Selasa, 28 September 21

Keteladanan Pemimpin

Keteladanan Pemimpin

Keteladanan Pemimpin
Oleh: Haris Rusly
(Aktivis Pergerakan 98)

Memakai cara pandang “hukum alam” dalam menjelaskan keadaan bangsa kita hari ini, jika air yang mengalir dari mata air di puncak gunung itu bersih dan bening, maka otomatis air tersebut akan menyapu bersih sungai di dataran yang lebih rendah yang berlumpur menjadi aliran air yang bersih, bening dan murni.

Sebaliknya, jika dari mata air di puncak gunung itu penuh dengan lumpur dan kotoran, maka aliran air tersebut secara otomatis akan mengotori sungai di dataran yang lebih rendah yang sebelumnya dialiri oleh air yang bersih dan bening.

Demikianlah makna dari keteladanan seorang pemimpin. Jika para pemimpin sebuah bangsa yang bagaikan air di mata air di puncak gunung, berperilaku jujur, tidak munafik, tidak ingkar janji, tidak haus kekuasaan dan tidak serakah harta, maka perubahan ke arah sebuah tatanan masyarakat yang adil dan sejahtera akan mudah dicapai, walaupun sudah pasti berliku dan penuh dengan rintangan, bagaikan mata air yang jernih dan murni yang mengalir dari puncak gunung membersihkan lumpur yang mengotori sungai di dataran terendah.

Sebaliknya, jika seorang pemimpin itu munafik, ingkar janji dan haus kekuasaan dan serakah jabatan, maka otomatis akan mengotori dengan sendirinya kehidupan sebuah masyarakat yang awalnya masih memegang teguh nilai-nilai dan moralitas.

Jika menggunakan hukum sebab akibat (kausalitas), maka kita sudah bisa menyimpulkan keadaan bangsa kita hari ini dan ke depan. Jika para pemimpin yang lahir itu dari kandungan sebuah sistem yang mentradisikan ingkar janji, munafik dan khianat, maka wujud sebuah masyarakat sebagai akibatnya sudah bisa kita pastikan, yaitu rusaknya tatanan.

Karena itu, untuk membenahi keadaan sebuah masyarakat sudah pasti harus membersihkan mata air di puncak gunungnya, yaitu para pemimpinnya, serta menata aliran sungai atau sistem negaranya, agar bisa menjernihkan kembali kehidupan sebuah masyarakat yang dikotori oleh lumpur pengkhianatan, kemunafikan dan keserakahan.

Tentu kita tidak bermaksud membangun surga di muka bumi: di mana tidak ada lagi kejahatan dan kemunafikan. Karena dunia diciptakan oleh Tuhan dengan dilengkapi segala unsur yang beragam, ada yang positif, tapi ada juga yang negatif, ada ‘ying’ dan ada ‘yang’, ada bakteri jahat, tapi ada juga bakteri baik, yang selalu saling melengkapi.

Unsur positif tidak selalu harus benar dan baik, demikian juga yang unsur negatif tidak selalu harus salah dan tidak benar. Semua pasti berfungsi menurut kodrat alamiahnya untuk membentuk dunia dan segala isinya.

Menyimpangkan unsur negatif menjadi sebuah kejahatan adalah melawan kodrat alamiah dari unsur itu diciptakan.

Demikianlah tugas manusia, harus selalu menjaga kodrat alamiahnya yang diberi akal dan budi oleh Tuhan Yang Maha Kuasa, untuk menjadi khalifah di muka bumi.

Manusia yang berbuat jahat, khianat, rakus, serakah, adalah manusia yang menyimpang dari kodrat alamiahnya yang ditakdirkan oleh Tuhan, yang berbeda dari binatang, jin dan juga malaikat.

Tugas kita sebagai manusia adalah menjaga kodrat atau takdir alamiah kita sebagai manusia, tidak untuk menjadi malaikat yang putih bersih, tidak untuk menjadi setan yang berkhianat, tidak untuk menjadi binatang yang tidak punya akal dan budi. [#]

 

*) Haris Rusly – Koordinator Petisi 28, Mantan Ketua Umum Partai Rakyat Demokratik (PRD)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.