Sabtu, 23 Januari 21

Kenapa Kebiasaan Anda Menunda-nunda Pekerjaan?!

Kenapa Kebiasaan Anda Menunda-nunda Pekerjaan?!
* Ilustrasi menunda-nunda pekerjaan. (Foto: sehatq)

Bayangkan jika Anda bisa menjadi lebih sehat, lebih kaya, dan mengurangi stres hanya dengan beberapa langkah yang dilakukan setiap hari. Tanpa perlu berkorban banyak, namun seiring waktu, kehidupan personal dan profesional Anda akan menjadi jauh lebih baik dalam berbagai hal.

Bagi banyak orang, kebiasaan menunda-nunda adalah halangan besar bagi perubahan positif. Para penunda kronis lebih kecil kemungkinannya untuk mendapatkan pekerjaan tetap, dan mereka yang sudah bekerja memiliki gaji yang sedikitnya $14.000 lebih sedikit dari kolega mereka yang lebih proaktif.

Penunda-nunda juga kesulitan menemukan waktu untuk berolahraga, karena mereka selalu menunda aktivitas fisik untuk esok hari. Dan, berkat kekacauan yang muncul akibat sering menghindari tugas-tugas penting, mereka cenderung merasakan kegelisahan tingkat tinggi. Hasilnya adalah risiko lebih tinggi terkena penyakit kronis, termasuk penyakit kardiovaskular.

Padahal sebenarnya tidak perlu begitu, menurut penelitian terbaru yang dilakukan Jason Wessel. Sebagai bagian dari studi doktoratnya di Griffith University, Queensland, Australia, Wessel mengembangkan sistem yang terdiri dari empat “poin refleksi” sederhana yang menyasar akar psikologis dari masalah ini.

Tanyakan pertanyaan-pertanyaan ini secara rutin pada diri Anda, maka Anda pun akan lebih mudah melawan godaan, sehingga dapat fokus pada hal-hal yang benar-benar penting dalam hidup.

Teori Motivasi Temporal
Teknik Wessel terinspirasi oleh Teori Motivasi Temporal, yang menyebut ada empat penyebab menunda-nunda. Keempatnya saling terkait.

Pertama, ekspektansi: kita meremehkan peluang kita melakukan suatu tugas dengan baik, yang menurunkan motivasi secara keseluruhan.

Kedua, sensitivitas pada penundaan: banyak dari kita tidak memahami seberapa parah menunda suatu tugas akan memengaruhi kesempatan untuk menyelesaikannya tepat waktu.

Ketiga, kegagalan mengapresiasi ‘nilai’ suatu tugas dan manfaat yang didapatkan dari menyelesaikannya tepat waktu. Ini berarti kita memilih kesenangan saat ini daripada konsekuensi jangka panjang.

Keempat, Wessek berpendapat bahwa kita kekurangan ‘metakognisi’ – kesadaran diri dan kapasitas untuk berpikir secara analitis tentang pikiran kita sendiri – yang akan memungkinkan kita mengidentifikasi cara-cara untuk menolak perilaku ini dan kembali ke jalur yang benar.

Studi tentang para penunda kronis telah memberi sejumlah bukti kuat untuk Teori Motivasi Temporal, namun tidak banyak penelitian yang mencari penawar untuk masalah ini. “Belum banyak studi yang melakukannya,” kata Wendelien van Eerde, peneliti di Universitas Amsterdam yang melakukan meta analisis tentang intervensi untuk kebiasaan menunda-nunda pada 2018.

Dalam studinya, van Eerde menemukan bahwa Terapi Perilaku Kognitif (Cognitive Behavioural Therapy, CBT) adalah satu-satunya metode dengan manfaat yang dapat diandalkan. Dalam sesi CBT, terapis profesional akan membantu klien menjabarkan pikiran, emosi, dan tindakan yang membatasi produktivitas mereka.

“Anda berusaha mengenali kesalahan yang Anda lakukan, dan menyesuaikan perilaku Anda menjadi cara yang lebih efektif dalam mengatasi sesuatu,” kata van Eerde.

Namun, meskipun efektif, sesi CBT yang dilakukan secara tatap muka membutuhkan waktu relatif lama dan biaya mahal, sehingga sulit dilaksanakan secara massal. Ini membuat Wessel memikirkan kemungkinan alternatif yang lebih cepat dan lebih murah.

