Selasa, 22 Oktober 19

Keunikan Budaya Suku Dayak Ditampilkan di FBIM 2019

Keunikan Budaya Suku Dayak Ditampilkan di FBIM 2019
* Keragaman dan keunikan budaya Suku Dayak ditampilkan dalam Festival Budaya Isen Mulang (FBIM) 2019 di Palangkaraya, Kalimantan Tengah (Kalteng). (Foto: Kemenpar)

Palangkaraya, Obsessionnews.com -Keragaman dan keunikan budaya Suku Dayak ditampilkan dalam Festival Budaya Isen Mulang (FBIM) 2019 di Palangkaraya, Kalimantan Tengah (Kalteng).

Wakil Gubernur Kalteng Said Ismail mengatakan, festival kali ini berlangsung sangat meriah dan menampilkan beragam keunikan dan warna tersendiri budaya dari Suku Dayak.

“Hampir seluruh kabupaten/kota di Kalteng ikut semua. Kami berharap ini menjadi daya tarik tersendiri untuk sama-sama kita mengangkat dan mempertahankan budaya yang kita miliki,” ujar Said saat menyaksikan karnaval FBIM di Jalan Yos Sudarso, Kota Palangkaraya, Selasa (18/6/2019)

Dikutip obsessionnews.com dari keterangan tertulis Kemenpar, Rabu (19)6), dalam kesempatan tersebut Said juga menjelaskan FBIM tidak hanya menjadi arena untuk bertanding dan mengukir prestasi. Tetapi juga menjadi sarana mempromosikan berbagai seni, budaya, dan pariwisata yang ada.

“FBIM juga sebagai sarana melestarikan dan terus membumikan berbagai seni, budaya, serta kuliner di Kalimantan Tengah agar tak tergerus kemajuan zaman dan budaya asing,” tandasnya.

Selain gelaran budaya khas Dayak, FBIM yang digelar pada 17-22 Juni 2019 mempertandingkan 22 cabang lomba.

Adapun 22 cabang lomba yang dipertandingkan di antaranya karnaval budaya, putra-putri pariwisata, tari daerah, karungut, mangenta, malamang, panginan sukup simpan, mangaruhi, sepak sawut, maneweng manetek dan manyila kayu, jukung tradisional, dan besei kambe.

Sementara itu di tempat terpisah Ketua Pelaksana Calendar of Event Kementerian Pariwisata (Kemenpar) Esthy Reko Astuty mengungkapkan, suguhan budaya di FBIM ini sudah terkonsep dengan pas. Pantas saja jika FBIM masuk dalam kalender pariwisata nasional yang setiap tahunnya diselenggarakan.

“Kemasannya dibuat dengan standar tinggi. Unsur budayanya dikolaborasikan dengan karnaval dan lomba, sehingga semakin unik dan menarik. Dasar budayanya tentu saja budaya masyarakat Dayak,” tutur Esthy. (arh)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.