Kamis, 6 Oktober 22

Kisah Siti Aisyah Dizalimi Mafia Hukum

Kisah Siti Aisyah Dizalimi Mafia Hukum

Jakarta, Obsessionnews – Siti Aisyah (32 tahun)  menangis tersedu-sedu ketika dipaksa jaksa penuntut umum (JPU) mengakui kain terbungkus rapi di hadapannya sebagai barang bukti pencurian yang dilakukannya. Siti seorang penjual (sales) kain sprei keliling. Dia bukan pencuri namun Rabu (18/2/2015) minggu lalu, ia dipaksa mengaku sebagai pencuri oleh JPU di persidangan yang digelar Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.

“Bagaimana saya mau ngaku Mas. Saya tidak mencuri. Kenapa polisi dan jaksa memaksa saya mengaku sebagai pencuri?” ujar Siti Aisyah sambil menangis terisak saat ditemui di Rumah Tahanan Wanita Pondok Bambu, Jakarta Timur, Selasa 24/2/2015.

Siti mengisahkan kejadian yang mengantarkannya menjadi tersangka sekitar dua bulan lalu. Sekitar awal Desember 2014, Siti menjajakan kain seprei dagangannya dari rumah ke rumah di kawasan perumahan elit Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Ketika Siti Aisyah sampai di depan sebuah rumah mewah yang pagar rumahnya sedikit terbuka, ia mencoba peruntungannya. Diucapkannya salam di depan pagar rumah itu. Dari dalam rumah terdengar salamnya dijawab. Lalu, seorang wanita usia dua puluhan tahun keluar rumah sambil bertanya,” Cari siapa mbak?” Siti membalas “Ibu ada?”.

Wanita yang ternyata pembantu rumah tangga itu menjawab ibu tidak ada. “Yang ada Kakak. Silakan masuk Mbak,” sambung pembantu itu mempersilakan Siti masuk ke rumah.

Siti Aisyah lalu masuk ke dalam rumah dan melihat seorang remaja putri berusia sekitar 15 tahun keluar kamar dan menghampirinya. “Cari siapa Mbak? Ibu gak ada. Keluar. Tapi sebentar lagi pulang katanya,” kata remaja putri yang dipanggil Kakak itu.

Mengetahui tuan rumah yang dimasukinya itu masih anak remaja, Siti Aisyah lalu bergegas pamit. “Ga jadi deh, Saya balik saja dulu. Nanti kemari lagi kalau Ibu sudah pulang”.

Persis Siti Aisyah hendak membuka pintu pagar rumah, mendadak sebuah mobil datang mau masuk rumah dan menghalangi pintu pagar rumah. Seorang wanita yang adalah Ibu dari anak remaja itu keluar dari mobil sambil teriak marah-marah dan menuduh Siti Aisyah telah mencuri sesuatu dari rumahnya.

Ibu si pemilik rumah lalu menggeledah pakaian Siti meski sudah membantah keras ia tidak ada mencuri. Setelah menggeledah pakaian dan tas kain seprei yang dijinjing Siti, Si Nyonya pemilik rumah tidak puas. Dia paksa Siti tetap di dalam rumahnya dan kemudian ibu itu menelpon seseorang agar datang ke rumah. Tak lama kemudian, datang seorang pria usia tiga puluhan tahun dengan mengendari mobil Avanza.

Atas perintah Ibu pemilik rumah, Siti Aisyah dibawa ke kantor Polda Metro Jaya dan dijebloskan ke dalam sel tahanan. Keesokan harinya Siti Aisyah diperiksa untuk pembuatan Berita Acara Pemeriksaan (BAP). Selama pemeriksaan Siti dipaksa mengaku sudah mencuri di rumah yang semula ingin dia tawarkan kain sprei barang dagangannya.

Berkali-kali penyidik Polda Metro Jaya memaksakan kehendaknya agar Siti Aisyah mau mengaku sebagai pencuri atau melakukan percobaan pencurian. Berkali-kali juga Siti Aisyah menolak mengaku. “Saya bukan pencuri. Kenapa polisi memaksa? Kenapa jaksa memaksa saya mengaku?” Jerit Siti Aisyah bercampur heran.

Penyidik dan jaksa penuntut umum terus menerus memaksa, membujuk, mengintimidasi, mengancam bahkan sampai menipu atau memperdaya Siti Aisyah dengan janji-janji manis berbisa. “Saya dijanjikan divonis ringan jika mengaku mencuri. Bagaimana saya mau terima vonis bersalah. Saya kan bukan pencuri,” kata Siti.

Barang bukti yang dihadirkan di depan persidangan juga bukan miliknya atau barang yang dicurinya. Barang bukti itu dihadirkan JPU entah dari mana untuk mendukung rekayasa hukum dan kriminalisasi terhadap rakyat kecil seperti Siti Aisyah.

Entah bagaimana cara Siti Aisyah bertahan dari jebakan jaksa penuntut umum pada sidang hari ini Rabu, 25 Februari 2015, di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Mampukah Siti bergeming mengatasi cengkraman oknum jaksa yang bak singa kelaparan itu?

Siti hanya salah satu dari ribuan korban mafia hukum dan penyalahgunaan kekuasaan aparat penegak hukum. Negara Republik Indonesia ini sudah lama tidak lagi berdasarkan hukum karena hukum sudah mati di tangan para mafia hukum yang korup dan zalim. (Asma)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.