Rabu, 21 April 21

Kenali Dukun yang Mengaku Wali

Kenali Dukun yang Mengaku Wali
* Ilustrasi dukun. (Foto: Thexandria)

Asy-Syaikh Abdur Rahman bin Hasan rahimahullah berkata,

“Dan tidak diragukan lagi bahwa orang yang mengaku-ngaku sebagai wali, dan membuktikannya dengan pengabaran sebagian berita-berita ghaib, maka ia termasuk wali setan, bukan wali Ar-Rahman (Allah yang Maha Penyayang).

Sesungguhnya karomah adalah perkara yang Allah perjalankan pada diri hamba-Nya yang beriman lagi bertakwa, apakah karena doa atau amalan-amalan shalih, tidak ada campur tangan wali dalam karomah, tidak pula ada kemampuannya sedikit pun.

Berbeda dengan orang yang mengaku-ngaku sebagai wali dan berkata kepada manusia, “Ketahuilah aku dapat mengetahui hal-hal yang ghaib”.

Sesungguhnya yang demikian ini memang dapat diketahui dengan sebab yang telah kita sebutkan (yaitu bekerja sama dengan jin pencuri berita ghaib), meski itu sebab yang haram lagi dusta pada umumnya, oleh karena itu Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda tentang sifat dukun,

فَيَكْذِبُونَ مَعَهَا مِائَةَ كِذْبَةٍ

“Maka dengan bermodal satu berita yang benar (yang dicuri oleh setan dari pembicaraan malaikat), para dukun tersebut berdusta dengan seratus kedustaan.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Aisyah radhiyallahu’anha)

Maka beliau menjelaskan bahwa mereka terkadang benar sekali, dan berdusta seratus kali.

Demikianlah keadaan orang-orang yang menempuh jalan para dukun, tapi mengaku-ngaku sebagai wali dan dapat mengetahui isi hati mausia, padahal pengakuannya itu sendiri adalah dalil yang menunjukkan kedustaannya, karena mengaku-ngaku sebagai wali adalah pensucian terhadap diri sendiri yang terlarang dalam firman Allah ta’ala,

فَلا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ

“Janganlah kamu mensucikan diri-dirimu sendiri.” (An-Najm: 32)

Maka itu bukan sifat para wali, sifat para wali adalah merendah diri (tidak sombong), mengakui kekurangan diri dan takut kepada Rabb mereka,  bagaimana mungkin ada wali yang mendatangi manusia dan mengatakan, “Kenalilah kami adalah para wali, dan kami mengetahui ilmu ghaib…?!”

Hakikatnya yang mereka lakukan adalah usaha meraih kedudukan di hati-hati manusia dan mengejar dunia dengan mengaku-ngaku sebagai wali…!

Cukuplah bagimu keadaan para sahabat dan tabi’in radhiyallahu’anhum, padahal mereka adalah pemimpin para wali, apakah mereka mengaku-ngaku sebagai wali dan memiliki ilmu ghaib sedikit saja…?!

Tidak demi Allah.

• Bahkan salah seorang dari mereka tidak mampu menguasai dirinya untuk menangis ketika membaca Al-Qur’an, seperti Sahabat Abu Bakr Ash-Shiddiq radhiyallahu’anhu.

• Sahabat Umar radhiyallahu’anhu, terdengar tangisannya bergemuruh di dalam dadanya dari belakang shaf, beliau menangis dalam sholatnya.

• Dan pernah beliau membaca satu ayat dalam wirid beliau di satu malam, maka beliau menderita sakit selama beberapa malam yang membuat para sahabat menjenguk beliau.

• Sahabat Tamim Ad-Dari radhiyallahu’anhu gelisah di atas pembaringannya, beliau tidak bisa tidur kecuali sedikit karena takut neraka, maka beliau pun bangkit untuk sholat malam.

Cukuplah bagimu sifat-sifat para wali yang Allah sebutkan dalam surat Ar-Ra’du, Al-Mukminun, Al-Furqon, Adz-Dzariyyat dan Ath-Thur.

Maka orang-orang yang memiliki sifat-sifat tersebut, merekalah para wali yang sebenarnya, bukan yang mengaku-ngaku, berdusta dan meyamakan diri dengan Rabbul’alamin dalam perkara-perkara yang khusus bagi-Nya, yaitu kebesaran, keagungan dan ilmu ghaib.

Bahkan sekedar mengaku-ngaku tahu ilmu ghaib adalah kekafiran, bagaimana mungkin orang yang mengaku-ngaku tersebut menjadi wali…?!

Sungguh besar bahaya dan dahsyat ancaman yang ditimbulkan oleh para pendusta yang mewariskan ilmu-ilmu sihir dari kaum musyrikin, dengan itu mereka menipu orang-orang awam yang lemah hati. Kita memohon kepada Allah keselamatan dan ‘aafiyah di dunia dan akhirat.” [Fathul Majid: 299-300]

(Sofyanruray/Red)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.