Jumat, 7 Agustus 20

Kisruh Pembangunan Semen di Gunung Kendeng

Kisruh Pembangunan Semen di Gunung Kendeng

Semarang – Proses peradilan mengenai perkara sengketa antara warga di sekitar Gunung Kendeng, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, dengan PT Semen Indonesia masih berlangsung. Hingga kini acara peradilan telah memasuki ranah pemeriksaan alat bukti dari kedua belah pihak.

Warga di wilayah Gunung Kendeng, tempat lokasi pabrik semen, terbelah menjadi dua kubu yakni yang pro dan kontra. Ada sebagian warga yang mendukung dan sebagian yang lain menolak kehadiran PT Semen Indonesia di kawasan tersebut.

Warga yang mendukung pembangunan pabrik semen di wilayah Gunung Kendeng, Kabupaten Semarang, berunjuk rasa di depan gedung PTUN Semarang, Kamis (15/1/2015)
Warga yang mendukung pembangunan pabrik semen di wilayah Gunung Kendeng, Kabupaten Semarang, berunjuk rasa di depan gedung PTUN Semarang, Kamis (15/1/2015)

Warga yang termasuk dalam barisan pro pembangunan pabrik semen melakukan unjuk rasa di depan Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Semarang, Kamis (15/1/2014). Warga yang mengaku masyarakat asli Rembang tersebut menyatakan mendukung agar pembangunan pabrik semen segera dilaksanakan di wilayah Gunung Kendeng.

“Kami mendukung agar pabrik semen bisa dibangun. Kami ingin hidup layak sebagaimana masyarakat di daerah lain,” ujar orator aksi Adi Purwoto.

Adanya aksi tersebut ditengarai sebagai salah satu bentuk pengaruh kepada hakim PTUN agar memutuskan perkara seperti keinginan para warga pro pembangunan pabrik semen. Warga yang pro menginginkan agar pemerintah segera melaksanakan pembangunan pabrik semen, karena dengan dengan adanya pabrik semen tersebut dapat meningkatkan kesejahteraan warga.

“Kami dukung pemerintah, kami ingin sejahtera. Pabrik semen bisa menciptakan lapangan kerja. Pokoke pabrik semen harus dibangun!” teriaknya di halaman kantor PTUN Semarang.

Sedangkan di sisi lain, warga yang kontra terhadap pembangunan pabrik Semen tetap meneruskan gugatan mereka ke PTUN Semarang. Mereka menjelaskan kondisi daerah mereka subur. Mayoritas warga di sana merupakan petani dan hasil bumi yang ada masih sangatlah baik.

Menurut Joko Prianto, salah seorang warga Tegal Dowo, jika pabrik semen dibangun maka akan merusak kondisi lingkungan yang berdampak pada mata pencaharian warga. “Tanah di sini memang kering, tapi subur jika ditanami dan hasilnya melimpah. Sudah cukup untuk kebutuhan kami sehari-hari. Hampir setiap warga memiliki hewan ternak, seperti ayam, bebek, kambing dan sapi. Jika pertambangan untuk semen dilanjutkan, maka hewan ternak akan kesulitan air. Dampak buruk pertambangan dan pabrik semen terhadap pertanian dan peternakan saja begitu besar. Apalagi terhadap manusia itu sendiri,” terang Joko.

Sebelumnya warga yang menolak pembangunan pabrik semen telah berrunjuk rasa dengan didampingi LBH Semarang dan beberapa organisasi masyarakat. “Adanya pembangunan ini tentu saja merusak lingkungan sekitar. Kawasan Kendeng sendiri termasuk kawasan lindung geologi yang mana terdapat cekungan air tanah. Jadi, dengan didirikannya pabrik semen dapat merusak kawasan lindung tersebut,” ujar Rando Faitullah,aktivis lingkungan dari Nebula Indonesia saat ditemui Obsessionnews.com, Kamis (15/1).

Hal serupa juga dikatakan Zaenal Arifin dari LBH Semarang yang mendampingi warga anti pembangunan pabrik semen. “Warga sekarang sudah mengetahui seperti apa dampak positif dan negatif dengan dibangunnya pabrik tersebut. Sekarang ini masyarakat juga mulai mengetahui bagaimana pentingnya karst. Cekungan Watuputih itu apa dan kemudian jika ditambang akan berdampak seperti apa,” kata Zaenal.

Berdasarkan hasil penelitian Dinas Pertambangan dan Energi Jawa Tengah pada 1998 tentang air bawah tanah Gunung Watuputih di Kecamatan Sale, Kabupaten Rembang, didapatkan beberapa sumber mata air dalam jumlah sangat banyak. Di antaranya mata air Sumber Semen, mata air Brubulan, mata air Brubulan – Pasucen, mata air Sumber Kajar dan mata air Sumberan. Juga ada mata air musiman yaitu mata air Pancuran dan mata air Sendang Ipik.

Sedangkan jika ditilik dari aturan hukum yang ada, maka didapatkan Peraturan Daerah Jawa Tengah Nomor 6 Tahun 2010 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RT/RW) Provinsi Jawa Tengah tahun 2010-2030, bahwa kawasan imbuhan air merupakan kawasan lindung geologi. (Yusuf Isyrin Hanggara)

Related posts