Rabu, 19 Juni 19

Kisah Cinta Jokowi dan Kaum Santri

Kisah Cinta Jokowi dan Kaum Santri
* Presiden Jokowi saat bersilaturahmi dengan para tokoh ulama dan santri di Ponpes Amanatul Ummah di Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, Kamis (6/9/2018). (Foto: BPMI)

Jakarta, Obsessionnews.com – Sesungguhnya kisah cinta Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan kaum santri sudah melegenda. Blusukan ke pondok-pondok pesantren untuk ‘ngalap’ berkah para kiai dan menyapa para santri mungkin baru ingar-bingar belakangan ini. Tapi nyatanya, cinta Jokowi pada kaum santri telah diembuskan sejak lama.

Alkisah, Jokowi pernah membatin soal bagaimana menyatakan cintanya kepada kaum santri. Lama dipendam, lelaki kelahiran Surakarta, 21 Juni 1961 ini kemudian menyatakannya saat berkampanye di beberapa pesantren yang menjadi basis Nahdliyin.

 

Baca juga:

Jokowi Bersih dari Korupsi dan Pelanggaran HAM

Berhasil Melobi DPR Bukti Jokowi Piawai Berpolitik

Kinerja Jokowi Memuaskan Rakyat

Hadapi Debat, Jokowi Punya Keunggulan Sebagai Petahana

Mencintai Islam, Jokowi Pilih Pendamping Ulama Besar

 

Suatu ketika, Jokowi yang masih menjadi calon presiden, tiba di Pesantren Babussalam. Kehadirannya untuk mengikuti haul pendiri Nahdlatul Ulama (NU) KH Hasyim As’ayri dan mantan Presiden Sukarno. Di akhir acara itulah Jokowi akhirnya berkesempatan menyampaikan ‘cintanya’ dengan menandatangani surat pernyataan mendukung penetapan 1 Muharam sebagai Hari Santri Nasional (HSN).

Presiden Jokowi saat memberikan sambutan pada Deklarasi Hari Santri Nasional, di Masjid Istiqlal, Jakarta, Kamis (22/10/2018). (Foto: setkab.go.id)

Peristiwa ini dibeberkan pengasuh Pondok Pesantren Babussalam Malang, Agus Thoriq Darwis bin Ziyad. Sebenarnya, kata Thoriq, HSN sudah disuarakan sejak 2010. Thoriq membahas ide tersebut bersama sejumlah pondok pesantren dan ulama di wilayah tapal kuda Jawa Timur, yakni Pasuruan, Lumajang, Probolinggo, dan Jember. Keluarga mantan Presiden Abdurrahman Wahid alias Gus Dur pun dilibatkan.

“Harapannya waktu itu Gus Dur bisa jadi tumpuan penetapan 1 Muharam sebagai hari santri. Namun, takdir berkata lain. Gus Dur wafat,” kata Thoriq.

Selain keluarga Gus Dur dan sejumlah ulama sepuh di Jawa Timur, ide HSN juga didukung Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj. Dukungan kemudian datang dari beragam pihak, termasuk Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan.

Cerita tak berhenti sampai di sini. Tak berapa lama setelah Jokowi didapuk secara konstitusional sebagai Presiden Republik Indonesia, Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Hidayat Nur Wahid mengusulkan agar Hari Santri Nasional digeser menjadi tanggal 22 Oktober. Pernyataan Hidayat dikemukakan sehari sebelum pelaksanaan HSN pada tahun tersebut.

“Jangan 1 Muharam sebagai Hari Santri,” kata Hidayat di kompleks DPR, Jumat (24/10/2014).

Hidayat beralasan, 1 Muharram merupakan momentum tahun baru bagi umat Islam yang diperingati di seluruh dunia, baik oleh santri maupun tidak bukan santri.

 

Baca juga:

Allah Menakdirkan Jokowi, Bukan Prabowo Subianto

Debat Pilpres 2019 Untungkan Jokowi

Dinilai Tegas Bela NKRI, Alumni UI Dukung Jokowi-Amin

 

Tokoh Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini kemudian mengusulkan peringatan Hari Santri Nasional sebaiknya dikaitkan dengan warisan atau jasa santri. Ia mengusulkan agar HSN diperingati pada 22 Oktober, tanggal dimana Kiai Hasyim Asy’ari, pendiri NU, mengeluarkan fatwa resolusi jihad.Hidayat mengaku telah berkomunikasi dengan Ketua Umum PBNU Said Aqil Siradj dan menyetujuinya.

Usulan ini lalu dibawa pada pertemuan sejumlah Ormas Islam. Pertemuan yang digelar di Hotel Salak, Bogor pada Rabu, 22 April 2015 membahas penetapan Hari Santri Nasional. Sejumlah ormas Islam yang hadir mengirimkan perwakilannya pada pertemuan tersebut di antaranya Al-Irsyad, DDII, Persis, Muhammadiyah, NU, dan juga MUI. Selain ormas ada juga sejarawan dan pakar Islam, Azyumardi Azra.

