Minggu, 16 Juni 19

Kinerja Jokowi Memuaskan Rakyat

Kinerja Jokowi Memuaskan Rakyat
* Presiden Joko Widodo (Jokowi). (Foto: Istimewa)

Jakarta, Obsessionnews.com – “Pemimpin yang efektif bukan soal pintar berpidato dan mencitrakan diri agar disukai. Kepemimpinan tergambar dari hasil kerjanya, bukan atribut-atributnya,” begitu pernah disampaikan Peter Ferdinand Drucker, seorang penulis, konsultan manajemen, dan “ekolog sosial” kelahiran Wina, Austria tahun 1909.

Tak berlebihan jika kalimat bijak tokoh yang sering disebut sebagai bapak “manajamen modern” ini disematkan kepada Presiden Republik Indonesia, H. Joko Widodo (Jokowi) yang dengan kepemimpinannya mampu memperlihatkan karya dan bukan sekadar retorika atau wacana. Terbukti, selama kepemimpinannya sudah banyak infrastruktur yang dibangun sebagai upaya menaikkan perekonomian rakyat. Bisa dilihat juga dari kepeduliannya terhadap pendidikan dan kesehatan, serta kehidupan beragama yang toleran. Semua itu menegaskan bahwa negara selalu hadir di setiap sektor kehidupan dan terjaganya keberpihakan pemerintah saat ini kepada rakyat.

 

Baca juga:

Hadapi Debat, Jokowi Punya Keunggulan Sebagai Petahana

Mencintai Islam, Jokowi Pilih Pendamping Ulama Besar

Allah Menakdirkan Jokowi, Bukan Prabowo Subianto

Debat Pilpres 2019 Untungkan Jokowi

Dinilai Tegas Bela NKRI, Alumni UI Dukung Jokowi-Amin

 

Hasil survei juga menyebut bahwa rakyat yang merasa puas oleh kinerja Jokowi sebesar 73,4%, dengan rincian sangat puas 9,7% dan cukup puas 63,7%. Sementara yang kurang puas 22,6%, tidak puas 2,8% dan TT/TJ (tidak tahu/tidak jawab) 1,2%.

Sementara terkait hasil survei tingkat keyakinan atas kemampuan Jokowi untuk memimpin, sebanyak 71,4% merasa yakin dengan mantan Gubernur DKI itu. Sedangkan responden yang tidak yakin sebesar 23,2%.
Padahal seperti kita tahu, pemilih Jokowi yang ketika itu berpasangan dengan Jusuf Kalla pada Pemilu Presiden/Wakil Presiden RI tahun  2014 adalah sebesar    70.997.85 suara (53,15 persen). Sementara partai pengusungnya hanya 5 partai politik yaitu PDI-P, PKB, Partai NasDem, Partai Hanura, dan PKP Indonesia yang tergabung dalam “Koalisi Indonesia Hebat”. Bandingkan dengan pasangan calon presiden yang mengusung penantangnya (Prabowo-Hatta Radjasa) yang didukung oleh “Koalisi Merah Putih” yang  terdiri dari  6 partai politik yakni Partai Gerindra, PAN, PPP, PKS, PBB, dan Partai Golkar. Tak heran kalau perjalanan Jokowi di awal pemerintahan tidaklah mudah. Selain karena dukungan parlemen yang rendah, pada saat masa transisi pergantian kepemimpinan dari Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Jokowi dihadapi juga oleh transaksi anggaran defisit anggaran berjalan.

Ternyata figur Jokowi menjadi magnet tersendiri bagi partai politik yang sebelumnya berseberangan. Sehingga terjadi dinamika politik yang signifikan dimana pada bulan Oktober 2014 beberapa partai yang sebelumnya tidak berada pada posisi mendukung Jokowi tiba-tiba balik badan memproklamirkan dukungannya untuk Jokowi semisal Partai Persatuan Pembangunan dan Partai Amanat Nasional. Terakhir, pada bulan Januari 2016, Golkar secara resmi ikut bergabung dan pada 17 Mei 2016, menyatakan keluar dari “Koalisi Merah Putih”.

Itu artinya seiring perjalanan waktu, kepemimpinan Jokowi yang pro rakyat telah membuat kepercayaan rakyat semakin meningkat dan kalangan elite politik pun menaruh kepercayaan besar. Sebuah fakta bahwa Jokowi adalah sosok yang diyakini mampu membawa, menata, dan meningkatkan pembangunan Indonesia di segala bidang. Karenanya, pemimpin itu mestinya bukan sembarang orang. Harus benar-benar orang pilihan, yang pikiran dan jiwanya tangguh, tentu pula disokong oleh fisik yang kuat dan sehat. Ajaran Plato tentang pemimpin harus filsuf menegaskan kekuatan pikiran sebagai jangkar berdaulatnya kepemimpinan yang tangguh.

Empat tahun perjalanan kepemimpinannya, Jokowi telah menempatkan dir sebagai pemimpin besar yang mampu  bekerja memproyeksikan masa depan bangsanya, menyusun strategi terbaik bagi pencapaian yang berjangka. Namun tak sungkan melakukan blusukan dan segenap pernak-perniknya sebagai wujud dari kepedulian pemimpin, kesederhanaan dan memiliki rasa sepenanggungan.

Di sisi lain, ia telah memperlihatkan sebagai pemimpin yang punya ide dan gagasan segar, sehingga segenap kerja yang diwujudkannya adalah proyeksi, bukan reaksi terhadap hal-hal sederhana dari masalah kebangsaan yang kita hadapi. Tak heran, di tahun politik menjelang pemilihan Presiden RI, ini Jokowi yang kembali maju berkontestasi dengan pasangannya sebagai Wakil Presiden, Dr.KH Ma’ruf Amin, ia selalu tenang menyikapi ‘serangan’ dari kubu kandidat lainnya. Baginya serangan itu tak perlu ditanggapi secara reaktif.

Karena ia yakin bahwa pemimpin tak perlu membela diri, karena yang bisa membela dirinya hanya hasil kerja dan pencapaian prestisius dari proyeksi besar yang digarapnya. Ia cukup membela diri dengan membeberkan pencapaian-pencapaian yang membuktikan bahwa rakyat masih merasakan hadirnya negara dalam ruang kehidupan mereka. Tampaknya Jokowi tipikal pemimpin Amerika semacam Abraham Lincoln dan John F. Kennedy yang selalu  mengajak warganya membangun masa depan negara dengan bertumpu pada kerja keras.  Sebuah catatan yang sangat inspiratif. (Sahrudi)

 

Artikel ini dalam versi cetak telah dimuat di Majalah Men’s Obsession Edisi Januari 2019 dengan judul “Mengabdi untuk Bangsa Meraih Ridha Allah”.

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.