Selasa, 22 September 20

Ketakutan Mencekam London

Ketakutan Mencekam London
* Insiden tembakan London. (ParsToday)

London – Menyusul insiden tembakan di London di dekat Westminster, lokasi gedung Majelis Rendah Britania, kondisi ibukota negara ini sepenuhnya dalam pengamanan ketat.

Menurut laporan terbaru, seorang penyerang menabrakkan mobil ke pejalan kaki di Westminster Bridge, dan melukai sedikitnya 20 orang, dalam apa yang memiliki tanda serangan serupa terhadap daratan Eropa. Sebagian korban dilaporkan telah mengalahmi luka parah. Tiga polisi dan sejumlah anak Prancis termasuk di antara korban tewas.

Mobil itu kemudian melaju dengan kecepatan tinggi dan menabrak pagar yang mengelilingi gedung Majelis Rendah Parlemen Inggris. Polisi Metropolitan mengatakan seorang lelaki, yang bersenjatakan pisau, melanjutkan serangan, dan berusaha memasuki gedung Parlemen.

Ia menyerang seorang polisi bersenjata yang sedang bertugas di gedung Majelis Rendah Parlemen dan ditembak oleh petugas lain yang bersenjata. Polisi yang diserang dan penyerangnya belakangan tewas akibat luka mereka. Keluarga polisi yang jadi korban diberitahu mengenai tratedi tersebut.

Juru bicara parlemen Inggris mengkonfirmasikan penutupan sementara majelis negara ini hingga pengumuman berikutnya. Kepolisian Metropolitan London mengatakan serangan yang terjadi di Westminster, kawasan Parlemen Inggris, di London, Rabu sore merupakan serangan teroris.

Komandan Kepolisian Metropolitan London BJ Harrington sebagaimana dilaporkan Sky News mengatakan bahwa serangan itu sudah dinyatakan sebagai “insiden teroris” dan “operasi kontra terorisme penuh” sedang berlangsung. Para simpatisan kelompok teroris Daesh di laman sosial merilis poster mendukung serangan tersebut dengan tajuk “Dalam waktu dekat….Perang kami di tanah air kalian sampai kini belum mulai”.

Daesh menisbatkan setiap serangan teror di dunia dengan dirinya dengan harapan menampilkan domain pengaruh dan ancamannya pasca kekalahan besarnya di Irak dan Suriah. Masih ada skenario lagi dalam hal ini. Ratusan anasir Daesh yang dengan mudah menuju Suriah serta Irak untuk menumbangkan pemerintahan legal Damaskus dan mengobarkan krisis di Timur Tengah di bawah ketidakpedulian dinas intelijen dan keamanan Britania serta negara-negara Eropa lainnya, setelah terjepit akibat operasi sukses militer Suriah dan Irak tengah kembali ke negara mereka di Eropa. Anasir teroris yang mendapat pelatihan dan pengalaman tempur ini berubah menjadi ancaman serius bagi pemerintah Eropa.

London sejak Rabu (22/3) telah keluar dari kondisi normal. Tempat-tempat wisata di kota ini ditutup dan pemerintah Britania dilaporkan menggelar sidang darurat membahas insiden tersebut.

Insiden yang terjadi di dekat Majelis Rendah dan kantor perdana menteri ini menunjukkan betapa pusat-pusat pemerintahan Inggris sangat rentan akan setiap ancaman. Sebelumnya insiden teror di Inggris menarget pusat-pusat ramai seperti stasiun kereta api bawah tanah. Namun serangan hari Rabu menempatkan Inggris pada kondisi baru. Lokasi insiden kali ini dekat dengan lokasi penting pemerintah dan tempat wisata sehingga sangat berpengaruh pada lokasi wisata paling penting di negara ini.

Mengingat desas-desus mengenai pelaku serangan hari Rabu di London, kini muncul gelombang baru pengamanan ketat terhadap umat Muslim. Pasca peristiwa teror London tahun 2005, pemerintah Partai Buruh Inggris pimpinan Perdana Menteri Toni Blair menerapkan pengamanan super ketat terhadap umat Muslim dan etnis ini hanya dengan dugaan dan tanpa proses pengadilan dapat ditangkap dan langsung dipenjara.

Atmosfer Inggris sama seperti negara-negara Eropa lainnya, anti imigran. Kubu sayap kanan ekstrim dan anti Islam berusaha memanfaatkan sebesar-besarnya peristiwa seperti ini bagi kepentingan politik dan kampanye untuk mensukseskan ambisi mereka. Insiden teroris beberapa tahun lalu di berbagai negara Eropa dan Amerika memiliki refleksi hingga di luar perbatasan.

Sosok pertama yang mereaksi insiden London adalah Presiden Amerika Donald Trump. Ia langsung menghubungi Perdana Menteri Inggris, Theresa May dan berbicara mengenai solidaritas pemerintah Washington dengan London di perang kontra terorisme. Dua keppres Trump anti imigran dengan dalih memerangi terorisme ditangguhkan oleh pengadilan Amerika. Insiden hari Rabu di London akan menjadi alasan terbaik bagi Trump untuk menjustifikasi keppresnya yang saat ini ditangguhkan pengadilan. (*/Red)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.