Minggu, 26 Juni 22

Ketua Umum PP Muhammadiyah – Haedar Nashir

Ketua Umum PP Muhammadiyah – Haedar Nashir
* Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir.

Memangku jabatan sebagai Ketua Umum PP Muhammadiyah, jelas kehadirannya berpengaruh bagi umat Islam di Indonesia. Sejak menjabat, Haedar Nashir, telah meletakkan garis tegas Muhammadiyah sebagai Ormas Islam yang tak ingin terjebak dalam kepentingan proyek. Apalagi kepentingan itu jelas-jelas memiliki dampak mudharat bagi umat, organisasi, bangsa, dan negara.


Komitmen kebangsaan Muhammadiyah memang tak perlu diragukan. Ormas Islam bentukan KH Ahmad Dahlan pada 18 November 1912 ini selalu tampil di depan dalam setiap upaya keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) melalui program organisasinya.

Lelaki kelahiran Bandung, 28 Februari 1958 ini memang tak memiliki catatan berkarir di partai politik manapun. Tak heran jika Haedar tampak berjalan lurus untuk tetap meneruskan jihad kebangsaan dan jihad konstitusi yang diusung Muhammadiyah. Hal itu juga sesuai dengan misi Muhammadiyah di eranya, yakni menjadikan Muhammadiyah sebagai gerakan Islam yang membawa pencerahan, serta mengelola Muhammadiyah dengan menggunakan sistem dinamis dan dapat mensinergikan dengan program-program pemerintah dalam konteks keumatan, kebangsaan, dan universal.

Haedar ingin membawa Persyarikatan yang didirikan oleh Kiai Dahlan ini sebagai gerakan Islam Modern yang memiliki pilar moderat, kultural, dan menawarkan Islam yang mencerahkan dan berkemajuan. Salah satu gerakan modern tersebut dicirikan dengan terus mengembangkan lembaga-lembaga pendidikan yang berkualitas. Sejak abad kesatu, Muhammadiyah telah memprioritaskan pendidikan sebagai hal yang utama. Gagasan Muhammadiyah dalam mewujudkan lembaga pendidikan Islam modern bertujuan untuk melahirkan muslim terpelajar siap dalam menghadapi tantangan global.

Di kalangan aktivis Muhammadiyah, Haedar dikenal sebagai ‘Ensiklopedia Muhammadiyah Berjalan’. Julukan tersebut tak lain karena dosen FISIP Universitas Muhammadiyah Yogyakarta itu paham betul sejarah dan arah organisasi bentukan KH Ahmad Dahlan tersebut. Ia juga dikenal sebagai pemikir Muhammadiyah. Sosoknya yang pernah menjadi pimpinan redaksi Majalah Suara Muhammadiyah, membuat banyak tulisan tentang Muhammadiyah.

Bukunya yang berjudul “Muhammadiyah Gerakan Pembaharuan” menjadi salah satu karya yang sangat referensial. Buku lainnya tentang Muhammadiyah antara lain “Memahami Ideologi Muhammadiyah”, “Revitalisasi Gerakan Muhammadiyah”, “Dinamisasi Gerakan Muhammadiyah”, dan “Muhammadiyah Abad Kedua”.

Karirnya di Muhammadiyah dimulai sejak ia kuliah di Yogyakarta. Sejak saat itu sejumlah jabatan strategis diemban Haedar, mulai dari Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) hingga sejumlah jabatan di Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Bahkan, di organisasi ini pula ia menemukan tambatan hatinya yang saat ini menjadi istrinya, Noordjannah Djohantini.

Keduanya tak sekadar pasangan biasa. Sejarah berulang dengan munculnya ketua Muhammadiyah dan Aisyiyah yang merupakan suami dan istri. Jika satu abad yang lalu ada Kiai Dahlan dan istrinya, Siti Walidah, yang sama-sama memimpin Muhammadiyah dan Sopo Tresno (berubah menjadi Aisyiyah). Kini sejarah berulang. Muhammadiyah dan Aisyiyah dipimpin sepasang suami istri. Haedar Nashir menjadi Ketua Umum PP Muhammadiyah Periode 2015-2020, sementara Noordjannah Djohantini menjadi Ketua Umum PP Aisyiyah Periode 2015-2020. (Imam)

Artikel ini dalam versi cetak dimuat di Majalah Men’s Obsession edisi Agustus 2017

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.