Rabu, 20 Oktober 21

Kisah Seorang Sahabat Nabi yang Menangis karena Intip Perempuan Mandi

Kisah Seorang Sahabat Nabi yang Menangis karena Intip Perempuan Mandi
* Ilustrasi.

Oleh: A. Hamid Husain, Alumni Pondok Modern Gontor, King Abdul Aziz University, dan Ummul Qura University

Ini merupakan sebuah kisah nyata seorang sahabat dekat Nabi Muhammad ﷺ yang bertaubat setelah melihat perempuan mandi. Diterjemahkan dari Kitab “Hayaatus Sahabat” yang berbahasa Arab, berikut jalan kisahnya:

Tsa’labah Bin Abdur Rahman Al-Ansori, adalah “Asisten Pribadi” Rasulullah ﷺ yang selalu lengket membantu beliau.

Suatu hari, Rasulullah ﷺ menyuruh Tsa’labah untuk suatu urusan. Maka pergilah Tsa’labah menuju tempat yang diminta oleh Rasulullah ﷺ.

Dalam perjalanan, karena pintu rumah yang dilewati terbuka, secara tidak sengaja, Tsa’labah melihat seorang perempuan yang sedang mandi telanjang.

Karena ini aib dan tergolong baru dalam pemahaman Tsa’labah setelah memeluk Islam, maka Tsa’labah ketakutan luar biasa. Jangan-jangan akan turun wahyu terkait hukum “perbuatan dosa” yang tidak sengajanya ini.

Di saat awal-awal dakwah penyebaran Islam, memang jika ada hal-hal yang hukumnya belum jelas, terkadang turun wahyu kepada Rasulullah untuk menjelaskan hukumnya.

Tsa’labah ketakutan luar biasa dan tidak berani lagi bertemu dengan Rasulullah ﷺ.

Demi menebus rasa takut sekaligus rasa bersalahnya, Tsa’labah memutuskan untuk pergi menyendiri, maka ia naik ke atas gunung yang ada di antara Madinah dan Makkah.

Di atas gunung, terdapat sebuah gua. Di dalam gua inilah Tsa’labah bersembunyi dan terus menangis karena menyesali perbuatan maksiatnya “mengintip perempuan mandi”. Ia terus meminta ampunan dan bertaubat kepada Allah SWT.

Berhari-hari Tsa’labah tidak menampakkan diri di lingkungan kediaman Rasulullah ﷺ. Sedangkan, para Sahabat juga tidak ada yang tahu keberadaan pembantu setia Rasulullah ﷺ ini.

Setelah hari ke-40, Malaikat Jibril AS atas perintah Allah SWT, memberi tahu Rasulullah ﷺ perihal Tsa’labah yang pergi menghilang:

“Yaa Muhammad, sungguh, ada seorang lelaki dari umatmu yang menyembunyikan diri di pegunungan antara Madinah dan Makkah sedang memohon ampunan dan petolongan Allah SWT,” kata Jibril AS kepada Rasulullah ﷺ.

Mendengar Jibril AS ini, Rasulullah ﷺ langsung menyuruh Sahabat Umar bin Al-Khattab dan Salman Al-Farisi untuk mencari keberadaan Tsa’labah di sekitar gunung yang disebut oleh Jibril AS.

Dalam perjalanan pencarian, Umar RA dan Salman RA bertemu dengan Dzufaafah, seorang pengembala ternak. Dzufaafah mengatakan, “Sepertinya yang kalian cari adalah orang yang beberapa hari ini sering saya beri minuman susu setiap dia turun dari gunung, dan setelahnya langsung naik lagi ke atas. Dia tidak suka bertemu siapapun dan tampak sangat murung dan bersedih”.

Ketika malam tiba, Tsa’labah keluar dari persembunyian dan langsung ditemui oleh Umar RA dan Salman RA.

Setelah dialog yang lumayan panjang, akhirnya Tsa’labah mau diajak pulang untuk menemui Rasulullah ﷺ. Namun ketika mereka hendak bertemu dengan Rasulullah yang kebetulan sedang shalat, tiba-tiba Tsa’labah jatuh pingsan.

Setelah menunggu lumayan lama, akhirnya Tsa’labah siuman dan Rasulullah ﷺ langsung menyapanya:

“Yaa Tsa’labah, kenapa engkau menghilang?” tanya Rasululah ﷺ.

“Saya penuh dosa, Yaa Rasulullah,” jawab Tsa’labah singkat sambil sesenggukan menangis.

“Bukankah aku sudah mengajarkan doa penghapus dosa-dosa? Sekarang engkau baca doanya: Rabbanaa Aatinaa Fiddun yaa Hasanatan Wa Fil Aakhirati Hasanatan, Wa Qinaa ‘Adzaaban Naar,” perintah Rasulullah kepada Tsa’labah.

Tsa’labah sepontan menjawab, “Yaa Rasulallah, dosaku jauh lebih besar dari doa itu”.

Rasulullah ﷺ menjawab, “Tidak, doa dari Al-Quran itu lebih besar”.

