Kamis, 1 Oktober 20

Ketika Allah Cemburu Kepada Kabah

Ketika Allah Cemburu Kepada Kabah
* Para Jemaah haji mengelilingi Kabah. (Sumber foto: kemenag.go.id)

Oleh: Helmi HidayatDosen UIN Jakarta

 

Selama musim haji, saya banyak mendengar cerita menarik tentang ‘’bisnis mencium hajar aswad’’. Sejumlah orang profesional menawarkan diri menjadi ‘’bodyguard’’ untuk jamaah haji yang tergila-gila ingin mencium batu hitam itu. Dengan membayar antara 100 riyal sampai 250 riyal duit Saudi, jamaah haji yang mau membayar jasa mereka dijamin bisa mencium hajar aswad. Orang-orang profesional itu akan rela membuat barikade ketat melindungi si jamaah sampai ke lokasi hajar aswad asal pundi-pundi riyal mereka terima dengan mantap!

Para profesional ini kebanyakan orang Indonesia yang sudah lama tinggal di Arab Saudi — biasa disebut ‘’mukimin’’. Tawaran jasa mereka menggiurkan bak gula di tengah semut. Maklum, di musim haji, jangankan sampai ke hajar aswad, sampai ke barisan kedua dari dinding Kabah saja sudah bagus saat jamaah haji bertawaf. Mereka yang bertawaf di lantai dasar Masjid Haram saja bisa mencapai 500.000 orang. Ditambah dengan mereka yang bertawaf di lantai dua dan lantai teratas, jamaah yang bertawaf bisa mencapai 1.000.000 orang.

Kendati bisnis ini mengagetkan saya, sesungguhnya ada hal lain yang membuat saya lebih terperanjat: kok ada ya mereka yang mau membayar jasa bodyguard untuk sekadar mencium makhluk tak bernyawa bernama ‘’batu’’?
Dalam Islam, ada kepercayaan bahwa hajar aswad adalah batu agung yang datang dari ‘’surga’’. Karena Nabi SAW juga mencium batu itu saat berhaji atau berumrah dulu, umat Islam pun dianjurkan mengikuti sunnah nabi ini. Sebagai Muslim, saya juga percaya bahwa hukum mencium batu hitam itu adalah sunah. Mencium batu hitam itu bagian dari ibadah.

Tapi, apakah untuk melakukan ibadah sunah itu mereka harus membayar jasa bodyguard? Para jamaah yang rela membayar jasa itu tahu persis bahwa ketika para bodyguard itu bekerja secara profesional, mereka akan melakukan ‘’apa saja’’ asal klien mereka sampai di batu. Mereka tak segan menghalangi jamaah lain yang sedang bertawaf, jika perlu menyikut mereka yang juga berlomba mencium hajar aswad, atau entah cara apa lagi mereka perbuat asal klien mereka berhasil mencapai keinginan.

Sampai di sini mari kita bertanya, apa sebenarnya tujuan ibadah haji?

Tujuan ibadah haji adalah memperoleh ‘’al-birr’’, artinya kebaikan. Orang yang berhaji dengan baik disebut ‘’mabrur’’, artinya orang penuh kebaikan. Tapi, bagaimana seseorang akan meraih derajat ‘’mabrur’’ jika ia melakukan ibadah hajinya dengan menyakiti orang lain? Untuk memperoleh predikat mabrur itu, setiap jamaah haji harus melewati banyak rintangan yang tak ringan, antara lain tidak boleh berkata jorok (rafats), berbuat maksiat (fusuq) dan berkelahi (jidal). Sekarang apa jadinya jika untuk memuluskan langkah klien mereka mencium hajar aswad, para bodyguard itu justru melakukan banyak cara yang mendekati definisi jidal atau jangan-jangan melakukan jidal itu sendiri dalam batasannya yang paling halus?

