model taktik dan strategi pertempuran dari negara lain yang sudah menang perang. Karena kita bangsa yang berbeda, gen nya beda, virus corona akan mati diair liur, dalam tubuh rakyat Indonesia. Rakyat Indonesia percaya itu. Sehingga tidak ada yang panik, walaupun negara tetangga sudah ada yang bergelimpangan. Yang penting minum jamu, sehingga menaikkan jualan jamu gendong sang empok, atau mbak Sumiyem.

_Sebagai bangsa besar, petarung, pejuang,_ walaupun serba kekurangan ventilator, desinfektan, ADP, masker, obat-batan peningkatan daya tahan tubuh, kita tidak menyerah. Korban boleh berjatuhan, tetapi ekonomi kita harus tidak boleh goyah. Karena negara sedulur kita (China) siap membantu sesuai yang dibutuhkan.

_Sebagai bangsa besar, petarung dan pejuang,_ kita tidak merasa malu menerima bantuan peralatan kesehatan dari China, karena yang dibantu itu yang memproduksinya Indonesia ( masker, APD) di kirim ke China, dan ternyata ada sisa, kembali ke Indonesia, sebagai bantuan negara China. Kita memang bangsa besar yang siap membantu bangsa lain, walaupun akhirnya kita sendiri kekurangan. Itu resko bangsa pejuang dan petarung.

_Sebagai bangsa besar, petarung dan pejuang,_ akhirnya percaya dirinya punya daya tahan tinggi. Rakyat Indonesia akan tetap hidup dan bertahan walaupun tidak ada pemerintahan. Saat ini rakyat Indonesia adalah rakyat yang hebat, mengumpulkan uang rame-rame, menjadi donasi bagi pemerintahanya, yang ternyata uangnya sudah kandas, juga sebagaian besar diperoleh dari pajak rakyat.

Walaupun uang sudah kandas, ekonomi jeblok, tetapi pemerintah tidak kekurangan humorisnya. Memberikan janji bantuan kepada rakyatnya yang rentan, supaya gelora petarung dan pejuang tidak surut.

Janji yang sulit dipenuhi dapat dicermati dari Inpres Nomor 4 Tahun 2020 Tentang _Refocussing_. Mari kita perhatikan baik-baik, tidak ada satu kalimatpun menyebutkan anggaran dimaksud apa nomenklaturnya. Anggaran apa namanya, dari mana sumbernya. Seharusnya disebutkan anggaran pembangunan dan belanja negara ( APBN) 2020, karena bunyi UU APBN begitu. Anggaran yang telah ada itu apa, tidak ada dicantumkan.

Tarik ulur sering terjadi jika pihak kementerian yang disuruh mengusulkan revisi anggaran. Prosesnya tidak bisa cepat apalagi suasana pertempuran dengan covid-19. Karena sudah darurat perang, kenapa tidak pihak kemenkeu langsung melakukan relokasi dimaksud, bekerjasama dengan Bappenas yang turut menyusun anggaran. Kementerian hanya menyesuaikannya saja.

Semoga sebagai bangsa besar, petarung, dan pejuang, kita masih tetap eksis dan menjadi bangsa Indoensia yang masih tercatat di PBB.

Cibubur, 29 Maret 2020

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.