Karena Rasulullah ﷺ melihat kondisi Tsa’labah yang ketakutan, cemas dan pucat, maka Rasulullah menyuruh Tsa’labah pulang dan beristirahat dulu di rumahnya.

Setelah 8 hari tidak ada kabarnya, kemudian, Rasulullah ﷺ bersama dengan beberapa Sahabat, pergi mengunjungi Tsa’labah di rumahnya.

Melihat pembantu setianya ini sangat memprihatinkan, Rasulullah ﷺ mendekat dan meletakkan kepala Tsa’labah di pangkuan Rasulullah.

Anehnya, Tsa’labah justeru menghindar dan tidak mau meletakkan kepalanya di pangkuan Rasulullah ﷺ.

“Kenapa engkau singkirkan kepalamu yaa Tsa’labah?” tanya Rasulullah.

Setelah beberapa kali tidak mau meletakkan kepalanya di pangkuan Rasulullah ﷺ, Tsa’labah berkata, “Saya penuh dosa yaa Rasulullah, tidak pantas kepala saya berada di pangkuanmu yang suci ini”.

Lalu Rasulullah ﷺ bertanya, “Apa yang engkau rasakan sekarang?”

Tsa’labah menjawab, “Yang saya rasakan, menyesal dan betul betul ketakutan, sehingga seluruh bagian tubuhku; tulang tulangku, daging dan kulitku, semuan seperti dikerubuti dan disengat semut yaa Rasulullah”.

Rasulullah bertanya lagi, “Terus sekarang apa yang engkau inginkan?”

“Saya ingin ampunan Allah yaa Rasulullah!”

Saat itulah Jibril AS turun dan berkata kepada Rasulullah ﷺ, “Sungguh, Tuhanmu berfirman kepadamu: “Kalau saja hamba-Ku ini menemui-Ku dengan kesalahan dan dosa seberat bumi dan seisinya, niscaya Aku akan mengampuni semua dosa-dosanya!”

Mendengar berita gembira dari Jibril ini, Rasulullah ﷺ pun memberi tahu Tsa’labah, “Allah SWT telah mengampuni dosa-dosamu yaa Tsa’labah, dan Allah telah ridha padamu”.

Mendengar berita gembira ampunan dari Rasulullah ﷺ ini, Tsa’labah langsung menangis terharu penuh gembira. Saking gembiranya, ia jatuh pingsan, dan tidak lama kemudian, Tsa’labah meninggal di samping Rasulullah ﷺ.

Rasulullah ﷺ menyuruh para Sahabat agar segera memandikan, kafankan jenazahnya dan urus sampai ke pemakaman.

Namun ada kejadian menarik setelah acara pemakaman Tsa’labah selesai.

Ketika meninggalkan area makam, Rasulullah ﷺ berjalan dengan cara tidak biasa. Beliau berjalan dengan sangat berhati-hati, berjinjit-jinjit, dan pelan-pelan.

Melihat ini semua, para Sahabat yang hadir di pemakaman menjadi terheran-heran.

“Yaa Rasulallah, apa gerangan yang membuat Engkau berjalan begitu berhati-hati sampai sampai kaki tidak rapat sempurna ke tanah? Engkau berjalan berjinjit-jinjit seperti menghindari sesuatu?” tanya para Sahabat.

“Apa kalian tidak mengetahui, begitu banyak Malaikat yang hadir di pemakaman Tsa’labah ini untuk melepas kepergiannya, sekaligus mendoakannya, sehingga saya terpaksa berjalan seperti itu karena ramainya tempat ini oleh Malaikat,” kata Rasulullah kepada para Sahabat.

Mendengar pertanyaan sekaligus pemberitahuan Rasulullah tersebut, para Sahabat langsung bertasbih dan bertakbir.

Ada hikmah penting yang bisa kita petik dari kisah nyata ini:

1. Sekecil apapun dosa yang terlanjur kita perbuat, segeralah mohon ampun dan bertaubat dengan sungguh-sungguh. Ingat, Sahabat Tsa’labah hanya memandang wanita mandi sebentar, namun ia beristighfar mohon ampun menangis menyesal selama 40 hari siang-malam.

2. Sebesar apapun dosa yang terlanjur dibuat, jika sungguh sungguh menyesal, mohon ampun dan bertaubat, Allah SWT akan mengampuni.

3. Jangan melihat ke dalam rumah orang tanpa izin si empunya. (Lihat hadits Nabi ﷺ di bawah yang sangat tegas melarang hal ini:

مَنْ اطَّلَعَ فِي بَيْتِ قَوْمٍ بِغَيْرِ إِذْنِهِمْ فَقَدْ حَلَّ لَهُمْ أَنْ يَفْقَئُوا عَيْنَهُ – رواه مسلم

“Barang siapa menengok ke dalam rumah seseorang tanpa izin pemiliknya, maka sungguh mereka boleh mencongkel mata orang itu,” (HR. Muslim)

Semoga, Allah SWT senantiasa membimbing kita untuk selalu mengingat, bersyukur dan beribadah dengan sebaik-baiknya kepada Allah SWT.

Wallahu a’lam bish shawab.

Sumber: muslimobsession.com

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.