Sabtu, 23 Oktober 21

Ketika Jenazah Bisa Berbicara

Ketika Jenazah Bisa Berbicara
* Ilustrasi. (YouTube)

Rasulullah صلى الله عليه و سلم bersabda :

إذا وُضِعتِ الجِنازةُ فاحتَمَلها الرجالُ على أعناقِهم، فإنْ كانتْ صالحةً قالت: قدِّموني قدِّموني، وإنْ كانتْ غيرَ صالحةٍ قالت: يا وَيْلَها، أين تَذْهَبونَ بها ؟ يَسمَعُ صوتَها كلُّ شيءٍ إلَّا الإنسانَ، ولو سمِعَها الإنسانُ لصَعِقَ

“Apabila jenazah itu telah diletakkan (di atas keranda), lalu orang-orang pun memikulnya di atas pundak-pundak mereka, maka jika ia seorang yang shalih, ia pun akan berkata : “Segerakanlah aku ! Segerakanlah aku !”. Tapi apabila ia seorang yang tidak shalih, maka ia akan berkata : “Aduh celaka, kemana kalian hendak membawaku ?” Suaranya didengar oleh segala sesuatu kecuali oleh manusia. Seandainya manusia dapat mendengarnya, niscaya akan jatuh pingsan” (HR. Bukhari no. 1380, an-Nasaa’i no. 1909 serta Ahmad no. 11372, hadits dari Abu Sa’iid al-Khudri)

Ibnu Rasyid berkata :

كأنه أراد أن يبين أن ابتداء العرض إنما يكون عند حمل الجنازة لأنها حينئذ يظهر لها ما تؤول إليه فتقول ما تقول

“Seakan-akan dia (Imam al-Bukhari) hendak menjelaskan bahwa (adzab atau nikmat itu) mulailah ditampakkan (kepada mayit) sejak ia berada di atas keranda, karena sungguh pada saat itulah ditampakkan apa yang akan dialaminya. Oleh sebab itu, ia mengucapkan perkataan tadi” (Syarah Shahih al-Bukhari III/352 oleh al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalaani)

Orang Mati Tahu Saat Diziarahi
Rasulullah SAW dikutip dari Ash-Shahihain memerintahkan untuk mengumpulkan korban perang Badar dari kalangan kafir Quraisy. Rasulullah pun mengumpulkan dan melemparkannya ke dalam sebuah lubang bekas sumur. Muhammad kemudian berdiri sambil mendekat. Dia memanggil nama mereka satu per satu.

“Hai Fulan bin Fulan, hai Fulan bin Fulan, apakah kalian mendapatkan apa yang dijanjikan Rabb kalian adalah benar? Sesungguhnya aku mendapatkan apa yang dijanjikan Rabb kalian kepadaku adalah benar”.

Ketika itu, Umar bin Khattab menghampiri Rasulullah seraya bertanya. “Wahai Rasulullah, bagaimana mungkin engkau berbicara dengan orang-orang yang sudah menjadi bangkai?” Dia menjawab, “Demi yang mengutusku dengan kebenaran, mereka lebih mampu mendengar apa yang kukatakan daripada kalian, hanya saja mereka tidak mampu menjawabnya.”

Rasulullah mensyariatkan kepada umatnya untuk mengucapkan salam kepada ahli kubur. Layaknya salam yang akan diucapkan mereka kepada lawan bicara. Begini kalimatnya, “Salam sejahtera atas kalian, tempat tinggal orang Mukmin.”

Ucapan semacam ini layak disampaikan kepada orang yang dapat mendengar dan memikirkannya. Jika tidak, maka ucapan semacam ini hanya ditujukan kepada orang yang tidak ada di tempat atau benda mati.

Orang-orang salaf telah menyepakati hal ini. Banyak juga atsar yang diriwayatkan dari mereka bahwa orang yang sudah meninggal dunia dapat mengetahui ziarah orang yang hidup atas kuburnya. Dia pun merasa gembira karena sudah ada yang menziarahi.

Diriwayatkan dari Siti Aisyah RA, dia berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah seseorang menziarahi kubur saudaranya lalu duduk di sisinya melainkan ia senang atas kedatangannya hingga dia bangkit.

Riwayat shahih lainnya datang dari Amr bin Dinar. Tidak ada orang yang meninggal dunia melainkan dia mengetahui apa yang terjadi di tengah keluarganya setelah itu. Saat mereka memandikan dan mengafaninya, dia (jenazah) dapat melihat mereka. (Rep/Red)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.