Sabtu, 28 Mei 22

Khofifah Bangga Anak-anak Penerima PKH Berprestasi di Ajang Internasional

Jakarta, Obsessionnews.com – Ada anggapan anak-anak dari keluarga miskin tidak bisa berprestasi dan meraih masa depan gemilang. Namun, anak-anak Keluarga Penerima Manfaat (KPM) Program Keluarga Harapan (PKH) membuktikan jika anggapan tersebut salah besar.

Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa mengungkapkan, dalam setiap kunjungan ke daerah ia sering mendapati anak-anak KPM PKH yang berprestasi di ajang nasional maupun internasional di bidang olah raga, science, kesenian, dan lain sebagainya.

Sangat membanggakan, bukan ? Di tengah keterbatasan mereka mampu membuat bangga kedua orangtuanya juga bangsa,” tulis Khofifah di akun Instagramnya, @khofifah.ip, Jumat (14/7/2017).

Khofifah menuturkan, dalam kunjungannya ke Kota Cirebon, Jawa Barat, Kamis (13/7), ia bertemu dengan salah seorang anak penerima PKH, Dewinta Putri Fazriani, anak Junari yang berhasil mendapatkan Bidikmisi (Biaya Pendidikan Mahasiswa Miskin Berprestasi) dan diterima di Institut Teknologi Bandung (ITB).

Menurut Khofifah, itu masih sebagian kecil, karena di luar sana banyak anak penerima PKH yang juga telah meraih Bidikmisi.

Menteri Sosial (Mensos) Indar Parawansa bersama penerima PKH. (Foto: Ikhwan/Biro Humas Kemensos)

Selain itu Khofifah mengungkapkan ia juga pernah bertemu dengan Ahmad Zuhri, mahasiswa asal Demak, Jawa Tengah,  yang berprestasi dengan membawa pulang medali emas dalam ajang kontes robotik internasional di Amerika Serikat.

Saya sendiri merasa bangga bukan main. PKH dengan semua komplementaritasya ternyata mampu turut mendongkrak Indeks Pembangunan Manusia di Indonesia. Pesan saya kepada mereka, teruslah berkarya dan berprestasi sehingga bisa mengangkat derajat orangtua, keluarga, serta bangsa dan negara,” tulisnya di akun Instagramnya.

Seperti diketahui PKH merupakan salah satu terobosan besar  pemerintahan Jokowi  dalam upaya pengentasan kemiskinan. Program ini dilaksanakan oleh Kementerian Sosial (Kemensos).

PKH adalah program bantuan sosial (bansos) bersyarat. Program ini secara internasional dikenal sebagai program Conditional Cash Transfers (CCT) atau program Bantuan Tunai Bersyarat. PKH bertujuan meningkatkan aksesibilitas pelayanan pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan sosial. Program ini untuk mengurangi beban pengeluaran keluarga miskin, dan dalam jangka panjang dapat memutus rantai kemiskinan dan kesenjangan.

Penerima PKH harus memenuhi komponen kesehatan, yakni ibu hamil dan atau ibu yang memiliki balita. Selain itu memenuhi komponen pendidikan, yaitu memiliki anak usia sekolah dari SD-SMA. Atau di dalam keluarga tersebut terdapat penyandang disabilitas berat dan atau lanjut usia di atas 70 tahun.

Total jumlah penerima PKH pada tahun 2017 adalah 6 juta KPM dari sebelumnya 3 juta KPM.

Khofifah mengungkapkan, penyaluran bansos secara non tunai yang telah dimulai sejak November 2016 merupakan sebuah lompatan besar yang revolusioner dalam sejarah program pengentasan kemiskinan di Indonesia. Penerima manfaat yang dulu harus mendatangi kantor pos untuk mencairkan bansos, harus mengantri lama karena waktu pengambilan bersamaan, maka kini dengan era baru pencairan bansos melalui non tunai dengan sistem perbankan akan terlayani jauh lebih baik lagi. (Baca: Lompatan Revolusioner Kemensos Entaskan Kemiskinan Melalui PKH)

Ketika berbasis perbankan dan diberikan non tunai, maka manfaat yang dirasakan KPM adalah mereka punya Kartu Keluarga Sejahtera (KKS) yang punya fitur saving account. Sehingga bisa menabung, lalu fitur e-wallet yang memungkinkan KPM mendapat beragam bansos dan subsidi yang terintegrasi dalam satu kartu. (@arif_rhakim)

Baca Juga:

Mensos Pastikan Kesiapan PKH Non Tunai untuk 6 Juta Penerima

Mensos Jamin Perluasan PKH Tepat Sasaran

Mensos: Tahun 2018 PKH Jangkau 10 Juta Penerima

Desember 2016 Ada 1 Juta Penerima Bansos PKH Non Tunai

 

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.