Kamis, 27 Juni 19

Kisah Warga Etiopia yang Selamat dari Teror Berdarah di New Zealand

Kisah Warga Etiopia yang Selamat dari Teror Berdarah di New Zealand
* Masjid Al Noor di Christchurch, Selandia Baru (Foto: REUTERS/Jorge Silva)

Christchurch, Obsessionnews.com – Peristiwa kejj dari aksi teror di masjid New Zealand (Selandia Baru) menceritakan kisah tersendiri bagi seorang sopir taksi Abdul Kadir Ababora. Ia bersyukur Tuhan masih menyelamatkan dirinya dari tragedi yang paling mengerikan tersebut.

Ia bercerita saat mendengar bukti suara tembakan, Abdul langsung bersembunyi di bawah sebuah rak buku tempat meletakkan Alquran. Entah bagaimana, Tuhan menyelamatkan dirinya dari penembakan brutal yang menewaskan 50 orang tersebut.

“Itu benar-benar keajaiban,” ujarnya seperti dikutip kantor berita AFP, Senin (18/3/2019). “Ketika saya bangkit, di bagian kiri dan kanan saya hanya ada jasad-jasad,” tuturnya.

Seperti halnya banyak jemaah lainnya yang melakukan salat Jumat di Masjid Al-Noor di Christchurch, Abdul datang ke Selandia Baru untuk meninggalkan negaranya yang miskin demi mencari kemakmuran dan kedamaian.

Pria berumur 48 tahun itu meninggalkan Ethiopia dan tiba di Selandia Baru pada tahun 2010. Dua pekan lalu, dia dan istrinya menyambut kelahiran anak ketiga mereka.

Namun pada Jumat (15/3) waktu setempat, Brenton Tarrant teroris asal Australia tiba-tiba muncul di Masjid Al-Noor dan menembaki secara membabi-buta kepada para jemaah yang sedang menunaikan salat Jumat.

Abdul mengatakan, imam masjid baru saja memulai khutbahnya ketika tembakan terdengar di luar masjid. Tak lama setelah itu, Tarrant pun masuk ke dalam masjid dan langsung menembak tanpa kenal ampun.

Abdul mengatakan, dirinya langsung menjatuhkan dirinya ke lantai dan berhasil memasukkan badannya ke bawah rak buku tempat meletakkan Al-Quran. “Saya berpura-pura seolah-olah saya sudah mati,” tuturnya.

Abdul mengatakan, pelaku terus melepaskan peluru dan menembak secara acak. Bahkan Ababora bisa merasakan desingan peluru melewati tubuhnya. Rasa takut selalu menyelimuti Abdul karena ganasnya aksi teror itu sampai ia merasa kehilangan harapan.

“Saya menunggu momen saya, ketika tiap detik tembakan dilepas, saya berkata ‘Ini untuk saya. Ini untuk saya.’ Dan saya kehilangan harapan,” kata Abdul.

Disaat berada dalam situasi yang mengerikan itu, Abdul hanya mampu berdoa dan pasrah. Ketika akhirnya hujan peluru berhenti, Abdul mendapati pemandangan mengerikan di sekitarnya. Banyak orang telah tewas dan darah dimana-mana.

“Ada darah di mana-mana,” tuturnya seraya mengatakan bahwa New Zealand yang selama ini dikenal aman, kini telah berubah. “New Zealand tidak aman lagi,” cetusnya. “Ini brutal,” tandasnya. (Albar)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.