Setelah berpikir dengan teliti, ia memutuskan untuk merangkum prinsip-prinsip Teori Motivasi Temporal menjadi empat pertanyaan sederhana yang mengajak seseorang untuk mempertimbangkan:

Bagaimana orang sukses akan menyelesaikan tugas ini?
Bagaimana perasaan Anda jika tidak mengerjakan tugas yang perlu dikerjakan?
Apa langkah pertama yang perlu Anda lakukan?
Jika Anda bisa melakukan satu hal untuk menyelesaikan tugas ini tepat waktu, apa itu?
Universitas merupakan lingkungan yang sangat pas untuk menguji metode ini. Wessel awalnya merekrut lebih dari 100 mahasiswa program sarjana yang harus mengumpulkan tugas tulisan, yang bernilai sepertiga nilai akhir mereka.

Untuk mengukur progres mereka, para mahasiswa dikirimkan pesan teks secara rutin, yang meminta mereka mengestimasi kemajuan dalam menyelesaikan tugas mereka (dari 0% hingga 100%). Mereka yang ambil bagian dalam intervensi ini juga diminta merenungkan poin-poin di atas dalam berbagai kesempatan selama dua minggu.

Wessel berharap kegiatan tersebut dapat membawa perubahan dalam cara berpikir yang biasanya dicapai dalam terapi tatap muka, namun dalam periode-periode yang lebih singkat.

“Ini mereplikasi beberapa elemen yang Anda dapatkan dalam sesi pelatihan atau konseling atau terapi,” ujarnya, “tapi dalam ‘dosis mikro’.

Ketika dia membandingkan laporan kemajuan para peserta selama dua minggu, Wessel mendapati bahwa mereka yang memikirkan empat poin refleksi cenderung menyelesaikan pekerjaan lebih awal, alih-alih menunda tugas sampai mendekati tenggat. Dengan kata lain, cara tersebut mengurangi penundaan mereka secara signifikan.

Manfaatnya tidak langsung dirasakan; Wessel berkata para siswa perlu mempertimbangkan poin refleksi yang berbeda beberapa kali sebelum mereka mulai bertindak. Fenomena ini dia sebut sebagai “efek tidur”.

“Seringkali mereka memberi tahu aplikasi bahwa mereka tahu persis apa yang perlu dilakukan, tetapi kemudian tidak melakukannya,” ujarnya.

Barangkali Anda mengira para mahasiswa akan jengkel dengan pengingat tersebut, tetapi banyak dari mereka mengatakan telah belajar banyak dari pengalaman tersebut. “Mereka berkata kita harus melakukan ini untuk setiap mata kuliah mereka.”

Pendekatan yang menjanjikan
Van Eerde terkesan dengan hasilnya, dan optimis dengan kepraktisan cara intervensi ini. “Saya pikir ini salah satu pendekatan yang lebih menjanjikan,” katanya.

Dengan menggunakan prinsip-prinsip yang sama, Wessel merancang sebuah aplikasi untuk mendorong orang-orang agar memperbaiki pola makan mereka; dan dia berspekulasi bahwa, apa pun tujuannya, kita semua bisa mendapat manfaat dengan memikirkan poin-poin refleksi ini secara teratur.

Jika Anda ingin menerapkannya sendiri, masukkan beberapa pengingat harian di kalender daring Anda untuk memastikan bahwa Anda benar-benar meluangkan waktu untuk membaca pertanyaan-pertanyaan di atas.

“Jika Anda menyadari bahwa Anda selalu menunda-nunda, itu bisa menjadi cara yang baik untuk mengontrol perilaku Anda,” kata Wessel.

Hal terpenting, menurut Wessel, adalah secara teratur mempertanyakan tujuan apa yang sebenarnya penting buat Anda, dan mengecek apakah Anda sudah cukup memprioritaskannya.

Berikutnya, Anda harus mencari cara untuk memecah tugas Anda menjadi bagian-bagian yang lebih kecil, sebelum mengambil langkah pertama yang paling mudah.

Cara dapat menciptakan semacam momentum yang akan mengurangi kemungkinan Anda menunda-nunda, kata Wessel.

Penelitian Wessel bergabung dengan sejumlah penelitian yang menunjukkan bagaimana momen-momen singkat untuk refleksi diri dapat memberi keuntungan besar.

Berpikir fokus, meski sebentar, tampaknya dapat sangat membantu meningkatkan ketekunan, organisasi, dan efisiensi Anda, sehingga Anda punya lebih banyak waktu untuk dihabiskan pada hal-hal yang benar-benar penting. (Red)

Sumber: BBC News

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.