Jumat, 28 Januari 22

Ketika Agama Dalam Institusi Manusia

Oleh: Insanial Burhamzah

 

PENDAHULUAN

Pasang surutnya semangat keagamaan manusia silih berganti. Dan di abad ke 20 ini, kita sedang mengalami kebangkitan semangat keagamaan dunia lagi. Dibanding tahun 1950 dan 60-an, ketika kaum sekular cenderung menganggap agama sebagai takhyul dan primitif yang di tumbuh kembangkan oleh manusia rasional dan beradab. Sehingga, tidak sedikit yang memprediksi bahwa agama akan punah dengan sendirinya di abad 21 ini. Namun, kini kita melihat bahwa perkiraan itu keliru.

Bahkan, di Uni Soviet setelah beberapa dekade tenggelam dalam ateisme formal yang di kontrol oleh negara ber ideologi komunis. Kini, setelah Gorbachev menggagas sebuah konsep keterbukaan Uni Soviet yang di kenal dengan “glasnost” Uni Soviet pecah dan semangat keagamaan yang dulunya disangka sudah mati, kenyataannya dengan cepat kembali bangkit disana. Bahkan beberapa negara pecahan Soviet seperti Chehnya, dengan bangga mendekrasikan diri sebagai negara yang berideologi agama Islam.

Dampak Revolusi Iran tahun 1979 lalu, banyak memberi kesadaran pada masyarakat Islam dunia. Khususnya, kesadaran berbusana wanita muslim dunia, mereka hampir serentak menggunakan hijab. Dan bila kita melihat potret masyarakat Indonesia di tahun 60’an sampai 1979 sebelum revolusi Iran, wanita berhijab di jalan, di pasar dan di tempat umum lainnya, masih di hitung jari. Tetapi sekarang, berhijab menjadi trending karakter baru wanita muslim dunia, sebab menyatunya fashion dan nilai ibadah.

Namun, dibalik bangkitnya kesadaran beragama dikalangan khususnya Islam, diikuti oleh issu radikal atau disebut fundamentalisme, suatu bentuk keimanan yang bersifat sangat politis, dan sebagian orang melihatnya sebagai bahaya yang mengancam dunia dan kedamaian masyarakat sipil. Walaupun para Fundamentalis itu hanya komunitas kecil, tetapi memikiki pengaruh kuat merusak citra agama.

 

AGAMA WAHYU

Setiap agama, khususnya Islam, Kristen dan Yahudi, ketiganya diyakini lahir dari perintah Allah SWT, yang diturunkan melalui firmanNya yang disehut Wahyu ilahi. Dan ditulis didalam kitab masing-masing oleh para Nabi yang ditunjuk sebagai utusanNya.

Sayangnya, setelah para Nabi pembawa risalah wahyu itu wafat, maka kitab yang menjadi representasi firman dan Wahyu ilahi itu, mengalami penafsiran yang beragam oleh pengikutnya. Sementara, dinamika peradaban dunia yang sangat cepat perkembangnnya, terus mempengaruhi pola hidup manusia, dan di-barengi masalahnya yang memerlukan jawaban logis yang dapat menjadi solusinya.

Disinilah, tantangan agama itu diuji. Dan ketika, Gereja dan Sinagog Yahudi di Eropa dan Amerika mengalami masa-masa sepi, akibat dominasi pemikiran sekulerisme begitu kuat, sehingga, mereka menganggap agama mereka tidak dapat lagi menjawab berbagai masalah mereka ditengah peradaban yang terus berkembang. Akhirnya mereka menyimpulkan bahwa, Wahyu Firman Allah SWT yang diturunkan beberapa puluh abad yang lalu, sudah tidak relevan untuk mampu menjawab persoalan-persoalan manusia di-abad 21 ?

