Rabu, 27 Oktober 21

Kisah Relawan Pengumpul Sejuta KTP Untuk Ahok

Kisah Relawan Pengumpul Sejuta KTP Untuk Ahok
* Swandani Sumarga (kiri), pemilik restoran Dapur Solo, Sunter, Jakarta Utara, mengumpulkan KTP pendukung Ahok di restorannya, Jumat, 28 Agustus 2015.

Jakarta,Obsessionnews – Berbagai gebrakan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama, yang akrab dipanggil Ahok, menuai simpati dari berbagai elemen masyarakat. Oleh karena itu ketika Ahok memutuskan akan maju sebagai calon gubernur dalam Pilkada DKI Jakarta tahun 2017 lewat jalur independen dan harus mendapat sejuta dukungan kartu tanda penduduk (KTP), cukup banyak warga yang mendukungnya. (Baca: Zaskia Adya Mecca Dukung Sejuta KTP Untuk Ahok)

Yang menjadi ujung tombak dalam pengumpulan KTP adalah para relawan yang tergabung dalam komunitas Teman Ahok. Mereka aktif bergerilya mengumpulkan KTP sejak pertengahan Juni 2015. Hingga Sabtu (29/8) telah terkumpul 129.744 KTP. Ditargetkan pada 15 Juli 2016 terkumpul sejuta KTP. (Baca: Dukungan Sejuta KTP Untuk Ahok)

Salah seorang yang aktif membantu Teman Ahok adalah Swandani Sumarga, pemilik restoran Dapur Solo, Jl. Danau Sunter Utara No. 7, Jakarta Utara. Bu Swan, sapaan akrabnya, memberikan tempat secara gratis untuk Teman Ahok membuka booth pengumpulan KTP sekaligus penjualan merchandise, tiap akhir pekan (Sabtu dan Minggu) di restorannya. (Baca: Komunitas ‘Teman Ahok’ Gerilya Kumpulkan Sejuta KTP)

Tak sekadar memberi tempat gratis, pengusaha yang ramah itu juga tak segan menghampiri pengunjung restorannya untuk mengajak memberikan KTP dukungan, bahkan hingga ke meja tempat pengunjung makan.

“Ayoo, yang KTP-nya DKI dukung Pak Ahok, difotokopi dulu,” kata Bu Swan seraya menghampiri pengunjung restoran yang melintasi booth Teman Ahok di pintu utama restorannya, Jumat (28/8).

Yogi Prabowo, salah seorang pengurus Teman Ahok, mengungkapkan, ia senang karena Bu Swan banyak membantu memperlancar tugas Teman Ahok.

“Enak kalau ada Ibu Swan, suka bantuin nyamperin ke pengunjungnya, yang tadinya cuma lihat booth sekilas jadi lebih tahu, jadi makin banyak yang terkumpul KTP dukungannya,” cetusnya.

Bu Swan mau mendukung Ahok karena melihat visi-misi Ahok yang bagus dan sosoknya yang tegas. Menurutnya, sekitar tahun 2011-2012 lalu, Ahok pernah makan dan mengadakan pertemuan di Dapur Solo dengan komunitas pengusaha. Waktu itu, Bu Swan melihat Ahok memaparkan visi-misinya untuk Jakarta.

“Itu sangat jelas, tegas dan saya nilai bagus sekali. Dari situ saya berpikir, kalau dari visi misinya kelihatan bagus, kenapa kita tidak dukung, “ ujarnya.

Sebagai pengusaha, Swandani kerap merasakan bagaimana buruknya pelayanan publik sebelum Ahok menjadi Gubernur DKI Jakarta. “Kalau saya perpanjang izin, atau urus apapun baik itu di kelurahan, kecamatan maupun ke walikota itu susah, capai sekali, dioper sana dioper sini. Rasanya pengusaha itu seperti sapi perah,” katanya.

Hal yang berbeda kini dirasakan Bu Swan. Menurutnya, untuk pelayanan dalam hal pengurusan izin sudah terasa perubahannya. Mulai dari kelurahan sampai walikota sudah mulai berubah.

“Walaupun masih ada yang kecil-kecil yang belum beres, tapi saya lihat perubahannya sudah 70 persen lebih baik dari sebelumnyalah. Kita urus izin dengan mudah, petugas kelurahan, kecamatan, sampai ke balai kota sudah tidak memperlakukan masyarakat pengusaha ini sebagai obyek sapi perah, tapi kita adalah masyarakat yang harus dilayani,” tuturnya.

Mengenai kesempatan yang ia berikan pada Teman Ahok untuk membuka booth pengumpulan KTP di restoran miliknya, Bu Swan mengaku sempat ragu, karena ia sadar restoran adalah tempat umum di mana pengunjungnya belum tentu semua mendukung Ahok. Bahkan mungkin ada yang kontra Ahok. Namun ia yakin itu tidak akan terlalu berpengaruh pada usahanya.

“Saya nggak terjun ke politik, saya hanya menyuarakan hati nurani saya untuk mendukung pemimpin yang benar, pemimpin yang dicari oleh masyarakat selama ini. Jadi kalau ada yang bilang Dapur Solo bermain politik, saya pasti jawab tidak,” katanya.

Bu Swan juga menegaskan, ia tidak takut akan ada intimidasi atau sejenisnya.

“Selama ini saya berjalan di jalan kebenaran, saya tidak melakukan kecurangan, saya tidak melakukan provokasi politik. Saya cuma mendukung orang yang saat ini saya anggap benar, dan memperjuangkan hal yang benar. Benar, setidaknya saat ini ya, kalau ke depan kita tidak tahu. Tapi saya yakin yang benar ini akan kelihatan kok, dan yang salah juga akan kelihatan,” tuturnya sembari tersenyum.

Itulah salah satu kisah relawan yang mendukung Ahok dalam pengumpulan sejuta KTP sebagai syarat agar Ahok dapat mengikuti Pilkada DKI Jakarta tahun 2017. Tentu masih banyak kisah relawan-relawan pendukung Ahok lainnya yang menarik. (Arif RH)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.