Senin, 23 September 19

Kepala Badan POM Penny Kusumastuti Lukito Beredukasi untuk Konsumen Cerdas

Kepala Badan POM Penny Kusumastuti Lukito Beredukasi untuk Konsumen Cerdas
* Penny Kusumastuti Lukito. (Foto: Dok. Humas Badan POM)

Berkarier sebagai birokrat membuat perempuan bernama lengkap Penny Kusumastuti Lukito ini tidak menghadapi banyak kendala ketika dimandatkan mengepalai Badan Pengawas Obat dan Makanan (POM) Republik Indonesia. Meskipun memiliki latar belakang pendidikan teknik lingkungan yang tidak secara langsung terkait dengan bidang pengawasan obat dan makanan, namun berbekal pengalamannya selama lebih dari dua dekade, perempuan yang akrab dipanggil Penny ini berhasil membuktikan kemampuannya. Lembaga yang sangat strategis tersebut kini telah bertransformasi menjadi lebih baik.

Sebelum dilantik, Penny menduduki jabatan sebagai Aparatur Sipil Negara Perencana Utama Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/BAPPENAS.

“Walaupun dengan latar belakang berbeda, tetapi pengalaman saya membuat saya percaya diri dan tahu apa permasalahan yang ada di birokrasi. Kalau dari aspek substansi, teman-teman di sini ahlinya. Saya tinggal diskusi menanyakan dan menggalinya. Alhamdulillah, Tuhan memberi saya kemampuan untuk bisa belajar dengan cepat dan itu yang paling saya syukuri,” ujarnya dengan mantap.

Dalam memimpin, Penny mengatakan sangat menekankan intuisi, keterbukaan, kejujuran, dialog, dan komunikasi. Kelima hal itulah yang membawanya meniti karier, walaupun harus menangani bidang yang baru sama sekali.

Misalnya saja, dia pernah ditugaskan memimpin Inspektorat Bidang Tenaga Kerja Kelembagaan BAPPENAS. Suatu divisi yang benar-benar baru dibentuk ketika itu. Hal pertama yang dilakukannya adalah berkomunikasi dengan banyak orang, mencari input, mencari inspirasi.

“Dari pernyataan orang mungkin tidak sesuai dengan pikiran kita, tapi bisa memberikan cara pandang baru untuk memperluas wawasan,” papar ibu empat anak ini menjelaskan proses adaptasinya.

Memimpin Badan POM selama tiga tahun, telah banyak perubahan yang dilakukan. Penny menyampaikan bahwa keterbukaan dengan para pelaku usaha, masyarakat, institusi Pendidikan, dan stakeholder lainnya sangat penting. Dari situ berbagai masukan dapat diterima, apa yang menjadi concern para stakeholder, apa yang perlu dikoreksi, ataupun di deregulasi sehingga Badan POM dapat memberikan pelayanan publik terbaik.

Selain itu, Badan POM melakukan reformasi di bidang pengelolaan tata usaha dalam melaksanakan pengawasan dan perlindungan kepada masyarakat.

Tahun ini Badan POM fokus mengawal Rancangan Undang-Undang (RUU) Pengawasan Obat dan Makanan. Harapannya sebelum periode masa DPR dan pemerintah periode ini berakhir, RUU tersebut sudah bisa diselesaikan untuk menindaklanjuti temuan-temuan di lapangan mengenai obat dan makanan illegal termasuk palsu. Inti undang-undang tersebut adalah memperkuat tugas dan fungsi BPOM sebagai institusi yang sangat strategis dalam memberikan perlindungan pada masyarakat.

Dari aspek perizinan terhadap obat dan makanan yang aman, bermanfaat, dan bermutu, kemudian melakukan pengawasan di setiap jalur. Mulai dari riset, produksi, peredaran, penjualan, sampai konsumsinya.

Penny mengungkapkan, Badan POM membutuhkan aspek penindakan hukum yang dilindungi payung hukum berupa Undang-Undang Pengawasan Obat dan Makanan. Hal ini tidak lain untuk dapat merespons dengan cepat jika terjadi permasalahan di tengah masyarakat.

“Untuk itu, masyarakat perlu diedukasi supaya menjadi konsumen yang cerdas dan tidak terpengaruh oleh berbagai produk obat dan makanan yang tidak jelas bahan-bahannya. Apalagi di era globalisasi dengan kemudahan untuk mendapatkan segala sesuatu secara online, tanpa tahu keamanan, manfaat, dan mutunya kalau belum mendapatkan izin edar dari Badan POM.

Ada pula program strategis terkait dengan usaha mendorong pengembangan industri obat berbahan produk biologis, industry jamu, obat herbal terstandar, dan fitofarmaka yang harus aman dan memenuhi persyaratan mutu yang berlaku.

“Kami sudah membangun satgas-satgas untuk mengawal pengembangan industri-industri tersebut mulai dari hilirnya, yaitu mulai dari riset sampai menjadi produk jadi yang siap dipasarkan. Tidak hanya itu, Badan POM juga terus melakukan pendampingan agar dalam proses pengembangannya, pihak industri dapat memenuhi standar yang berlaku,” jelas Penny.

Berbagai program ini adalah wujud nyata usaha Badan POM dalam mendorong industri obat dan makanan. Dengan demikian, produk dalam negeri bisa menjadi unggulan di Tanah Air. Penggunaan teknologi informasi digalakkan pula, seperti penggunaan 2D Barcode yang harus ada pada kemasan obat dan makanan untuk memudahkan konsumen menelusuri informasi terkait obat dan makanan yang beredar di pasaran.

Kerja sama dan dukungan dari lintas sektor tentunya sangat diperlukan untuk meningkatkan efektivitas pengawasan obat dan makanan. Salah satu program dengan lintas sektor yang masih terus dilaksanakan adalah Gerakan Masyarakat Hidup Sehat Sadar Pangan Aman (Germas Sapa). Gerakan ini turut melibatkan Pramuka sebagai generasi muda yang diharapkan dapat menjadi perpanjangan tangan Badan POM dalam melakukan Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) mengenai obat dan makanan aman kepada masyarakat.

“Badan POM juga terus bekerja sama dengan kementerian/lembaga yang terkait. Dukungan media untuk menyampaikan informasi tentang obat dan makanan yang aman, bermanfaat, dan bermutu serta bagaimana membuat masyarakat menjadi konsumen cerdas juga sangat dibutuhkan. Langkah-langkah ini kami lakukan sebagai wujud nyata Badan POM dalam melindungi kesehatan masyarakat Indonesia  dengan menjamin keamanan obat dan makanan yang beredar,” tukas perempuan yang aktif hidup sehat dan senang berolahraga ini. (Nur Asiah)

 

Artikel ini dalam versi cetak dimuat di Majalah Women’s Obsession Edisi Agustus 2019 dengan tema “17 Perempuan Tangguh 2019”

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.