Selasa, 6 Desember 22

Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri) Tito Karnavian

Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri) Tito Karnavian
* Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian.

Jabatannya sebagai Kapolri jelas berpengaruh terhadap keamanan bangsa dan negara ini. Salah satu ujian terbesar Polri di bawah kepemimpinannya adalah mengamankan Pilkada 2017 yang serentak digelar di 101 daerah. Berkat peran Polri Pilkada 2017 berjalan lancar.


Secara mengejutkan Jokowi memilih Komisaris Jenderal (Komjen) Pol Tito Karnavian sebagai Kapolri. Ini mematahkan tradisi senioritas di tubuh Polri karena Tito lebih dipilih ketimbang para seniornya berpangkat tiga bintang yang berjumlah 7 orang. Tito dilantik sebagai Kapolri oleh Jokowi di Istana Negara, pada Rabu 13 Juli 2016 lalu. Tentunya diiringi pangkat jenderal bintang empat. Ia menggantikan Jenderal Pol Badrodin Haiti yang memasuki masa pensiun.

Sebelumnya Tito calon tunggal Kapolri yang diajukan Presiden ke DPR untuk mengikuti fit and propert test dan mendapat respons positif.

Tito dilahirkan di Palembang, 26 Oktober 1964. Ia lulus Akademi Kepolisian (Akpol) tahun 1987 dan menerima bintang Adhi Makayasa sebagai lulusan terbaik. Setelah lulus, dia langsung ditugaskan di Polres Jakarta Pusat. Tugas teritorial pertama yang dibebani  sebagai Kanit Jatanras Reserse Polres Metro Jakarta Pusat.

Tito banyak bertugas di reserse. Kariernya terus mengalir mulai di Polsek, Polres, Polda, hingga di Polri. Dari reserse, sespri Polri, anti teror, hingga asrena Polri. Namanya mulai dikenal saat ia berhasil menangkap Tommy Soeharto, dalang pembunuhan Hakim Agung Safiudin, pada tahun 2001. Ia ditugaskan sebagai ketua Tim Kobra bentukan Reskrim Polda Metro Jaya. Ia pun diganjar kenaikan pangkat dari Mayor ke Ajun Komisaris Besar (AKBP).

Kariernya terus berlanjut, ia ditugaskan di detasemen 88 Anti Teror Polda Metro Jaya pada tahun 2004. Dengan pangkat Ajun Komisaris Besar (AKBP), ia memimpin tim dengan 75 personil. Ia berhasil membongkar dan menangkap teroris di Indonesia. Tim ini dapat melumpuhkan teroris Azahari Husin dan kelompoknya di Batu, Malang, Jawa Timur, 9 November 2005. Atas prestasinya ini, ia lagi-lagi mendapatkan kenaikan pangkat luar biasa dari AKBP menjadi Komisaris Besar Polisi (Kombes).

Tak hanya itu, Tito juga berhasil menangkap daftar pencarian orang (DPO) kasus konflik Poso pada 2007. Dua tahun kemudian Tito bersama perwira berhasil membekuk pimpinan teroris Noordin M Top pada tahun 2009.

Sukses menangani teroris, Tito ditarik ke Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT). Tak lama di BNPT, pada tahun 2012 Tito ditugaskan menjadi Kapolda Papua. Di Papua hanya bertugas dua tahun (2012-2014), karena ia ditarik ke Mabes Polri manjadi Asisten Perencanaan Anggaran (Asrena) Kapolri.

Pada tahun 2015 Tito ditunjuk menjadi Kapolda Metro Jaya. Ia cekatan dalam menangani kejadian teroris Bom Sarinah Thamrin, Jakarta, tahun 2016. Suksesnya terus berlanjut, baru 9 bulan jadi Kapolda, ia ditunjuk menjadi  Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT). Pangkatnya pun ikut naik dari Inspektur Jenderal Polisi (Irjen) menjadi Komisaris Jenderal Polisi (Komjen). Baru tiga bulan di BNPT, ia sudah diminta oleh Presiden Jokowi untuk menjadi Kapolri. (ARH)

Artikel ini dalam versi cetak dimuat di Majalah Men’s Obsession edisi Agustus 2017

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.