Minggu, 20 September 20

Keunggulan Militer Iran yang Bisa Merepotkan Tentara AS

Keunggulan Militer Iran yang Bisa Merepotkan Tentara AS
* Salah satu senjata perang milik Iran. (BBC)

Jakarta, Obsessionnews.com – Terbunuhnya Jenderal Iran Qasem Soleimani membuat hubungan Iran dengan Amerika Serikat kian memanas. KBerbagai ancaman perang dilontarkan ke dua belah pihak sebagai bentuk protes atas insiden kematian Qasem Soleimani.

Perseturuan antara Iran dan Amerika menjadi topik paling hangat dalam isu luar negeri. Bahkan disebut-sebut jika kedua negara perang bisa memicu terjadinya perang dunia ke III. Lantas seberapa unggul kekuatan militer Iran jika melawan Amerika?

Secara hitung-hitungan di atas kertas, kekuatan militer Iran memang masih kalah jauh dengan Amerika. Menurut situs Global Fire Power yang memantau militer negara-negara di dunia, Iran berada di posisi 14 dari 137 negara dalam hal kekuatan militer.

Sedangkan AS berada di posisi pertama disusul oleh Rusia, China, India, dan Prancis dalam ranking 5 besar. Indonesia sendiri berada di urutan ke 16. Namun meski Iran berada jauh di bawah Amerika. Namun persenjataan Iran tidak bisa dianggap enteng.

Iran tidak hanya memiliki kekuatan persenjataan, melainkan juga pengaruh di kawasan yang bisa merepotkan AS. Negeri Persia ini punya dua jenis angkatan bersenjata, yakni pasukan reguler atau Artesh dan Korps Garda Revolusi Islam atau IRGC.

Menurut Kementerian Pertahanan AS atau Pentagon, tugas Artesh adalah menjaga keamanan di dalam negeri, sementara IRGC memperluas pengaruh Iran di kawasan dengan melakukan perang proksi. Kedua pasukan ini sama-sama punya kekuatan yang patut diperhitungkan.

Jumlah personel aktif Artesh adalah 350 ribu orang sedangkan IRGC 150 ribu, dengan cadangan sekitar 350 ribu personel. Jumlah ini jauh lebih kecil jika dibandingkan personel aktif AS yang mencapai hampir 1,3 juta orang dengan tentara cadangan 860 ribu personel.

Ada pun total anggaran belanja pertahanan AS mencapai USD 716 miliar, atau sekitar 113 kali lipat dibanding Iran yang hanya USD 6,3 miliar. Anggaran tersebut juga tidak maksimal dibelanjakan karena Iran kesulitan mengimpor persenjataan karena sanksi dan embargo AS.

Iran hanya memiliki sekitar 500 pesawat tempur, 1.634 tank, dan 398 armada perang laut. Sementara AS memiliki 13.398 jet tempur, 6.287 tank, dan 415 armada perang laut, termasuk 24 kapal induk. Iran tidak punya kapal induk, angkatan laut Iran terbanyak adalah kapal selam berjumlah 34 unit.

Namun jangan salah, Iran unggul dalam peluncur roket, yakni 1.900 unit sementara AS 1.056 unit. Inilah yang paling dikhawatirkan oleh AS. Menurut laporan Pentagon, Iran memiliki rudal balistik yang akan menjadi senjata utama mereka dalam menghadapi serangan udara musuh.

Bahkan menurut Pentagon, persenjataan rudal Iran terbesar di Timur Tengah, baik untuk serangan jarak pendek, menengah, atau jauh. Kekuatan rudal ini untuk menutupi kekurangan mereka dari sisi kekuatan udara. Rudal Iran bahkan mampu mencapai jarak hingga 2.000 kilometer.

Kekuatan lain adalah Iran memiliki keuntungan dalam perang laut karena aksesnya yang strategis di Teluk Persia dan Selat Hormuz. Pentagon menyebut Iran bisa menutup akses tersebut bagi perdagangan dengan mengerahkan kapal-kapal perang mereka.

Tidak berhenti di situ, Iran punya kemampuan drone yang merepotkan. Pentagon mengatakan kemajuan teknologi pesawat nirawak (UAV) Iran mengkhawatirkan buat AS. Iran telah beberapa kali melancarkan serangan dengan drone di Suriah dan Irak.

“Iran menggunakan ini untuk berbagai misi, termasuk intelijen, mata-mata dan penyusupan, dan serangan udara-ke-darat, dan mereka memiliki jumlah UAV yang terus bertambah,” ujar laporan Pentagon.

Militer Iran juga memiliki strategi khusus jika berperang dengan AS, yakni memanfaatkan kekuatan proksi mereka di negara-negara tetangga. Sejak lama Iran dituding berada di balik kekacauan di Timur Tengah, di antaranya di Yaman, Suriah, atau Irak.

Kebanyakan mitra Iran di kawasan adalah kelompok milisi Syiah, seperti Houthi di Yaman, Kataib Hizbullah di Irak, atau Hizbullah di Lebanon. Yang memelihara koneksi dengan kelompok ini adalah Pasukan Quds, sayap intelijen IRGC, yang sebelumnya dipimpin Solemani.

Kelompok yang dibekingi Iran ini jadi ancaman bagi fasilitas AS di luar negeri jika perang terjadi. “Pemanfaatkan mitra, proksi, dan perang non-konvensional oleh Iran penting bagi strategi pencegan dan pengaruh mereka di kawasan,” ujar Pentagon.

“Iran memberikan dukungan finansial, politik, pelatihan dan material pada kelompok-kelompok termasuk Hizbullah, kelompok militan Syiah Irak, Houthi di Yaman, beberapa kelompok di Palestina, militan Taliban dan Syiah Bahrain,” lanjut Pentagon lagi. (Albar)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.