Sampai di sini saya khawatir, jangan-jangan banyak di antara jamaah haji tidak menyadari bahwa tujuan mereka datang ke Makkah bukanlah untuk menyembah Kabah, atau melakukan kultus berlebihan kepada Kabah, melainkan untuk menyembah dan mendekatkan diri pada Allah SWT. Untuk mencapai tujuan itu Allah mempersiapkan banyak sarana, mulai dari Kabah, Hajar Aswad, Maqam Ibrahim, Hijir Ismail, Multazam, bukit Shafa, bukit Marwah, gurun Arafah, Muzdalifah, Mina, sampai tiga tugu jamarat. Tapi, semua sarana itu harus mereka tempatkan sebagai makhluk-makhluk Allah belaka, bukan Allah itu sendiri!

Dalam Islam, saat beribadah seorang Muslim dilarang melakukan kultus berlebihan kepada makhluk-makhluk melebihi kultus mereka pada Allah. Jika tidak, alih-alih mendapat ridho Allah, ibadah mereka malah membuat Allah cemburu. Bayangkan saja ketika seseorang melakukan berbagai cara untuk mendekatkan diri pada Kabah, bahkan rela melakukan kekerasan sekecil apa pun untuk mencapai tujuan itu, bukankah diam-diam berarti dia sedang membuat Allah cemburu dengan menjadikan Kabah segala-galanya? Apalagi jika ia sampai melakukan apa yang dilarang Allah, misalnya menyikut dan menggencet orang lain saat berebut mencium batu hitam tadi.

Dari kisah bisnis jasa Hajar Aswad ini sekarang kita jadi tambah arif, betapa semua ibadah dalam Islam sesungguhnya ditujukan untuk ketertiban dan kesejahteraan umat manusia, bukan untuk Allah itu sendiri. Allah sudah Maha Besar dan Maha Perkasa tanpa umat manusia melaksanakan salat, puasa, zakat dan haji sekalipun.

Tapi …

Tanpa ‘’al-birr’’ atau ‘’kesalehan sosial’’ yang menjadi tujuan dilakukannya ibadah haji, umat manusia akan saling cabik sesama mereka. Tanpa ‘’taqwa’’ yang menjadi tujuan diperintahkannya puasa Ramadan, manusia akan menjadi serigala buat manusia lainnya. Tanpa ‘’al-birr’’ yang menjadi tujuan diperintahkannya zakat, manusia akan dengan bengis dan tanpa aturan memakan harta manusia lain di sekitarnya. Tanpa kemampuan menghindari ‘’fahsya’’ dan ‘’munkar’’ yang menjadi tujuan salat lima waktu, manusia akan menjadi predator buat manusia lainnya.

Karana itu, kawan, jangan berpuasa jika ibadah itu hanya menjadi sarana riya’ dan menebar teror buat orang lain. Berpuasalah karena Allah demi kebaikan umat manusia. Jangan berinfak sadakah, jika dengan ibadah itu Anda meninggalkan luka di hati si penerimanya. ‘’Perkataan yang baik dan pemberiaan maaf lebih baik dari sadakah yang diiringi tindakan menyakiti hati orang lain’’ (al-Baqarah 263). Jangan lakukan salat apalagi dengan berjamaah, jika dengan salat berjamaah itu Anda hanya menciptakan kemacetan di jalan-jalan atau ketidaknyamanan orang lain. Jika tak ingin ibadah haji kita justru menimbulkan kecemburan Allah pada Kabah, perlakukan kubus hitam itu dengan benar untuk mendekatkan diri pada Allah. Jangan sakiti satu manusia pun dengan dalih ingin membelai Kabah.

Ingat, Kabah hanyalah makhluk yang kepadanya semua umat Islam diperintahkan menghadap saat mendirikan salat. Fungsinya hanya menjadi penentu ke arah mana seharusnya mereka menghadap saat salat. Bukankah ketika seseorang salat di dalam Kabah maka fungsi Kabah sebagai penentu arah salat menjadi sirna? Di dalam Kabah Anda boleh salat menghadap mana pun karena Allah tidak hanya bersemayam di dalam Kabah, tapi mengisi setiap relung jagad raya.

Seperti kata Baruch Spinoza, Allah ada di mana-mana, bahkan termasuk dalam diri kita. Ia mengalir bersama darah karena Ia lebih dekat dari urat leher manusia (QS Qaaf: 16).

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.