Jumat, 7 Agustus 20

Ketua KAHMI Jaya: Putuskan Hubungan Diplomatik dengan Myanmar!

Ketua KAHMI Jaya: Putuskan Hubungan Diplomatik dengan Myanmar!
* ketua KAHMI Jaya, Moh. Taufik.

Jakarta, Obsessionnews.com – Aksi pembantaian terhadap minoritas muslim ertnis Rohingya di Rakhine, Myanmar, mencapai ratusan orang. Aksi kekerasan militer oleh rezim berkuasa negeri yang terkenal dengan seribu Pagoda ini, bukanlah yang pertama, namun terjadi berulang kali.

Jumlah korban tewas saat ini dinilai yang tertinggi dalam sejarah bentrokan antara aparat keamanan pemerintah Myanmar dan Rohingya.

Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam Jakarta Raya (KAHMI Jaya) menyatakan tragedi Rohingya mengoyak-ngoyak rasa kemanusiaan  masyarakat dunia yang  sedang berjuang menegakkan prinsip-prinsip Hak Asasi Manusia (HAM) dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

“Tidak kurang 3.000 orang melarikan diri ke perbatasan Bangladesh. Belakangan ini jumlah korban mencapai kurang lebih 800-an orang, termasuk perempuan dan anak-anak,” tulis ketua KAHMI Jaya, Moh. Taufik, belum lama ini.

Kecaman senada juga disampaikan oleh pengamat politik Network for South East Asian Studies (NSEAS), Muchtar Effendi Harahap. Ia meminta pemerintah Indonesia bersikap tegas terhadap negara Myanmar yang telah melakukan kejahatan luar biasa terhadap kemanusiaan (Crimes Againts Humanity).

“Paling minimal adalah menarik Duta Besar Indonesia untuk Myanmar dan mengusir Duta Basar Myanmar dari Jakarta. Maknanya, putuskan sementara hubungan diplomatik secara de jure dengan Myanmar,” tandas Muchtar kepada Obsessionnews.com, Senin (4/9/2017).

Peneliti senior Network for South East Asian Studies (NSEAS), Muchtar Effendi Harahap.

Menurutnya, sikap Indonesia harus lebih keras menjadi hard  line. Saat ini Myanmar melihat Indonesia sebagai negara lemah dalam perspektif power.

Seperti diketahui, selama ini Indonesia, terutama Wakil Presiden, Jusuf Kalla telah terlibat sebagai mediator dan aktor perdamaian atas aksi kekerasan dari negara jajahan Inggris tersebut. Mengingat juga Myanmar adalah tergabung sebagai anggota Perhimpunan Bangsa-bangsa Asia Tenggara atau Association of Southeast Asian Nations (ASEAN).

“Indonesia sebagai negara anggota senior di ASEAN dan Myanmar anggota muda, sudah tidak menjadi dasar pertimbangan agar tidak lagi melalukan aksi kekerasan dan pembantaian umat Islam ini,” jelas pria kelahiran Medan pada tahun 1954 ini.

Dia melanjutkan, nyatanya negara Myanmar tetap melakukan aksi keji itu, tanpa peduli dengan semua usaha Indonesia untuk perdamaian. Intinya, Indonesia tidak berpengaruh terhadap Myanmar. Indonesia tidak memiliki harga diri dan prestise dimata Myanmar.

Pemerintah harus menjadi pelaku politik luar negeri berdasarkan aspirasi dan tuntutan rakyat. Seperti diketahui, sekarang ini rakyat Indonesia memprotes besar-besaran atas prilaku terhadap etnis Rohingya ini.

Muchtar yang pernah menulis buku berjudul Kegagalan Rezim SBY-Boediono (Jkt: IEPSH,2013) juga menilai ulah dari negara Myanmar ini akan mengakibatkan negara-negara islam terus memprotes sikap kekejian atas suku Rohingya ini.

“Langkah mereka (negara-negara islam) akan mengeluarkan pernyataan resmi di forum PBB nanti. Sementara, pemerintah negara-negara demokrasi turut memprotes  Myanmar atas dasar kemanusiaan dan HAM,” pungkasnya. (Popi)

 

                    

 

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.