Jumat, 20 Mei 22

Kenapa Harus Diusut Penyebaran Foto Kapolda Jumpa Pembacok?

Oleh : Asyari Usman,  Wartawan Senior

 

Mudah-mudahan yang saya tulis ini tidak akan dipidanakan. Soalnya, hal-hal sepele yang tak perlu diusut, sekarang akan dipersoalkan oleh Pak Polisi. Ini terkait dengan peredaran foto yang menampakkan Kapolda sedang “menginterogasi” kedua terduga pelaku percobaan pembunuhan pakar IT, Hermansyah.

Tidak boleh disebut, “Kapolda sedang santai bersama terduga pembacok Hermansyah.” Harus disebut, “Kapolda sedang memeriksa terduga.”

OK, ngerti!

Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Argo Yuwono, mengatakan (seperti dimuat merdeka.com) pertemuan itu adalah bagian dari kegiatan laporan ke Kapolda bahwa pelaku sudah ditangkap.

OK, paham!

“Sehingga dilakukan interogasi oleh Kapolda. Hal yang wajar sebagai atasan penyidik,” kata Argo di Mapolda Metro Jaya, Rabu (12/7), seperti dilaporkan merdeka.com.

OK, paham juga!

Kapolres Jakarta Timur, Andry Wibowo, menyiratkan (awas, saya tidak bilang “mengatakan” ya Pak; sekali lagi “menyiratkan”) bahwa pertemuan Kapolda dengan kedua terduga pelaku percobaan pembunuhan Hermansyah, adalah hal yang wajar.

OK, terserah Anda saja, Pak!

“Itu hal wajar saja, Kapolda biar tahu ini loh pelakunya, jadi ini hasil dari anak buahnya,” ujarnya saat dihubungi merdeka.com.

OK, ngerti!
===
Sudah? Boleh saya berkomentar, Pak? Tapi, Pak, mohon tidak diancam pidana!

Saya setuju duduk santai sambil interogasi oleh Pak Kapolda itu, wajar-wajar saja. Meskipun bagi banyak orang, itu terasa aneh. Kalau dikatakan Kapolda melakukan pemeriksaan (interogasi), rasa-rasanya menurut pandangan mata yang awam ini, setting yang tertangkap di foto itu mengundang khalayak untuk berkomentar lain. Tidak seperti yang Pak Polisi inginkan. Namanya juga komentar di ruang terbuka.

Menurut hemat saya, sangat wajar khalayak mengomentari foto itu. Bukankah foto tsb sudah berada di pubic domain? Sudah menjadi milik khalayak? Kalau tidak mau ada koementar yang bervariasi, ya sejak awal dikeluarkanlah larangan memotret dan menyebarkan foto situasi duduk bareng pembacok itu. Lagi pula, komentar yang mau Anda usut itu hanya berbunyi “Pantaskah…?” Masa iya begini saja fitnah?

Mudah-mudahan saja komentar saya, “…itu teras aneh” dan “…mengundang khalayak untuk berkomentar,” tidak mengandung unsur fitnah yang bisa dipidanakan oleh Polisi. Kalau ada unsur pidananya, saya mohon maaf lebih dulu, Pak!

Wah, penat juga menulis artikel dengan gaya begini. Tapi, demi “keselamatan” diri sendiri, agar tidak dipidanakan, biarlah berpanjang-panjang dan berdungu-dungu seperti ini.

Terkadang, memang perlu juga mengikuti makna pepatah “Di mana bumi di pijak, di situ langit di junjung”. Atinya, kalau kita sedang berada di bagian bumi yang penuh dengan ketololan, tidak salah juga kalau kita ikuti situasi yang tolol itu. Sejenak.

Jangan pula berketerusan mengikuti situasi yang penuh ketololan. Berusahalah mencari jalan keluar. Ada banyak cara yang bisa dilakukan. Salah satunya adalah memutus silsilah yang akan memperpanjang validasi ketololan itu.

Masih kurang jelas?

Artinya, berjuanglah Anda semua secara konstitusional agar Indonesia memiliki pemimpin yang memiliki kabapibilitas dan kualitas pada tahun 2019. (*)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.