Hasilnya terlihat pada Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 22 Tahun 2015, dimana Presiden Jokowi menetapkan 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional.

Santri, Penjaga Pancasila dan NKRI

Ahad malam, 21 Oktober 2018. Mengenakan sarung, baju muslim putih dilapisi jas hitam, dan peci hitam, Presiden Jokowi mengurai peran besar ulama dan santri dalam perjuangan bangsa Indonesia.

“Sejarah mencatat peran besar para ulama dan santri pada masa kemerdekaan. Menjaga Pancasila, NKRI dan Bhineka Tunggal Ika, memandu ke jalan kebaikan dan kemajuan,” kata Jokowi dihadapan sekitar 10 ribu santri yang hadir di Lapangan Gasibu, Kota Bandung, Jawa Barat.

Presiden menuturkan, Hari Santri merupakan penghormatan dan rasa terima kasih negara kepada para alim ulama, kiai, ajengan, dan para santri dan seluruh komponen bangsa yang mengikuti teladan alim ulama, ajengan, dan kiai.

Ya, Indonesia tak bisa lepas dari ulama dan santri. Jokowi sadar sepenuhnya tentang ini. Pada HSN tahun 2015, Jokowi pernah mengatakan bahwa para ulama dan santri dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia memiliki peran historis.Ia menyebut nama-nama seperti KH. Hasyim As’yari dari Nahdlatul Ulama, KH. Ahmad Dahlan dari Muhammadiyah, A. Hassan dari Persis, Ahmad Soorhati dari Al-Irsyad dan Mas Abdul Rahman dari Mathlaul Anwar serta mengingatkan pula tentang 17 nama-nama perwira Pembela Tanah Air (Peta) yang berasal dari kalangan santri.

“Sejarah mencatat, para santri telah mewakafkan hidupnya untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia dan mewujudkan cita-cita kemerdekaan tersebut. Para santri dengan caranya masing-masing bergabung dengan seluruh elemen bangsa, melawan penjajah, menyusun kekuatan di daerah-daerah terpencil, mengatur strategi, dan mengajarkan kesadaran tentang arti kemerdekaan,” kata Jokowi di hadapan para santri, ulama, dan tokoh-tokoh agama yang hadir di Masjid Istiqlal Jakarta, Kamis (22/10/2015) silam.

Jokowi begitu yakin, penetapan HSN tidak akan menimbulkan sekat-sekat sosial atau memicu polarisasi antara santri dengan nonsantri. Justru sebaliknya, akan memperkuat semangat kebangsaan, mempertebal rasa cinta tanah air, memperkokoh integrasi bangsa, serta memperkuat tali persaudaraan.

“Penetapan hari santri nasional dilakukan agar kita selalu ingat untuk meneladani semangat jihad ke-Indonesiaan para pendahulu kita, semangat kebangsaan, semangat cinta tanah air, semangat rela berkorban untuk bangsa dan negara,” tuturnya.

Dengan mewarisi semangat itulah, kata Jokowi, para santri masa kini dan masa depan, baik yang di pesantren atau di luar pesantren dapat memperkuat jiwa religius keislaman sekaligus jiwa nasionalisme kebangsaan. Dengan mewarisi semangat itu, para santri juga akan ingat memperjuangkan kesejahteraan, memperjuangkan keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia dan meningkatkan ilmu pengetahuan/teknologi demi kemajuan bangsa.

“Semangat ini adalah semangat menyatukan dalam keberagaman, semangat menjadi satu untuk Indonesia. Saya percaya dalam keragaman kita sebagai bangsa, baik keragaman suku, keragaman agama, maupun keragaman budaya melekat nilai-nilai untuk saling menghargai, saling menjaga toleransi, dan saling menguatkan tali persaudaraan antaranak bangsa,” katanya.

Ya, Hari Santri memang harus didorong agar menjadi milik bersama. Menjadi milik semua orang Islam yang memang mempunyai rasa nasionalisme. Santri menjadi kata kunci bagi siapapun yang mencintai Indonesia, memahami Islam, dan kemudian menyebarkannya secara damai di Indonesia. Islam yang kemudian menghargai tradisi dan budaya, sehingga lahirlah Islam yang ramah.

Atau dalam bahasa KH Ma’rif Amin, santri merupakan anak-anak bangsa yang memperjuangkan Islam yang tawassuth atau moderat dan tawazun yang berarti seimbang. Para santri berada dalam posisiI’tidalatau tengah-tengah. Dia moderasi, dia ada di tengah-tengah, tidak ada di ekstrem kanan atau ekstrem kiri.  (Imam Fathurrohman)

 

Artikel ini dalam versi cetak telah dimuat di Majalah Men’s Obsession Edisi Januari 2019.

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.