 

AGAMA SEBAGAI INSTITUSI MANUSIA

Ketika agama itu masih berada dalam kendali langsung para Nabi yang membawanya, maka agama tersebut dianggap masih orisinil. Namun, munculnya masalah sebagai “tantangan” adalah ketika para Nabi yang membawanya telah wafat dan tiada lagi, maka agama menjadi institusi manusia, yang melahirkan sejumlah aliran bernuansa fanatisme dan fundamentalisme yang kerap membuat kesalahan-kesalahan yang serius. Seperti Bom bunuh diri, kekerasan yang didasari anti prularisme dan anti toleransi. Sehingga lahirnya stereotype negatif tentang masing-masing agama. Padahal, hanya dipicu oleh minoritas kecil dikalangannya, namun menjadi representasi keseluruhan agamanya.

Demikian pula Perang Salib di abad 12 dan 13, yang dilancarkan penguasa Kristen, karena didorong oleh rasa ketakutan atas suksesnya Islam yang terus ada. Padahal ketika khilafah Islam berdiri di abad ke 7, Eropa masih dalam dalam terkebelakang, Islam lah yang membawakan peradaban baru yang mengeluarkan eropa dari zaman kegelapan dari peradabannya yang suram. Namun, karena agama kristen sdh dikelola oleh institusi manusia biasa, maka lahirlah perilaku yang anti toleransi dan anti prularisme terhadap Islam.

Dikalangan Hindu juga mengalami hal yang sama, mereka turun kejalan untuk membela sistim kasta dan menentang Muslim India.

Yahudi melakukan pendudukan dan penghunian illegal pada palestina dan bahkan baru-baru ini menutup Mesjid Al-Aqsa dan menggembo’ pintunya agar ummat Islam tidak dapat shalat didalamnya, sehingga memicu bentrokan yang memakan korban jamaah yang tidak berdosa.

Para Monk atau biksu Budha di Myanmar, yang dengan bengis dan biadab membantai ribuan wanita dan anak-anak muslim Ronghya, yang tidak bersenjata.

Semua ini adalah potret kesalahan serius ketika agama di kelola oleh institusi manusia yang membangun diskursusnya sendiri keluar dari nilai-nilai dari tujuan utama agama itu sendiri.

Dan pertentangan terkait khilafiah atau aliran/mashab saat ini dikalangan Islam sendiri semakin melebar dan saling mengharamkan satu dengan lainnya.

Dan, seringkali perbedaan pendapat itu justru dilakukan oleh mereka yang tidak punya kapasitas keilmuwan khusus dalam istimbath hukum.

Bahkan orang yang tidak mengerti ilmu kecuali hanya sekedar bertaklid kepada seorang tokoh, tiba-tiba dengan beraninya mencaci-maki para ulama sambil menuduh mereka ahli bid’ah. Padahal, dia sendiri tidak paham apa yang sedang dikatakannya.

Tidak jarang orang-orang awam itu hanya punya ilmu sebatas apa yang gurunya sampaikan, akan tetapi seolah-olah dia berlagak seperti ulama betulan, sambil menyalahkan semua hal yang sekiranya tidak sama dengan pendapat gurunya. Orang seperti ini tidak lain adalah muqallid yang jahil serta tidak punya tata adab sebagai ulama.

 

PENUTUP

Walaupun Agama itu lahir dari wahyu Ilahi, namun sangat rentan tercederai oleh mereka yang merasa “pewaris tunggal” dan mengabaikan esensi makna kebersamaan sebagai pilar utama dalam beragama. Sehingga, rasa adil dan kedamaian ummat di muka bumi ini, semakin jauh. Padahal, nilai-nilai kemanusiaan kita akan menjadi bekal kita, ketika menghadap kepada sang Khaliq.

Tentu kita tidak dapat menghindarkan diri dari perbedaan persepsi, perbedaa opini dan perbedaan-perbedaan lainnya, sebab hal itu adalah bagian dari hak intelektual bagi milyaran orang.

Tetapi, jika masih ada kejujuran di hati kita, maka perbedaan yang sedikit itu bukan menjadi alasan kita terpecah satu dengan lainnya. Sebab, pasti masih ada dan lebih banyak lagi persamaan-persamaan kita yang tersisa untuk kita jadikan tali perekat membangun persaudaraan didalam nilai-nilai kemanusiaan kita. Agar, kita dan anak-anak kita masih bisa menatap warna-warni kehidupan dalam kesetaraan dan kedamaiannya. (***)

 

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.