Jumat, 7 Agustus 20

Keperpihakan Non Listed Saham dan Listed Utang Pertamina di BEI

Keperpihakan Non Listed Saham dan Listed Utang Pertamina di BEI

Jakarta РRini Soemarno meminta  PT. Pertamina untuk melakukan non Listed terhadap saham Pertamina dan melakukan listed terhadap utang luar negeri Pertamina di Bursa Efek Indonesia (BEI). Ini membuka mata publik bahwa Rini adalah sosok Neoliberal sejati yang hendak melakukan privatisasi terhadap BUMN.

“Sikap Rini merupakan sesuatu yang bertentangan dengan slogan Trisakti Presiden Jokowi. Oleh karena itu rencana privatisasi/penjualan Pertamina melalui non listed saham dan listed utang harus ditolak keras,” ungkap Salamuddin Daeng, Pengamat Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI) dalam pernyataan tertulisnya kepada Obsession News, Jumat (12/12/2014).

Menurut Daeng, keinginan Rini untuk melakukan Privatisasi PT. Pertamina semakin terlihat dengan dipilihnya Dwi Soetjipto sebagai Dirut Pertamina. Akuntan mantan Dirut Semen Indonesia (SI) ini adalah sosok yang sangat piawai dalam melakukan privatisasi BUMN. Ini terbukti bagaimana Dwi Sotjipto melakukan privatisasi hingga 49 persen saham SI, Dwi Sotjipto juga agresif mengambil utang yang menyebabkan SI menanggung utang dan kewajiban hingga lebih Rp 11 triliun (2013), bebernya.

Namun, lanjutnya, banyak pengamat salah kaprah dengan keinginan Rini, mereka pikir bahwa non listed saham berarti tidak menjual saham. Mereka termakan propaganda bahwa non listed akan membuat pertamina transaparan kepada publik. Pertanyaannya publik yang mana? apakah mereka hendak membuka jeroan pertamina kepada asing, sejak lama menginginkan BUMN ini bangkrut ??

Daeng menilai, Rini bukanlah bermaksud menjadikan Pertamina transparan pada rakyat, melainkan bermaksud menjual Pertamina. Non listed juga mengacu pada “over-the-counter” yakni: stocks that trade via a dealer network as opposed to on a centralized exchange atau debt securities and other financial instruments such as derivatives, which are traded through a dealer network (saham yang diperdagangkan melalui jaringan dealer sebagai lawan pada efek hutang pertukaran ATAU terpusat dan instrumen keuangan lainnya seperti derivatif yang diperdagangkan melalui jaringan dealer).

“Belum lagi utang negeri Pertamina yang besar, siap diperdagangkan kembali di BEI. Hal ini akan semakin meningkatkan akumulasi utang BUMN ini. Padahal saat ini liabilitas Pertamina telah mencapai 65 persen dari total asetnya,” ungkap Pengamat AEPI.

Oleh karena itu, tegas dia, rencana privatisasi/penjualan Pertamina melalui non listed saham dan listed utang harus ditolak keras! (Ars)

 

Related posts